Skip to main content

NISA SABYAN DAN REVOLUSI YOUTUBE

Nisa Sabyan yang kini menghibur masyarakat Gorontalo dalam rangka HUT ke 18 Provinsi Gorontalo adalah artis yang menjadi idola publik. Nisa Sabyan bukanlah artis yang lahir dari kompetisi seperti Indonesia Voice, Dangdut Academy dan banyak kompetisi lainnya.

Nisa Sabyan yang populer dengan Deen Assalam adalah artis yang lahir dari Youtube. Deen Assalam adalah lagu populer yang awalnya dimulai oleh Suleman al Mughni. Popularitas Deen Assalam ini semakin memuncak sejak dinyanyikan kembali oleh Sabyan, salah satu grup musik Indonesia. Sebelum itu sempat dinyanyikan oleh Vira Choliq, Bella Almira bahkan Via Vallen. Rata-rata penontonnya diatas 1 juta orang.

Penyebaran Deen Assalam ini lebih banyak di Youtube, bukan televisi. Deen Assalam yang dinyanyikan oleh Sabyan di Youtube kini ditonton sekitar lebih dari 170 juta jiwa. Setelah heboh di Youtube, barulah televisi menyiarkan berulang-ulang.

Sabyan lalu mengeluarkan album yang dilepas di Youtube dengan lagu seperti Ya Maulana dengan 190 juta views, Ya Asyiqol 150 juta views, dan terbanyak Ya Habibal Qolbi 260 juta views. Lagu-lagu ini lebih banyak dibagikan melalui media sosial lain seperti Facebook, Instagram, WhatsApp dan lainnya.

Fenomena viralnya Sabyan di Youtube dan media sosial lainnya bisa menjadi alarm bagi televisi. Sebab, kecenderungan masyarakat sekarang jika merunut data yang dirilis oleh Indonesia Digital Landscape tahun 2018 bahwa pengguna internet saat ini sejumlah 132.7 juta jiwa, diantara itu ada 130 juta jiwa yang aktif di sosial media. Sejak tahun 2017, ada pertumbuhan sejumlah 23 % yang aktif di media sosial.

Data pengguna di Indonesia tersebut ditambah lagi dengan jumlah waktu yang digunakan untuk mengakses sosial media sebanyak 8 jam 51 menit setiap hari. Artinya bahwa netizen Indonesia menggunakan sepertiga waktunya per hari untuk berselancar di internet. Adapun netizen yang menghabiskan waktu 8 jam 51 menit per hari itu ada sekitar 79 % dari total netizen.

Data Indonesia Digital Landscape ini akan lebih mengejutkan ketika Youtube berada di peringkat teratas sosial media yang diakses netizen. Dari total sosial media yang diakses, Youtube diakses 43 % dibanding Facebook yang hanya 41 %. Dari data ini terlihat jelas, kenapa Deen Assalam menjadi viral dalam waktu yang sangat singkat, bahkan mengalahkan artis yang sudah “punya nama”.

Bertenggernya Youtube di peringkat atas sosial media Indonesia tentu akan berdampak pada menurunnya jumlah penonton televisi. Menurut Veronica Utami, Head of Marketing Google Indonesia, statistik YouTube menunjukkan peningkatan signifikan jumlah video yang diunggah oleh pengguna YouTube asal Indonesia naik sebesar 600 persen di setiap tahun, pertumbuhan ini diakui terbesar di kawasan Asia Pasifik (Kompas, Februari 2018)

Menurut data yang dirilis APJII (Asosiasi Jasa Penyelenggaraan Internet Indonesia), netizen di Indonesia berada lebih besar di kelompok usia 19-34 tahun (49,52%), 29,55 % pada kelompok usia 35-54, kelompok usia 13-18 tahun (16,68%), dan pengguna dengan usia di atas 54 tahun (4,24%).(Katadata.id, Februari 2018)

Dalam konteks lokal, anak-anak saya lebih senang menonton di Youtube dibandingkan menonton televisi. Jika saya amati, anak-anak lebih suka media yang mereka bisa “atur” dibandingkan di hadapan televisi mereka menjadi “silent majority”. Youtube lebih fleksibel jika untuk itu, pengguna bisa sekehendaknya untuk memindahkan channel atau pindah ke tontonan (video) berikutnya, dengan video yang miliaran jumlahnya. Belum lagi jika Youtube bisa ditonton dari mana saja, sambil berbaring, nongkrong tanpa dibatasi waktu dan ruang.

Revolusi Youtube ini akan semakin meningkat karena konten-kontennya berasal dari user dan tidak terbatas pada usia manapun dan dari gadget manapun. Di Youtube pun, seseorang bisa menghasilkan uang hingga miliaran rupiah per tahun. Hal itu tergantung pada jumlah subscribe di channels Youtube dan jumlah orang yang menonton video di Youtube tersebut.

Seperti revolusi lainnya, tantangan kedepan adalah bagaimana memproduksi konten yang positif, dalam artian mendidik dan mencerahkan. Apalagi jika kita memasuki era menjamurnya hoax (berita bohong) di sosial media. Maka, setiap user yang mengupload video di Youtube dituntut memiliki standar kompetensi literasi yang kuat, sebab persentase kelompok usia muda sangat tinggi bergantung pada konten di Youtube. Selain itu, akan menjadi urgen bagi pemerintah untuk men-setup kembali program kehumasan yang selama ini masih berkutat pada media konvensional untuk segera beralih ke media sosial, khususnya Youtube, agar penyebaran informasi pemerintah bisa terdistribusi secara cepat, asalkan dengan konten yang kreatif. Begitu pula untuk tokoh agama yang selama ini masih berada di zona “manual” untuk bisa menambah jumlah channels, tidak saja di pengajian maupun di takziah, tetapi juga di channel sosial media, kepentingannya agar paparan isu radikalisme di sosial media dapat diimbangi dengan konten yang lebih sejuk dan moderat.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *