Skip to main content

POLEMIK AZAN, MENTERI AGAMA DAN PENGINGAT DIRI

Ma bangu-bangu to tihi, mota potabiyalo (azan sudah terdengar dari masjid, ayo segera sholat). Mahe banguwaliyo, ma lohori uwito. (Sudah mulai azan di masjid, sudah masuk waktu zuhur). anguwa lomola, ma asari uwito (Silahkan azan, sudah waktu sholat ashar itu). De ma wau ta mobangu (Nanti aku saja yang azan).

Begitu kira-kira diskusi orang Gorontalo terkait adzan.

Dulu, saat masih sekolah di SDN 1 Luwoo, Telaga, saya pernah menjuarai lomba azan di Masjid Al-Musyawarah. Sekaligus menjuarai lomba pasang sarung. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan saat bulan Ramadan.

Ikut lomba azan harus dengan persiapan panjang. Ayah saya biasa melatih olah vokal di rumah, Ibu mempersiapkan “kondisi”, istilah untuk makanan dan minuman untuk mendukung stamina sekaligus merawat pita suara. Kedua orang tua saya yang sudah almarhum sewaktu muda memiliki pengalaman lomba keroncong tingkat kecamatan. Sampai jika saya tidur siang, lagu yang sering dinyanyikan adalah lagu keroncong. Hal yang tidak bisa saya ulangi pada Hasan, Zahra dan Zaenal saat ini karena saya lebih suka lagu dari Dewa 19, Cintakan Membawamu Kembali Kesini serta lagu-lagu lainnya.

Di Luwoo, saya menjalani masa kanak-kanak yang bahagia, tiap waktu sholat kami mendengar azan dari TOA yang menggema ke seluruh penjuru kampung. Dari yang melantunkan azan di Masjid Baitur Ridha, ada beberapa yang suaranya merdu, ada juga yang pas-pasan. Tapi, jangan salah, di kampung kami, ada beberapa orang yang suaranya bagus karena pernah ikut lomba tilawatil Qur’an, tapi mereka bukan pelantun azan.

Walaupun ada yang suara pas-pasan saat melantunkan azan, tapi kami sadar bahwa melantunkan azan bukan soal kemerduan suara, ini soal konsistensi seumur hidup. Dia harus berada di masjid sebelum masuk waktu sholat. Apalagi jika masjid tidak ada petugas kebersihan. Ia harus memulai dengan menimba air untuk mengisi bak air tempat wudhu, sekaligus mengatur tikar dan menyapu masjid.

Zaman itu, TOA dari masjid pun beda-beda kualitasnya. Kalau agak berumur, lantunan azan pasti agak kresek-kresek. Apalagi ditambah dengan nada suara pelantun yang pas-pasan. Memang membuat telinga agak kurang nyaman. Tapi semua warga menghargai dan menghormati itu, sebab itu panggilan yang mau tidak mau semua warga harus menghentikan aktifitasnya.

Setelah saya pindah di Palu, masjid yang dekat rumah ada dua, masjid Polres Palu dan Masjid Muhammadiyah. Dua-duanya didukung TOA yang kualitas bagus dengan pelantun yang merdu. Sangat membahagiakan kala mendengarnya.

Saat kuliah di Jogjakarta, masjid di dekat Asrama Gorontalo adalah Masjid Al-Muhibbah, ada juga masjid yang saya lupa namanya karena agak jauh dari Asrama. Di masjid kedua ini, sering azan dilantunkan dengan langgam Jawa. Sangat merdu. Azan yang paling saya nikmati lain adalah azan dari Masjid Kampus UGM. Betul-betul keren. Syahdu.

Pernah pula saya sama sekali tidak pernah mendengar azan saat berada di Sanur, Bali. Tidak ada masjid dekat hotel yang saya tinggali. Terpaksa mengandalkan aplikasi Muslim Pro yang ada di handhphone android untuk mengingatkan waktu sholat.

Dalam beberapa hari terakhir, polemik Azan sempat memanas. Pokok persoalan berasal dari ucapan Menteri Agama. Bagi beberapa orang, hal tersebut masuk kategori penistaan. Ada pula sebagian kalangan yang mendukung karena konteks Menteri Agama adalah terkait pada volume dari pengeras suara.

Saling silang pendapat saya kira hal lumrah, anggap saja sebagai dinamika keumatan yang harus dicari hikmahnya. Harus ada pelajaran yang dipetik, bagi yang memarahi ucapan Menag maupun yang mendukungnya.

Saya kira hikmahnya ada beberapa ; (1). Kualitas azan harus kita atur sedemikian rupa, harus berkualitas. Ini azan, isinya nama Allah dan Rasul. Ini pesan ruhani yang wajib berkualitas untuk diperdengarkan. Kementerian Agama, Pemerintah Daerah hingga Pemerintah Desa mesti menyeriusi ini, agar azan tidak sekedar lewat begitu saja. Azan harus syahdu, dan yang mendengarpun jadi takzim. (2). Infrastruktur masjid yang selama ini terbatas dan bahkan sangat minimal pada beberapa masjid mesti diseriusi untuk diperbaiki, ini soal harga diri umat. Kekompakaan warga sekitar masjid dalam memperbaiki ini mesti dibangun kembali. Pengelolaan keuangan masjid pun harus ditata agar manajemen masjid semakin baik, pola modern sudah harus diterapkan. (3). Paling pokok dari polemik ini saya kira untuk mengingatkan kita semua terkait azan. Apakah substansi yang diperdebatkan hanya sebatas “azan sebagai suara” atau azan sebagai panggilan sholat.

Saya kira, dibalik ini semua, ada kuasaNya yang “meminjam” dan “menggerakkan” mulut Menteri Agama dengan topik ini agar menjadi pengingat sekaligus penanda bagi kita sekalian, apakah menjadikan azan hanya sebagai polemik hingga kita terpecah-belah atau menjadikan momentum ini sebagai pengingat diri, yakni seberapa banyak sholat yang telah kita tinggalkan selama ini.

Apalagi saat ini bulan Rajab, bulan Isra’ Mi’raj, bulan dimana perintah sholat turun. Maka momentum ini menjadi penting bagi kita sekalian, untuk mempertegas kembali ketakwaan kita semua.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *