Skip to main content

YAKIN

Hari ini, banyak tagar “yakin usaha sampai” bertebaran di media sosial. Pertanyaannya, sejauhmana keyakinan untuk sampai pada tujuan? Pada tujuan mana perjalanan ini dihadapkan? Sebesar apa usaha dalam menempuh perjalanan agar sampai pada tujuan?

Sebagai manusia biasa, kita kerap memiliki keyakinan yang bergelombang. Kadang naik, kerap turun. Apakah keyakinan itu adalah keimanan, bisa jadi seperti itu.

Keyakinan adalah sesuatu yang dinamis, tergantung praktek kehidupan kita masing-masing. Bisa jadi keyakinan naik saat kita terperosok pada palung dosa, hingga akhirnya kita bisa belajar sadar untuk kembali pada jalan yang utama. Kerapkali keyakinan kita berkurang karena persentuhan kita dengan hal-hal yang menjauhkan kita dari jalan utama.

Dalam perjalanan itu, apakah menanjak, terpeleset, terperosok, hingga masuk got, selalu ada tarikan untuk kembali ke jalan yang utama. Sebagian dari kita banyak yang baru sadar saat berada di palung dosa dan kebejatan.

Kadangpula, dalam setiap perjalanan, dihadirkan sosok-sosok yang menjadi jalan ilham agar masuk ke kalbu kita. Sosok-sosok itu adalah mereka yang tidak terkira dan tak terbayangkan dalam benak kita. Mereka adalah yang tak terhitung dalam akal kita, karena bisa jadi taraf berpikir kita yang selalu “merasa” membuat akal kita tak bisa menghitung keteguhan dan keyakinan mereka. Dari mereka itulah kita belajar akan keteguhan untuk selalu yakin dalam perjalanan hidup.

Keyakinan adalah sesuatu yang tidak monoton. Ia seperti mobil. Sesuatu yang telah ditetapkan pada diri seseorang. Bisa bergeser ke kanan, ke kiri atau bahkan diam. Untuk bisa bergerak maju, sesuatu harus mendapatkan gaya. Namun dengan kadar yang pas. Jika berlebihan maka bisa terjadi benturan, jika lambat maka waktu bisa habis dalam perjalanan, dan tak akan sampai.

Sebagai pejalan, kitw menumbuhkan keyakinan mesti dirawat, keyakinan mesti dipelajari, dan setiap pejalan harus belajar untuk yakin. Yakin bukan sebagai klaim. Yakin harus dialami, dijalani, dipahamkan pada diri. Tanpa itu, keyakinan adalah barang statis, tidak tumbuh, apalagi terawat.

Karena itu, yang perlu ditanamkan adalah menghindari sikap “merasa”. Jangan sampai, kita “merasa” telah yakin dan telah “sampai”, padahal sebenarnya kita belum beranjak.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *