Skip to main content

PORSIDEN

Soeharto

Dalam 50 tahun terakhir, bahasa Gorontalo mengalami pergeseran yang luar biasa. Mulai ada pencampuran dengan bahasa Manado, bahasa Indonesia dan juga Melayu.

Dalam dialek Gorontalo-Melayu, banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sering huruf “e” diganti dengan “o”. Contohnya adalah pengucapan kata “sebelas” menjadi “soblas”.

Ada pula dalam percampuran bahasa Gorontalo dan bahasa Manado-Indonesia seperti “Nde kiapa ngana lohuto? (Mengapa engkau mau?). Atau “Tio staw moingo” (Dia mungkin marah.). Yang lain seperti “Tio lomanyanyi to panggung dua kali” (Dia menyanyi di panggung dua kali).

Begitu juga dengan kata Presiden yang dalam dialek orang Gorontalo biasa menjadi “Porsiden”.

Kalau digunakan dalam kalimat sehari-hari “Debo so ta lantik tadi ti Porsiden ini?”(Apakah Presiden sudah dilantik tadi?).

Atau yang sering kita dengar di kampung-kampung ; “Ma tita ti Porsiden Suharto masatiya botiye? (Siapa yang menjabat sebagai Presiden Soeharto saat ini?). Ada juga “Malali Porsiden Suharto ti Pak Habibie?” (Sudah menjadi Presiden Soeharto Pak Habibie saat ini?).

Di Gorontalo, hingga pada beberapa waktu setelah Orde Baru berakhir, masih banyak warga yang tahu bahwa “Porsiden” itu adalah Soeharto, dan penggunaan kata Porsiden selalu ditambahkan kata Soeharto. Walaupun periode Soeharto hanya sampai tahun 1998.

Memori soal Porsiden bagi warga Gorontalo cukup unik. Begitu juga soal Menteri yang disebut dengan Mandili. Selain bisa diartikan Menteri, bisa juga diartikan Mantri untuk kesehatan.

Kedepan, entah seperti apa lagi pergeseran bahasa yang terjadi di Gorontalo. Tetapi yang pasti bahwa jumlah pengguna bahasa Gorontalo semakin lama semakin kurang, apalagi di kalangan milenial.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *