Skip to main content

PERNIKAHAN

Sepanjang sejarah, Soekarno memiliki sembilan istri. Dua diantaranya dari Sulawesi Utara yakni Yurike Sanger dan Kartini Manoppo dari Sulawesi Utara. Semasa menjabat, Soekarno banyak melakukan perjalanan, di sela-sela perjalanan itulah kisah asmara Soekarno juga tumbuh.

Sebagai seseorang yang menjabat sebagai Presiden, berwajah ganteng dan memiliki pembawaaan karismatik yang kuat, Soekarno menjadi pujaan banyak wanita.

Terkait Gorontalo, Soekarno menginjakkan kakinya di jazirah ini dua kali, pada tahun 1950 dan 1956. Dua kali kedatangannya tidak lain karena untuk menyatukan Indonesia pasca kemerdekaan. Selama perjalanannya di Gorontalo, Soekarno didampingi selalu oleh Nani Wartabone.

Mungkin, jika pada saat itu, Soekarno “ditakdirkan” dengan salah satu putri Gorontalo, tentu sejarah Gorontalo akan memiliki dinamika yang semakin berwarna pada masa itu. Dan tarikannya mungkin hingga masa kini.

Pernikahan, dalam sejarahnya, selain untuk menyambung ikatan kekeluargaan juga untuk memperkuat jejaring politik, ekonomi dan sosial-budaya.

Di era nusantara saat masih berdiri banyak kerajaan, pernikahan raja dengan putri-putri raja atau bangsawan di kerajaan lawan maupun daerah yang hendak dikuasai, sangatlah intens. Pernikahan dalam konteks itu adalah untuk memperkuat basis politik dan ekonomi serta pertahanan-keamanan wilayah.

Dalam banyak narasi sejarah lain, dakwah dan syiar Islam juga banyak berkembang karena ikatan pernikahan. Salah satu contoh adalah pernikan Raja Gorontalo Amai dan putri dari kerajaan Palasa, Owutango. Selain untuk mengembangkan syiar Islam, pernikahan keduanya adalah untuk memperkuat pertahanan-keamanan di kawasan Teluk Tomini.

Contoh lain adalah pernikahan Sultan Kubu I Syarif Idrus Alaydrus dengan putri Raja Mempawah, pernikahan ini adalah bagian untuk penguatan syiar Islam di Kalimantan. Hingga putra dari Syarif Idrus juga menikahi putri dari Sultan Pontianak. Salah satu turunanan Sultan Kubu yang juga Sultan Kerajaan Sabamban, Syarif Ali Alaydrus, juga melakukan pernikahan dengan putri dari Kerajaan Bone, Sulawesi Selatan.

Di era Majapahit, pernikahan antar kerajaan juga banyak terjadi. Salah satunya pernikahan Raden Wijaya atau Nararrya Sangramawijaya, yang juga pendiri Majapahit. Raden Wijaya menikahi putri Kartanagara. Pernikahan ini tidak lain adalah untuk mengambil sisa aura politis kerajaan Singosari. Raden Wijaya juga menikahi Dara Petak atau Sri Indresywari, putri Srimat Tribhuwanaraja Mauliawarmadewa dari Kerajaan Dharmasraya.

Dharmasraya adalah salah satu kerajaan Melayu yang besar di Sumatera. Pernikahan itu dimaksudkan untuk memperluas kekuasaan Majapahit di Sumatera dan memberi hati kepada orang Melayu, setelah kerajaan Sriwijaya melemah.

Dalam pengembangan dakwah Islam di Sulawesi, pada setahun setelah tiba di Palu sekitar tahun 1931, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang dikenal dengan Guru Tua, menikahi putri bangsawan Kaili yakni Intje Ami Dg. Sute. Dari pernikahan ini, bangsawan Kaili sebagai penduduk asli Sulawesi Tengah bisa menerima dan bahkan memperkuat pengembangan dakwah Al Khaerat, yang hingga kini menjadi lembaga pendidikan Islam terbesar di Indonesia Timur.

Muasal soal pernikahan diawali oleh pernikahan Nabi Adam dan Hawa. Keunikan dan keharuan dalam pernikahan ini salah soal maharnya. Pada kala itu, mahar yang diperintahkanNya adalah bershalawat sepuluh kali pada Nabi Muhammad SAAW, padahal saat itu Nabi belum lahir. Pernikahan itu yang kemudian menjadi awal dari pernikahan di muka bumi hingga sekarang.

Jared Diamond, penulis Guns, Germs and Steel, mengingatkan juga soal pernikahan. Bahwa pernikahan itu adalah sumbu dari peradaban. Dalam sejarahnya menurut Jared, pernikahan itu mesti dilandasi ketertarikan seksual, kesepakatan mengenai uang, disiplin anak, agama, besan dan ipar, serta masalah-masalah vital lainnya. Kegagalan dalam satu aspek saja bisa menghancurkan kehidupan pernikahan.

Hukum pernikahan ini berlaku untuk hukum peradaban. Jika salah satu dari faktor dalam peradaban ada yang melemah, maka akan digantikan oleh peradaban yang lain.

Jadi, pembentukan peradaban maupun pelemahan peradaban salah satu titik dan faktor kritisnya ada pada pernikahan. Sejarah telah tertulis dengan tinta emas bagi pernikahan yang memperkuat peradaban, dengan memperhatikan faktor-faktor kunci. Banyak pula peradaban yang tidak berlangsung lama dan mencetak kesuksesan emas tatkala pernikahan tidak dijadikan instrumen penting untuk penguatan dan pengembangan peradaban tersebut.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *