Skip to main content

Politik dan Kaum Milenial Gorontalo

Sampai hari ini, baru 3 partai politik yang serius menggarap (secara terstruktur dan massif) kaum milenial yang jumlahnya sekitar 30-40 % dari total pemilih di Gorontalo.

Partai Golkar (melalui Beringin Muda, AMPG dan AMPI), Partai Nasdem (Garda Pemuda Nasdem) dan Partai Gerindra (TIDAR dan Elnino Centre) adalah tiga partai yang cukup serius “menggarap” kaum milenial untuk menuju Pemilu 2019.

Namun, sebagai catatan, kaum milenial masih diperlakukan oleh 3 Partai Politik ini sebatas elektoral, obyek dan “garapan”. Masih pada batas itu. Padahal, yang disebut sebagai potensi, tidak boleh diperlakukan sebagai pemilih saja, mesti lebih daripada itu.

Kebutuhan perubahan sosial di Gorontalo mensyaratkan keterwakilan kaum milenial bukan sekedar sebagai pemilih semata, tapi sebagai aktor perubahan itu sendiri.

Karena itu, perlu sesegera mungkin men-setup kembali agenda “menggarap” menjadi agenda yang lebih partisipatif.

Sehingga perlu ada kembali untuk segera mungkin merumuskan siapa yang bisa membawa ‘pemuda’ untuk bisa lebih berperan dan juga diberi peran, bahkan merebut peran.

Saya melihat ada beberapa hal yang perlu diseriusi dalam konteks milenial Gorontalo hari ini;

Pertama, kita menghadapi kemungkinan bonus demografi di 10-15 tahun akan datang, kondisi kaum muda yang ‘visinya’ berantakan perlu untuk disimulasi dan diberi arah. Kesiapan kaum muda yg memiliki kapasitas pengetahuan dan keterampilan tinggi menjadi prasyarat untuk bisa survive di 10-15 tahun akan datang.

Kedua, ruang ekonomi kreatif yang selama ini ‘kosong’ sudah mesti diisi dan diwarnai. Ketiga, ruang politik yang sesak mesti diwarnai dengan visi yang ‘high politics’, bukan lagi untuk sekedar arena kontentasi perebutan resources.

Keempat, ruang kultural yang selama ini terbiarkan dan terkesan dijauhi kaum muda, mendesak untuk mem-framing kembali gerakan kultural yang lebih holistik. Perilaku konsumsi kaum muda sudah berada di ambang krisis. Belum lagi dengan mentalitas dan etika yang mulai keropos oleh tantangan zaman.

Kelima, isu regional yang selama ini diabaikan perlu untuk dirambah, posisi geopolitik Gorontalo di kawasan Tomini, Asean serta Asia Pasifik yang bisa kita sebut sebagai kawasan Indonesia Utara, adalah kawasan strategis untuk dikerangkai dan dikelola.

Keenam, isu gerakan sosial kaum muda yang selama beberapa kepemimpinan terakhir terkesan pasif. Genting untuk menyegerakan agenda gerakan sosial sebagai medium untuk advokasi dan partisipasi kaum muda.

Ketujuh, naiknya angka kaum muda yang terlibat di social media mesti dikelola untuk memperkuat agenda gerakan sosial baru untuk meningkatkan partisipasi politik kaum muda. Kesadaran sebagai masyarakat sipil yang rendah (hasil riset Indonesia Governance Index tahun 2014) perlu diseriusi, ini poin yang kritis di saat keterlibatan kaum muda sebagai warga negara semakin turun. Kita memiliki indeks persepsi korupsi yang kurang bagus. Partisipasi kaum muda yg aktif melawan korupsi termasuk rendah. Agenda penguatan integritas kaum muda perlu diseriusi.

Poin-poin diatas menurut saya perlu direnungkan di momentum Hari Sumpah Pemuda, dan mesti dirumuskan lebih detail sebagai agenda kepemudaan yang mendesak.

Selamat Hari Sumpah Pemuda yang ke 90. Semoga kita sekalian beroleh berkah

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *