Skip to main content

SETELAH CEBONG DAN KAMPRET, LALU APA?

Penguman kabinet Jokowi-KMA sungguh membuat haru, tertawa, marah, kesal, dan ngambek.

Apa sebabnya? Bagi yang menganggap hal ini lucu karena tidak menduga kenapa Jokowi bisa mengakomodir Prabowo yang sudah berulang kali melawannya. Banyak yang terpingkal-pingkal dengan kejadian luar biasa ini.

Ada juga haru, karena perjumpaan keduanya dalam sebuah kabinet, dianggap sebagai persatuan untuk memperkuat keutuhan NKRI.

Kalangan yang marah lebih banyak lagi. Pendukung Prabowo (PS) menganggap dengan masuknya PS adalah sesuatu yang tidak baik, adalah “penghinaan” bagi marwah dan jati diri perlawanan terhadap Jkw. Mereka marah dengan sikap PS yang melunak, apalagi masuk Kabinet. Bagi mereka, apa gunanya melawan dan konsisten mendukung PS selama dua kali Pilpres, lalu hanya selesai dengan jatah Mentri. Kelompok itu adalah internal partai, partai pengusung, kelompok emak-emak, dan sebagian besar tim sukses PS dalam dua kali pilpres.

Pendukung Jkw yang marah tidak kalah banyak. Ada yang marah karena tidak diakomodir dalam kabinet, ada yang marah karena Jkw telah mengakomodir PS dan Gerindra, padahal PS dan Gerindan tidak berkeringat, bahkan melawan. Ada yang marah karena jatah Mentri Agama diambil oleh kalangan non NU, malah yang dapat adalah seorang Jendral. Ada kalangan digital yang marah kenapa yang jadi Menkominfo adalah yang tidak memiliki latar belakang teknologi informasi atau sebangsanya. Ada juga yang ngambek karena Susi diganti dari Mentri KKP, dan lebih marah karena diganti oleh Edhie Prabowo yang nyatanya bukan kubu Jokowi di pilpres. Ada sebagian yang marah karena Nadiem Makarim dianggap tidak punya talenta mengurus pendidikan, kenapa bukan Profesor seperti kebiasaan selama ini. Begitu juga dengan yang kesal tanpa keterwakilan Papua.

Kalangan yang ngambek pun tidak sedikit. Ada yang sudah tidak mau mengurus soal isu agama dan kebangsaan. Juga ada yang sudah menyatakan “istirahat” dari mendukung Jkw dan PS. Ada juga yang karena tidak cekatan di “tikungan” lalu mengambil posisi sebagai penyeimbang, dan ada yang memang dari awal menyatakan sebagai oposisi.

Dari beberapa pembagian “perasaan” itu, terlihat bahwa istilah cebong dan kampret tidak cukup lagi sebagai label untuk “mewadahi” kelompok-kelompok perasaan tersebut. Awalnya, perasaan dan motif hanya dibagi dua ; pendukung Jokowi (cebong) dan pendukung Prabowo (kampret).

Lalu, setelah munculnya kategori-kategori perasaan tersebut, akan dilabeli apa perasaan-perasaan itu? Sepertinya, pelabelan cebong dan kampret tidak cukup untuk “mewadahi” banyaknya kategori perasaan tersebut.

Dipaksa menerima keadaan dan fakta politik pun agak perlu waktu. Bisa jadi, akan ada pemakluman terhadap fakta politik yang sudah terjadi. Bisa pula ini akan menyatu dalam sebuah arus perasaan yang akan mencari muara untuk menumpahkan kekesalan yang akumulatif tersebut.

Kita tunggu dan simak, seperti apa ketangkasan elit politik negeri ini untuk mengelola perasaan-perasaan yang tadi diatas. Akankah ini dibiarkan saja terjadi, ataukah akan ada permufakatan yang lebih melampaui semua kondisi ini.

Mari bersama kita menunggu. Semoga tidak ada lagi “PRANK” mengejutkan di waktu berikut.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *