Skip to main content

PSEUDO-RAMADAN

Ramadhan tinggal 3 hari lagi. Ramadhan telah menyapa kita dengan segala perhiasannya. Bagai seorang perempuan, Ramadhan tampak anggun dan suci. Ramadhan cermin dari sebuah cahaya yang menyinari jiwa yang membutuhkan cahaya. Hanya jiwa yang suci yang dapat diterangi cahaya itu.

Dalam Ramadhan berisi deretan ritus persembahan bagi yang merasa harus menyembah. Salah satu aktifitas itu adalah puasa. Bukan saja untuk menahan haus dan lapar, tetapi lebih dari pada itu puasa untuk mengupas kerak dalam hati yang telah berkarat.

Puasa adalah aktifitas religius pada seluruh agama di dunia ini. Praktik puasa dilakukan oleh beberapa tokoh dunia di luar Islam, misalnya Mahatma Gandhi. Gandhi selalu menekankan pentingnya puasa dan doa untuk meningkatkan kehidupan spiritualnya, mempraktikkan nir-kekerasan, mengendalikan diri, mencari kebenaran dan menjumpai Tuhan (Kautsar Azhari Noer, 2008).

Bagi kita di Gorontalo, puasa Ramadhan adalah ritual yang begitu luhur. Sebelum memasuki Ramadhan, ada tradisi yimelu (mohimeluwa) artinya saling menyapa, atau mungkin saling memaafkan atas setiap kesalahan. Selain itu, ada pula ritual molihu lo limu, yakni aktifitas memandikan tubuh dengan limu tutu, dengan harapan ahali jamootola limo lo wakutu (tidak meninggalkan sholat lima waktu). Kesemuanya dimaksudkan untuk menyambut bulan yang suci, agar ritual penyucian diri semakin lancar.

Leluhur kita sengaja menciptakan ritual simbolik tersebut untuk mengingatkan setiap masa agar senantiasa menyambut Ramadhan dengan suci. Ritual diatas diciptakan bukan untuk membuat “ribet” zaman, tetapi sengaja dimaksudkan sebagai prosesi penyucian untuk mencapai langit.

Walaupun akhir-akhir ini, seiring perkembangan zaman, saling memaafkan sebelum Ramadhan dilakukan secara virtual, melalui sms, BBM, Facebook, Instagram dan WhatsApp (termasuk IG Story dan WA Story). Teknologi hadir untuk meringkas waktu dan ruang, unsur perjumpaannya (tatapan, kehangatan dan kerinduan) terasa kering dan bahkan lenyap. Belum jika kita menyaksikan deretan senyuman politisi yang banyak bertebaran di spanduk dan baliho. Bahkan beberapa masjid seperti papan iklan yang menyewakan halamannya untuk ditutupi baliho yang sifatnya bukan untuk mengucapkan selamat, tetapi mempromosikan komoditinya.

Ramadhan pun mulai digeser konteksnya, dari arena teologis menjadi arena produksi. Sebagai arena produksi, Ramadhan dapat dipahami dari dua sisi, makro dan mikro. Dari sisi makro, Ramadhan telah menjadi ajang perebutan kepentingan ekonomi dari perusahaan-perusahaan besar, media massa dan negara (elit politik) dalam rangka mengejar kepentingannya masing-masing. Perusahaan besar sangat intens menawarkan produk yang bernuansa Ramadhan. Bahwa citra yang seharusnya tercipta saat Ramadhan –versi perusahaan- adalah kemenangan dapat diraih dengan mengkonsumsi produknya. Media massa juga sangat perhatian dengan lebaran. Keuntungan finansial dari iklan perorangan atau pemerintah menjadi target utama media massa (Heru Nugroho, 2004)

Dari sisi mikro, Ramadhan telah menjadi arena perjuangan individu, keluarga, komunitas dan masyarakat untuk peneguhan eksistensi diri. Pertunjukkan pertandingan ini bukan saja terjadi melalui wacana-wacana dan simbol-simbol hegemonik yang diekspresikan dalam setiap kegiatan. Contohnya, ketika dalam sholat tarawih atau buka puasa bersama, aksesoris kehidupan pun dipertontonkan. Kita mengakui bahwa semua manusia adalah performer. Setiap orang diminta untuk bisa memainkan dan mengontrol peranan mereka sendiri. Secara sadar masyarakat menorehkan identitas baru dalam batas waktu tertentu untuk gaya pakaian, dandanan rambut, segala macam asesoris yang menempel pada pilihan-pilihan kegiatan Ramadhan yang dilalui. Belum lagi jika kita melihat ekspresi masyarakat dalam mengkonsumsi ragam kuliner yang diselenggarakan secara biner. Ramadhan pun berhasil dipreteli keanggunannya.

Ramadhan pun akhirnya melahirkan keterasingan. Sekedar penampilan semata. Hanya fashion. Hanya dominasi sosial yang terjadi. Karena dalam skema produksi, yang sah dan memiliki posisi sosial dalam industri adalah yang memiliki akses dan modal. Heru Nugroho mengatakan bahwa dalam skema produksi, yang menjadi sasaran empuk pasar adalah tubuh. Tubuh dalam hal ini akan dibagi dalam dua, yakni tubuh luar dan dalam. Tubuh luar akan ”dipaksa” mengkonsumsi segala hal yang berkaitan dengan kosmetik dan pakaian-pakaian trendy agar bisa mendapatkan status sosial dalam sebuah masyarakat. Tubuh bagian dalam akan ”dipaksa” mengkonsumsi obat-obatan, kuliner dan berbagai hal yang mesti dimasukkan ke dalam tubuh untuk mendapat ”legitimasi” untuk dikatakan ”sehat” dan bisa masuk dalam ruang masyarakat yang harus ”higienis”. (Heru Nugroho, 2004).

Ramadhan pun menjadi ruang konstruksi identitas baru manusia. Semua diarahkan pada identitas yang semu, menuju keberagamaan palsu (pseudo-religiosity) dan akhirnya mencapai Ramadhan yang semu/palsu (pseudo Ramadhan).

Sebagai penutup, sudah semestinya kita memeriksa kembali semangat Ramadhan kita. Pendapat Ibn ’Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah menjadi pas untuk kita kontekstualisasi pada keterasingan kita dalam ”Ramadhan yang materiil”. Bagi Ibn ”Arabi, puasa adalah ritual negatif yang menjadi “beban yang wajib”, yang begitu beda dengan fitrah manusia seperti makan ketika lapar, minum ketika haus, dan marah ketika dicaci-maki. Puasa mengekang fitrah manusia. Puasa adalah “beban yang diwajibkan” untuk kehidupan asketik dalam kehidupan manusia. Tanpa unsur pengorbanan kepentingan diri dan asketisisme, tidak mungkin ada kehidupan spiritual. Karena itu, Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa puasa pada hakikatnya adalah meninggalkan, bukan melakukan. (Muhammad Al Fayaddl, 2012).

Puasa adalah pengosongan diri dari sifat hewani agar diri menjadi ruang bagi berpendarnya cahaya Tuhan, sehingga yang tersisa adalah sifat insani. Orang seperti ini akan menjadi orang jujur, sabar, peduli sosial, ramah, dan toleran. Orang seperti ini tak akan melakukan penipuan dan mengambil yang bukan haknya. Orang seperti ini tak akan membiarkan orang-orang yang terpinggirkan menderita kelaparan. Orang seperti ini tak akan mencaci-maki aliran lain karena itu akan menyakiti para penganutnya (Kautsar Azhari Noer, 2008).

Karena itu, subtansi Ramadhan adalah momentum membangkitkan motivasi, semangat, sumber inspirasi dan membangunkan kembali kesadaran kritis yang mengendap dalam diri setiap umat Islam, dengan demikian kehadiran Ramadhan tersebut tidak kehilangan maknanya. Selanjutnya, bagaimana kesadaran kritis yang dibangkitkan tersebut tersebut mampu menggerakkan umat untuk melakukan perubahan radikal dalam dirinya sebelum kemudian ditularkan kedalam lingkup yang lebih luas. Kesadaran kritis yang dimaksud untuk mengentaskan ketertindasan dan melawan penindasan manusia atas manusia lainnya.

Harapan inilah yang kemudian menjadi obsesi kita dalam Ramadhan yang sedang berlangsung ini, semata-mata agar berkah Ramadhan menyebar seperti pupuk di tanah kita. Semoga di sisa Ramadhan tahun ini akan kita rampungkan dengan lebih khusyuk dan tulus, semoga kita semua diterangi cahaya Tuhan yang tak terbatas

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *