Skip to main content

Sekuntum Duka Untuk Palu

 

Biasanya, grup WhatsApp Alumni STM Palu selalu rame. Berbagi cerita, tertawa, dan riang selalu. Sering menjadi tempat “baku gara. Melalui grup ini, saya selalu mengingat kerinduan akan Palu, kota tempat dulu bersekolah, dan tinggal selama 3 tahun di ujung tahun 90 an.

Semenjak Jum’at sore tanggal 28 September 2018, grup alumni sekolah kami langsung sunyi. Hanya satu dua orang yang bersuara, itupun hanya untuk menanyakan kabar. Termasuk saya. Kami yang menyapa teman-teman di grup ini rata rata tinggal di luar Palu. Hingga hari ini, grup ini sunyi, redup.

Grup kecil kami yang “dihuni” lebih dari 100 orang langsung berhenti sekejap sesaat setelah gempa sebesar 7.7 SR menghantam Palu dan Donggala pada Jum’at sore di penghujung bulan September. Semua membisu. Tak ada informasi. Hingga semalam, dipastikan bahwa seluruh jaringan listrik dan komunikasi putus. Ratusan dan mungkin ribuan rumah roboh.

BNPB saat ini telah merilis jumlah korban gemba yang meninggal dunia sebanyak 1.571 jiwa. Rinciannya 144 di Donggala, 1.351 di Palu, 62 di Sigi, 12 di Moutoung, dan 1 orang di Pasang Kayu,. Salah satu yang terinformasi adalah kawan satu sekolah dulu, Bambang Supriadi, seorang polisi yang sedang bertugas di sekitaran Pantai Talise. Dia dihantam tsunami saat bertugas. Diluar itu, banyak rumah teman dan keluarga dekat yang roboh. Belum ada informasi yang utuh mengenai keadaan mereka. Pada saat yang sama, saya juga menerima informasi yang cukup menyedihkan, Asrama Gorontalo roboh, belum ada informasi mengenai keadaan warga asrama. Termasuk warga Lamahu dan KKIG Palu.

Dari pantauan di media sosial, jalan darat menuju Palu sudah lancar hingga hari ini, baik melalui Toboli-Kebun Kopi, Kasimbar Pantai Barat. Jalan darat melalui Poso-Napu-Palolo-Sigi Biromaru bisa tembus tapi masih terjadi macet panjang karena penumpukan kenderaan. Bandara Sis Aljufrie hingga kini baru bisa menerima Hercules, belum untuk pesawat komersil.

Sebagai orang yang pernah tinggal di Palu, tepatnya di Jalan Chairil Anwar No 10, “pukulan” ini cukup terasa. Banyak pengalaman mengenai Palu dalam memori saya. Banyak kisah suka dan duka namun sebagai pengalaman remaja dul. Palu sangat berbekas dalam ingatan, ia bukan saja teritori. Palu adalah sekuntum memori indah yang luar biasa. Walupun kini, Palu adalah sekuntum duka. Tapi saya yakin, Palu akan segera bangkit. Pengalaman konflik panjang masa lalu saja bisa dikelola dengan baik, termasuk gempa yang saat ini masih menggetarkan Palu.

Bencana ini adalah refleksi bersama seluruh rakyat Indonesia. Gempa Palu melatih kembali kerelawanan kita yang mulai terkoyak dan terkesan individual. Termasuk melatih keimanan bagi kita dan mereka yang terkena dampak.

Bencana Palu adalah “sekolah” dan “kursus” singkat mengenai kemanusiaan dan solidaritas bersama. Semoga kita sekalian bisa mengambil hikmah dari sekuntum duka Palu.

(Sumber Foto : google.com)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *