Skip to main content

ROCKY GERUNG

Rocky Gerung

Pagi ini, Rocky Gerung akan “show” di Gorontalo. Rocky akan membahas tema “Mahasiswa: Peran dan Ikhtiar Dalam Menjaga Stabilitas Politik Nasional” bersama Bupati Pohuwato Syarief Mbuinga dan Wakil Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu serta Kapolda Gorontalo. Rocky sepertinya dinantikan dengan penuh kerinduan di Gorontalo.

Saya sebenarnya bukan pengagum apalagi fans Rocky Gerung. Dan sebenarnya, saya sangat jarang menonton ILC, khususnya menyaksikan penampilan Rocky Gerung (Roger), apalagi menyimak potongan-potongan videonya yang tersebar di media sosial. Tapi, sejak nama Roger mencuat selama setahun terakhir ini, membuat saya mesti sedikit menyimak apa yang sedang terjadi.

Jauh sebelum ini berlangsung, nama Roger sudah saya dengar sejak akhir tahun 90 an. Roger saat itu banyak terlibat pada aktifitas kemanusiaan, hak asasi dan demokrasi. Roger ikut mendirikan Setara Intitute, Forum Demokrasi dan ikut memperkuat gerakan feminisme di Indonesia. Saya juga mengikuti tanpa absen Jurnal Perempuan, dimana Rocky adalah salah satu penulis setia di jurnal tersebut.

Pada masa-masa jelang Pemilihan Presiden lalu, nama Roger kembali berkibar dan dipertengkarkan. Roger tampil dan diberi ruang “lebih” oleh Karni Ilyas di ILC TV One. Roger dan termasuk TV One memanfaatkan ruang itu untuk melakukan manuver-manuver atas nama akal sehat dan sebagainya.

Di kalangan filsafat, apa yang Roger sampaikan adalah hal-hal yang standar. Pilihan kata, diksi hingga kalimat yang ia utarakan bukan sesuatu yang luar biasa. Itu adalah sesuatu yang normal dalam diskusi filsafat dan akademik. Namun, Roger adalah sedikit dari filsuf di Indonesia yang berani tampil untuk berada dalam posisi yang berseberangan dengan kekuasaan. Roger yang khatam soal isu kiri, Marxist dan lainnya membuat posisinya tampak lebih “seksi” di mata publik.

Pertanyaannya kenapa Roger banyak mendapat sambutan dan pujaan? Roger tahu bahwa pasca Orde Baru, minat literasi di Indonesia menurun drastis. Masyarakat Indonesia lebih suka pada “quote-quote”, video satu menit, dan potongan story di media sosial dibanding membaca buku-buku tebal karya pemikir filsafat atau ilmuwan lainnya. Roger tahu bahwa bukan saja di kalangan awam, di lingkungan akademik pun tradisi literasi dan kritis itu semakin menurun.

Bagi kalangan awam yang jauh dari tradisi itu, pasti akan terpukau dengan lontaran kata dan ujaran Roger. Semacam ada oase pemikiran baru. Padahal, apa yang Roger sampaikan adalah kepingan-kepingan pembacaan dan respon soal fenomena sosial. Roger, sebagaimana jika kita melihat karya akademik yang ia produksi, belum pada tahap menyusun konstruksi gagasan ; konseptual, sistematis, terukur, dan bisa direalisasikan. Dia jika kita simak dalam penampilan di ILC lebih pada merespon fenomena-fenomena sosial-politik yang sedang terjadi, khususnya “blunder-blunder” yang dilakukan dari pemerintah. Roger sederhananya hanya melakukan “snapshot-capture-posting”, tidak lebih dari itu. Pada level itu, publik terkesan gagap dalam merespon Roger.

KEMUNDURAN LITERASI

Fenomena Roger pada intinya adalah kemunduran literasi. Kemunduran ini berasalan dengan semakin banyak aplikasi dan variasinya yang berkembang di media sosial. Jika kita lihat data dari Indonesia Digital Landscape tahun 2018, terlihat sangat terang dari 265.4 juta penduduk Indonesia, terdapat sekitar 132 juta jiwa yang menjadi “internet users”, diantara itu ada sekitar 130 juta jiwa yang aktif di media sosial. Dari jumlah itu, rata-rata yang menggunakan internet menghabiskan lebih dari 8 jam sehari. Dari 2/3 waktu itu, lebih banyak digunakan untuk menonton Youtube, menyimak postingan di Facebook, mereview story Instagram dan WhatsApp, sehingga konversi literasi dari analog ke digital bukan membawa tradisi literasi menjadi semakin baik namun semakin rendah.

Pada riset INAP yang khusus melakukan riset mengenai literasi, peringkat literasi di Gorontalo menunjukkan hal yang mencengangkan. Pada 2016, literasi matematika siswa SD merah total. Sekitar 82,28 persen siswa SD di Gorontalo memiliki kompetensi matematika yang sangat rendah (kurang), sebesar 16.39 persen dinilai cukup dan hanya 1.33 persen yang berkategori baik. Hal ini cenderung dibawah rata-rata nasional dengan kompetensi matematika yang rendah berada pada 77.13 %, sedangkan untuk rata-rata nasional kompetensi matematika yang cukup berada pada angka 20.58 %, untuk yang baik berada pada 2.29 %. Artinya bahwa literasi matematika di Gorontalo di bawah angka nasional.

Jika kita lihat pada bagian literasi membaca, literasi membaca siswa SD di Gorontalo juga merah total. Sekitar 74.16 persen siswa SD di Gorontalo memiliki kompetensi membaca yang sangat rendah (kurang), sebesar 25.36 persen cukup dan hanya 0.48 persen yang kategori baik. Hal ini sangat jauh dibawah rata-rata nasional dengan kompetensi membaca yang rendah berada pada 46.83 %, sedangkan untuk rata-rata nasional kompetensi matematika yang cukup berada pada angka 47.11 %, untuk yang baik berada pada 6.06 %. Data ini menunjukkan bahwa kompetensi membaca di Gorontalo sangat jauh dari rata-rata angka nasional.

Yang lebih parah jika kita melihat literasi sains di Gorontalo yang terendah di Sulawesi dan terpaut 12.87 persen dari angka nasional. Di Gorontalo, literasi sains berada di level merah dengan angka 86.48 % (kurang), level biru dalam artian cukup hanya 12.6 % dan hanya 0.92 % yang baik literasi sainsnya.

Selain itu, “Rockynisasi” ini adalah kemunduran kita dalam hal merawat demokrasi. Seakan-akan Roger adalah wakil dan juru bicara publik yang berada di kubu yang berbeda dari pemerintahan. Semua keluh kesah dan kekesalan diwakilkan pada Rocky untuk menyuarakan. Padahal, soal mengkritik pemerintahan, mengawasi rezim dan melakukan perlawanan adalah tugas semua rakyat, bukan Roger saja. Yang membahayakan jika Roger telah berubah menjadi representasi sikap publik Indonesia yang kritis. Pada tahap itu, gairah kritis publik akan semakin menurun, karena menganggap ada yang telah merepresentasikan “voice” publik.

Pada titik itu, publik terjebak pada pada keindahan tutur kata Roger dalam bentuk kritik. Publik lalu kemudian secara massif lalu berebut dan waktu untuk membagikan video, menuliskan quote dalam media sosial dan banyak “perayaan” lainnya atas “lahirnya” idola baru ini.

Roger dan selanjutnya ILC akhirnya layaknya seperti sinetron yang penuh dramaturgi. Sebab, dibalik itu adalah media yang bekerja dalam skema produksi, dengan jajanan yang memanfaatkan sentinmen dan pembelahan kubu jelang Pilpres. Dalam konteks makro, Rocky dan juga ILC adalah bagian dari skema industri media yang tujuan akhirnya adalah naiknya rating dan keuntungan. Hasilnya apa, Indonesia Lawyers Club yang digagas TV One berada pada tingkat paling tinggi untuk acara Talkwshow di Indonesia, ILC memperoleh nilai 3.08 dari penilaian yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hasil yang sama juga bisa dilihat dari Program Talkshow Berita terfavorit Panasonic Gobel Awards 2018, ILC TV One berhasil mengungguli Kick Andy Metro TV, Mata Najwa Trans TV dan Rosi Kompas TV.

MERAYAKAN KRITIK

Namun, apa yang telah Rocky lakukan sendirian perlu mendapat apresiasi. Apa yang dia sampaikan soal kedunguan adalah hal yang perlu dinalar secara umum. Bahwa jika ada yang keliru dan salah terhadap pemerintahan memang mesti diawasi, dikritik dan dilawan jika memang perlu. Persoalan Rocky mendaratkan pilihan politik yang berseberangan adalah hal lumrah dalam demokrasi, perlu ada pihak yang melakukan oposisi untuk menjaga kesembangan demokrasi.

Pada suatu ketika, lalu Rocky dilapor ke Kepolisian terkait istilah fiksi yang ia lontarkan. Memang Rocky “terpeleset” soal itu, walaupun ia yakin dengan itu. Kitab suci, khususnya Al Qur’an bukan sesuatu yang fiksi, ada juga fakta-fakta lampau yang termaktub dalam kitab suci. Apalagi dalam Al Qur’an berisi ketentuan-ketentuan yang pasti untuk diyakini. Ketentuan termasuk aturan bukan sesuatu yang imajinatif, karena akan dan pasti berlaku. Dalam konteks kewaktuan memang belum terjadi, tapi fakta-fakta historis telah menjadi bagian untuk mengukuhkan ketentuan dan aturan yang berlaku di masa akan datang. Walaupun, hampir semua maklum bahwa kejadian pengucapan “fiksi” ini terjadi di waktu yang telah lama, begitu pun dengan laporan Lapian yang tertanda April 2018, namun yang uniknya pemeriksaan Roger baru dilakukan pada Februari 2019, itupun saat Roger sudah pada puncak “memekakkan” telinga.

Bagi saya pribadi, perayaan kegirangan atas “Rockynisasi” ini mesti direnungkan kembali. Roger sebagai “aktifitas politik” tidak boleh dibiarkan sendirian dan berdiri tunggal. Mesti diproduksi “Roger-roger” yang lain dan berjumlah banyak, dalam rangka menjamin keseimbangan politik di negeri ini.

Namun, agenda memproduksi jumlah intelektual kritis di Indonesia ini agak berbeda dengan apa yang disampaikan Cornelis Lay pada pidato pengukuhan dirinya menjadi Guru Besar Ilmu Politik UGM pada tanggal 6 Februari 2019, pada pidatonya ada “quote” bahwa ada jalan ketiga dimana peran intelektual adalah bersahabat dengan kekuasaan dengan syarat menjaga kewarasan dan akal sehat. Pada konteks itu saya agak berbeda, dalam kondisi yang tidak stabil, perlu juga ada barisan intelektual yang terus berada diluar pemerintahan untuk mengawasi dan melakukan kritik secara terus menerus (day to day critic). Hal tersebut seperti apa yang Roger sedang lakukan saat ini.

Sebagai penutup, merawat akal sehat bukan saja ditafsirkan dengan mengaduk adonan kebijakan bersama pemerintahan, tapi memanggang api semangat kritis juga perlu untuk terus dilakukan dan dirawat.

You may also like

One thought on “ROCKY GERUNG”

  1. Terima kasih pak Funco, uraian anda sangat ilmiah, lengkap, mudah dicerna dan adil, sehingga sangat mencerahkan. Saya lebih tertarik ttg rendahnya literasi daripada membicarakan fenomena roger. Rendahnya literasi disebabkan rendahnya motivasi ingin tau masyarakat, sehingga timbul sikap, TIDAK TAU JUGA TIDAK APA APA. Mendorong peningkatan literasi, harus didahului oleh motivasi ingin tahu yg tinggi, sebagai motor penggeraknya. Teman saya orang Jepang bercerita kepada saya, manusia yg motivasi ingin tuhunya tinggi akan jadi orang yg haus ilmu bila dalam kehidupannya ada kemampuan PROBLEM SOLVING, yg mendorong manusia tersebut lapar solusi, yg akan mendorongnya untuk MENCARI TAU secara berkelanjutan, yg akan mendorongnya banyak membaca.
    Dia juga bercerita bahwa kemampuan trampil dalam problem solving itu dapat dilatihkan pada masysrakat umum. Kesimpulan saya, usaha peningkatan kemampuan literasi, sebaiknya didahului oleh pelatihan trampil dalam problem solving, yang skema pelatihannya sangat sederhana, mudah dan murah sdh ada tersedia di masyarakat. Penggiat peningkatan literasi kita sebaiknya mempertimbangkan cerita teman saya orang Jepang seperti cerita diatas. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *