Skip to main content

PAWANG HUJAN, PRAKTEK ILMU DAN KEBHINEKAAN INDONESIA

Pernah pada momentum pilkada di salah satu Kabupaten di Gorontalo, saya kebetulan diminta mendampingi pemenangan kandidat Bupati. Saat masa kampanye, sempat ada isu saling ganggu antar kandidat. Salah satu bentuk saling ganggu adalah memindahkan hujan ke lokasi kampanye lawan. Beberapa kali, kampanye yang dilakukan oleh kandidat yang saya dampingi memang selalu hujan, dan lokasi kampanye kandidat lain tidak pernah hujan, padahal berdekatan.

Padahal dalam pemenangan kandidat, kami merumuskan strategi berdasarkan perhitungan matematis, antara lain survey dan simulasi-simulasi matematis yang itu murni scientific. Kala itu, saya sangat berpegang teguh pada rasionalitas yang saya yakini cukup kuat, bahwa untuk memenangkan pilkada mesti scientific.

Tapi, kenyataan di lapangan berbeda, ada hal yang kami tak bisa hitung secara matematis, yakni hujan yang mendera lokasi kampanye kandidat yang kami dampingi. Hingga mau tidak mau, kami memutuskan untuk menggunakan jasa pawang hujan untuk bisa memindahkan hujan.

Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana awan hitam diatas lokasi kampanye kami bisa pindah ke lokasi kampanye lawan.

Pawang hujan yang kami undang memang memerlukan alat dan bahan yang sangat banyak. Hingga dia butuh ritual khusus untuk itu. Proses untuk memindahkan hujan perlu waktu dan bahan yang tidak sedikit.

Memori ini bersambung saat saya menonton ulang-ulang bagaimana aksi pawang hujan di Mandalika. Dari proses yang dia lakukan, rupanya berbeda dengan praktek yang selama ini berlangsung.

Pawang hujan di Mandalika disorot kamera, dengan peralatan dan bahan yang lumayan banyak, bahkan dia harus melakukan ritual yang cukup panjang. Ritual yang dia lakukan sebenarnya sangat tidak umum, sebab yang dia lakukan sudah tidak murni layaknya pawang hujan pada umumnya. Praktek dia dominan pada “reality show”, ada dramaturgi dibalik itu. Tujuannya pun sederhana ; ekonomi-politik media.

Tapi, harus diakui bahwa praktik pawang hujan di Indonesia bukanlah praktek yang baru terjadi. Ini sudah dilakukan dan diuji secara berulang-ulang selama ratusan tahun.

Mereka bisa disebut sebagai komunikator alam. Sebagai yang memediasi itu, tentu banyak kajian ilmu yang mereka lalui dengan cara yang tidak mudah. Biasanya, mereka menerima ilmu ini dari gurunya. Gurunya pun tidak sembarangan menyerahkan atau mengamanahkan ilmu ini, dia melihat dasar dari orang yang dia serahkan, tentu dengan berbagai macam syarat dan ketentuan. Ada juga yang harus bersemedi di lokasi-lokasi mistis tertentu, dengan ritual panjang.

Dari berbagai macam ilmu pawang hujan yang pernah saya saksikan, ada yang prakteknya membutuhkan alat dan bahan yang tidak sedikit, ada pula yang harus dengan ritual panjang, bahkan ada yang prakteknya diluar kaidah umum seperti menggunakan pakaian dalam dan sebagainya.

Tapi ada pula praktek memindahkan hujan yang pernah saya saksikan seorang teman yang mendapat ilmu terkait ini, prosesnya hanya dengan alat dan bahan yang sederhana, itupun hanya memakan waktu sekitar 2 menit, dengan bacaan yang sederhana, tapi kalau saya dengar langsung dari yang menerima itu, hanya melakukan tawassul dengan mengirimkan Al Fatehah kepada yang dianggap memiliki wasilah untuk bisa memindahkan hujan. Prakteknya ringkas, alat dan bahan sederhana. Tidak seribet dan seheboh apa yang dilakukan di Mandalika.

Saya bahkan menyaksikan bagaimana hujan yang sementara berlangsung reda hingga berhenti, tapi hujan masih terus turun di daerah sekitar. Kejadian ini sesaat sebelum melalukan pemotongan hewan Qurban saat Hari Idul Adha. Berikutnya, bahkan dia bisa membantu kelancaran proses pernikahan salah seorang kawan di Manado dua bulan silam. Teman yang mau melangsungkan resepsi di Manado gusar karena acara resepsi mau dimulai Manado diguyur hujan dari sore. Dia pun meminta bantuan untuk bisa menunda hujan, dan upayanya pun berhasil. Dari Gorontalo yang jaraknya kurang lebih 400 kilometer, bisa membantu meredakan hujan hingga berhenti. Teman yang menceritakan itu kepada saya berharap agar kalau bisa hujan bisa reda sebelum acara resepsi dimulai hingga saat makan malam, dia pikir yang penting orang sudah bisa datang saat acara mau dimulai, soal hujan turun saat resepsi berlangsung, itu soal lain katanya. Dan proses itupun seperti yang dia harapkan.

Teman saya ini menceritakan jika ilmu ini diijazahkan, bacaannya pun adalah Tawassul, apa yang sering dipraktekkan oleh kalangan Nahdlatul Ulama pada umumnya, tapi karena ijazah ini terbatas, maka tujuan Tawassul pun hanya dia dan beberapa orang yang diijazahkan yang tahu. Artinya, ini bukan ijazah umum sebagaimana ijazah yang sering didengar dan dipraktekkan secara umum lainnya.

Dalam praktek keseharian di lingkungan NU, Tawassul adalah hal yang biasa dilakukan, ujung-ujungnya pasti ke Nabi Muhammad SAAW. Demikian pula ijazah, ijazah amaliah biasanya ada yang umum, ada pula yang khusus.

Tentu, dalam mempraktikkan itu, khususnya di kalangan NU, biasanya dalam pengawasan Guru yang memberi ijazah tersebut. Guru tersebut tidak bisa sembarangan, syarat utamanya harus memiliki sanad (silsilah keilmuan) yang bersambung dari Guru ke Guru hingga Nabi Muhammad SAAW. Sang Guru tentu tidak sekedar menyampaikan bahwa dia punya sanad, tapi minimal ada catatan sambungan silsilah ilmu yang sudah diverifikasi secara ketat sehingga tidak asal klaim. Dan secara khusus, Guru tersebut selain memiliki sanad ilmu yang tersambung, tapi juga memiliki silsilah nasab (garis darah) yang juga tersambung. Terkait nasab, hal ini juga tidak sekedar klaim, tapi melalui pembuktian dan verifikasi sangat ketat.

Di Indonesia, khusunya di NU sendiri, terkait dengan sanad ilmu, ada lembaga yang melalukan verifikasi sekaligus mengesahkan yakni Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) yang diketuai oleh Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, sedangkan untuk nasab (garis darah) ada lembaga khusus yang melakukan pencatatan, statistik, verifikasi sekaligus mengukuhkan nasab yakni Maktab Daimi – Rabithah Alawiyah yang diketuai Habib Ahmad bin Muhammad Alatas.

Jadi, terkait dengan praktek memindahkan dan menunda hujan, ada yang ilmunya didapatkan secara umum tanpa guru, ada pula yang mendapatkan melalui guru yang tidak memiliki sanad apalagi nasab, ada yang mendapatkan ilmu dengan sanad yang jelas, serta ada pula yang didapatkan melalui Guru, yang Gurunya memiliki sanad dan nasab yang telah terverifikasi secara ketat.

Sehingga, pada “reality show” seperti yang dilakukan di Mandalika, tidak semestinya kita lihat praktek memindahkan dan menunda hujan semuanya sama, tapi harus dilihat dari banyak perspektif khususnya apakah ilmunya didapatkan melalui silsilah keilmuan yang terverifikasi secara ketat melalui Guru dengan nasab yang juga terverifikasi, atau tidak.

Dari prakteknya, jika kita dalami masing-masing, pasti akan bisa dibedakan mana praktek yang tanpa sanad dan nasab, dan mana yang ada sanad dan nasab.

Tentunya, bagi kalangan NU, hikmah dari “reality show” di Mandalika adalah bagaimana kita mencari dan mendapatkan ilmu dari Guru yang ilmunya memiliki sanad jelas, apalagi jika ditambah dengan nasab Guru yang jelas.

Bagi diluar itu, tentu kita menganggap itu sebagai sebagai praktek kebhinekaan yang bisa menjadi warna dari Indonesia, yang memiliki banyak keanekaragaman budaya yang sudah turun temurun sudah dipraktekkan di Indonesia.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *