Skip to main content

TUMBILOTOHE DAN PERAYAAN CAHAYA DIATAS CAHAYA

Malam ini, malam ke 27 Ramadan, sebagian besar warga Gorontalo merayakan Tumbilotohe. Tumbilotohe akan berlangsung selama tiga hari jelang Idul Fitri. Perayaan ini berlangsung selama ratusan tahun sejak Islam masuk di Gorontalo.

Tumbilotohe adalah simbol mengenai cahaya diatas cahaya. Dalam kitab Meeraji yang tiap tahun dilantunkan menjelang Ramadhan, cahaya diatas cahaya telah dibahas, didalami dan dipraktekkan sekian ratus tahun lalu oleh Ulama Gorontalo, utamanya Syekh Ali bin Abubakar Al-Hasani atau dikenal secara luas dengan nama Bapu Ju Panggola.

Tradisi ini tentu tidak asal dikreasi oleh Ulama masa lalu, pasti ada basis filosofis yang kuat yang melandasi itu. Islam diperkenalkan di Nusantara, khususnya di Gorontalo dengan cara, pola dan metode yang beragam. Agar pada intinya setiap warga bisa menerima dan mempraktekkan Islam dengan kesadaran dan pemaknaan yang lebih dalam.

Di masa kini, banyak yang kurang setuju dengan penggunaan simbol dalam praktek Islam. Logika modernitas memang mendoktrin agar semua tampak nyata, riil. Tapi, disisi lain, hampir semua yang dikonsumsi berbasis simbol. Iklan dan segala yang diperdagangkan semua simbolistik. Kita menolak Islam yang ditransfer melaui simbol-simbol tapi menerima simbol-simbol yang daya ancamnya lebih merusak.

Praktek Tumbilotohe hari ini memang mengalami pergeseran makna dari basis filosofisnya. Seiring pertumbuhan dan kemajuan, terjadi komodifikasi atas dasar efisiensi, efektifitas dan “green energy”.

Ritual Tumbilotohe disisi lain juga menjadi instrumen untuk memperkenalkan tradisi Ramadhan di Gorontalo. Banyak orang yang mudik atas dasar itu. Walaupun pada tahun ini, mudik dilarang atas dasar yang kurang bisa diterima dengan logika jernih.

Kedepan, perlu ada kembali pemaknaan yang lebih mendalam tentang apa itu Tumbilotohe, apa yang dimaksud oleh Raja Panggola dengan cahaya diatas cahaya itu, bagaimana Tumbilotohe hari ini, bagaimana mensiasati ritual dan praktek Islam yang lebih sejuk, bagaimana pula mengelola peluang dan potensi pemasukan bagi daerah, bagaimana pula menjadikan tradisi ini masuk dalam kalender wisata dan destinasi religius di Indonesia bahkan dunia, serta bagaimana mensiasati agar prinsip sustainable lebih terjaga tanpa mereduksi makna simbolistik didalamnya.

Dalam Tumbilotohe ada pelajaran mengenai praktek ilmu Sebagaimana Tumbilotohe untuk menerangi,ilmu untuk menerangi, bukan untuk menyerang.

Selamat merayakan Tumbilotohe, semoga kita senantiasa diterangi berkah atas perayaan Cahaya diatas Cahaya ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *