Skip to main content

MISALKAN LAKSAMANA CHENG HO SINGGAH DI GORONTALO

Pada sore yang teduh itu, di Nanjing yang juga Ibukota Tiongkok di era Dinasti Ming. Tepatnya 11 Juli 1405. Seorang pria mengangkat tangannya, tanda bahwa perjalanan panjang akan dimulai.

Ia adalah Ma He, seorang pemuda kelahiran Yunnan pada 1371. Sebelum ia memimpin armada terbesar di dunia kala itu, ia adalah seorang Kasim kerajaan. Sebagaimana kasim pada umumnya, mereka dipotong alat vitalnya sebagai teror agar tunduk pada negara. Ma He adalah salah satu anak yang dikebiri. Dalam perkembangannya, Ma Ho tampil seperti raksasa dengan tinggi lebih dari dua meter yang mungkin disebabkan defisiensi hormon lelaki akibat emaskulasi.

Ma He adalah nama kecilnya. Kata Ma menunjukkan identitas Muslim. Sebab, itulah pelafalan Cina untuk menyebut Nabi Muhammad. Ma He berasal dari keturunan ningrat Muslim asal suku Hui. Hui adalah komunitas Muslim campuran Mongol-Turki. Kakeknya, Char Midina, dan ayahnya, Milijin, merupakan tokoh yang dihormati masyarakat setempat. Usai beribadah haji ke Makkah, masing-masing bergelar Haji Ma.

Namanya berganti menjadi Cheng Ho dia dipercaya oleh Kaisar untuk memimpin armada. Laksamana Cheng Ho memimpin armada laut yang terdiri atas 300 kapal dan 28 ribu kelasi, jauh lebih besar dari kepunyaan Columbus, yang pada 1492 hanya membawa tiga bahtera: Nina, Pinta, dan Santa Maria.

Jumlah armada Laksamana Cheng Ho saat itu hampir separuh dari total armada laut yang dimiliki Cina per tahun 2020 yakni 700 an kapal laut.

Laksamana Cheng Ho dengan armadanya mengarungi berbagai benua, samudera dan lautan hingga bisa menjejaki lebih dari 30 negara. Ia melintasi benua Asia, Afrika dan bahkan disebut-sebut ia mendahului jejak Colombus di benua Amerika.

Sebagai seorang Muslim yang taat, Laksamana Cheng Ho juga menjadi penyebar Islam di negara-negara yang ia kunjungi. Salah satunya di Indonesia.

Di nusantara, ia menyambangi beberapa daerah dan disambut oleh tokoh-tokoh Muslim saat itu seperti Maulana Malik Ibrahim atau yang dikenal dengan Sunan Gresik.

Laksamana Cheng Ho banyak melakukan mengunjungi nusantara sejak perjalanan awal di tahun 1405 hingga 1433. Ia mengitari Jawa dan Sumatera kala itu.

Seandainya Laksamana Cheng Ho ke Sulawesi dan khususnya Gorontalo kala ia mengelingi nusantara, mungkin saja Gorontalo akan Islam sebelum tahun 1525.

Islam di Gorontalo baru menjadi agama resmi kerajaan nanti tahun 1525 sedangkan Laksamana Cheng Ho datang 100 tahun sebelumnya di nusantara.

Tapi, bagaimanapun, Laksamana Cheng Ho luar biasa. Di tengah pemerintahan yang bukan Muslim, dia bisa tampil luar hebat menjadi teladan bagi banyak kalangan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *