Skip to main content

MERENUNGKAN KEMBALI COVID-19

corona

Selama masa pandemi yang sedang berlangsung, mulai ada pengelompokkan secara lebih tajam dalam masyarakat. Pengelompokkan itu terbagi pada dua hal ; pada kelompok yang menyalahkan orang-orang yang berada di luar rumah tanpa mengikuti imbauan pemerintah, sekaligus juga menyalahkan orang-orang yang ingin mudik dan pulang kampung, dan kelompok orang-orang yang “disalahkan” oleh kelompok awal. Sederhananya, kelompok pertama ingin semua orang berada di rumah. Agar penyebaran virus tidak bertambah.

Tapi, yang perlu diperhatikan, tidak semua memiliki kesadaran yang sama, dan tidak semua memiliki pendapatan yang sama. Bagi yang memiliki pendapatan stabil bulanan, mungkin bisa saja bertahan di rumah selama berbulan-bulan. Gaji ditransfer melalui rekening, belanja online tinggal klik dan pesanan pun diantar. Bayar sekolah anak tinggal transfer, semuanya melalui jempol. Hanya dengan work from home, gaji meluncur ke rekening.

Namun, ada juga sebagian besar dari kita yang tidak memiliki pemasukan yang stabil. Tak ada rekening gaji, tak ada istilah work from home, tak ada akun gopay, grabpay, ovo, dan akun-akun virtual money. Semua masih analog. Termasuk bekerja, harus berkeringat. Berkeringat pun harus diluar rumah. Banyak pekerja sektor informal seperti tukang bakso, tukang bentor, buruh bangunan, tukang cuci, petani, nelayan, penjual ikan, kusir bendi, buruh bangunan dan segala jenis pekerjaan lain.

Mereka-mereka ini bukan pekerja “work from home”. Tak ada istilah rebahan bagi mereka. Rebahan bagi mereka adalah tidur sepulang kerja keras seharian. Tak ada AC, bukan kasur Comforta, dan bukan sambil pegang remote. Mereka tidur karena memeras keringat karena kerja, bukan keluar keringat karena imbauan untuk berjemur di bawah sinar matahari. Matahari adalah kawan harian mereka. Sebelum ada pandemi dan tanpa diimbau mereka sudah menjemurkan diri.

Mereka itu adalah bagian dari anak bangsa Indonesia, bedanya mereka berada dalam desil 1-4 di Basis Data Terpadu TNP2K. Mereka adalah 40% rumah tangga di seluruh Indonesia yang paling rendah status sosial ekonominya.

Merekalah yang selama ini disebut-sebut dalam panggung kampanye, dalam pidato pertanggungjawaban pemerintah, merekalah yang katanya hendak dientaskan yang entah hingga kapan malah bertambah, bukan berkurang.

Apakah mereka ini yang disebut “Tidak Pam Bandengar”? Apakah mereka yang disebut tidak menaati social distancing? Apakah mereka yang dianggap sebagai pemicu penyebaran pandemi?

Bisakah kita tidak menggerutu dan menyalahkan bagian dari anak bangsa kita sendiri karena memang tidak ada pilihan lain yang harus mereka pilih?

Mereka itulah yang kini sedang berjuang untuk pulang kampung, sekaligus mereka juga memutuskan mudik. Mereka memilih itu karena memang tidak ada pilihan lain. Mereka sebenarnya bukan mudik atau pulang kampung. Mereka itu mengungsi. Mengungsi karena menghindari bencana ekonomi kota yang tak sanggup lagi mereka tahan dan terima.

Kita yang mencerca dan menyalahkan kelompok ini tentu tidak bisa hanya sekedar menyalahkan saja. Upaya pemerintah pun terbatas untuk bisa mengamankan kebutuhan kelompok yang sangat besar ini. Kita tahu bersama bahwa negeri ini tak ada pengalaman pandemi yang serius sejak Orde Lama. Birokrasi negeri kita baru mulai serius soal bencana sejak gempa Aceh awal tahun 2000 an. Jadi, pengalaman penanganan masih sangat terbatas.

Memang, konsekuensi dari semua itu tetap ada. Ada banyak harga yang harus dibayar. Akan ada banyak nyawa yang melayang, akan banyak anggaran yang menguap, akan ada asumsi-asumsi ekonomi yang terkoreksi, hingga kita semua dipaksa bertekuk lutut oleh keadaan untuk pasrah pada keadaan karena keterbatasan perangkat, sistem dan pengetahuan.

Momentum ini sungguh luar biasa, tak pernah terbayangkan. Tiba-tiba hanya dalam tempo kurang dari 100 hari, kita semua berada dalam keadaan yang tak biasa. Mobil-mobil mewah kini terparkir di garasi, pesawat jet pribadi hanya berada diam di bandara, semua penerbangan berhenti, perkantoran tutup, restoran tempat buka puasa bersama berhenti beroperasi, ragam fashion eksklusif untuk tarawih di masjid terpaksa disimpan lagi di masjid, kue-kue enak dan gurih untuk Idul Fitri batal dipesan, rencana menambah perabotan rumah ditunda hingga tanpa batas waktu. Hal yang glamour tak tampak lagi. Semua dipaksa berhenti. Ramadan yang biasanya jadi ajang kontestasi pasar dan industri kini kembali ke fitrahnya. Semua berjalan lebih khusyuk dari rumah masing-masing.

Jika dulu istilah family time adalah akhir minggu sambil berlibur, kini semua waktu adalah family time. Orang tua mulai mengenal sifat-sifat anaknya, yang selama ini lebih diketahui secara mendalam oleh baby sitter. Semua dipaksa rukun untuk saling mengenal lebih dekat satu sama lain.

Pandemi ini terjadi bukan asal terjadi, selalu ada hikmah dibalik ini semua. Tak mungkin sesuatu terjadi kalau tak ada hikmah. Hikmah dalam masa pandemi ini bukan saja “dipetik” tetapi sudah dalam tahap “dipanen” saking panjang dan lamanya pandemi ini berlangsung. Semua orang mengalami tanpa satupun yang terlewat. Ada “shock therapy” secara kolektif. Ada kesadaran baru yang diinjeksi.

Karena ini, dalam kategori tertentu, pandemi ini perlu disyukuri karena banyaknya hikmah kolektif yang bisa dipanen dari kejadian ini. Jarang-jarang momentum seperti ini dihadirkan yang bisa menghentak satu bumi. Peristiwa ini berbeda dengan bencana gempa yang hanya menimpa sebagian kecil wilayah atau banjir, hingga bencana alam lainnya. Peristiwa ini telah memantik sekaligus melecut nurani kita semua.

Keadaan ini tak bisa disebut “buruk” semuanya, karena banyak juga kebaikan-kebaikan yang tidak kita duga bercucuran di tengah kondisi yang ada. Karena itu, momentum ini adalah masa yang wajib kita syukuri. Dari momentum ini kita dipaksa belajar bersyukur.

Jika momentum ini lewat begitu saja dan tak bisa “memandu” kita untuk belajar bersyukur dan menggugah kesadaran diri, maka butuh bencana apalagi untuk mengetuk nurani yang telah beku itu?

Semoga apa yang telah berlangsung menjadi hikmah bagi semua orang tanpa terlewatkan, tanpa terkecuali. Apa yang sedang berlangsung tentu ujungnya adalah kebaikan, walaupun cara pandang terhadap itu berada dalam frekuensi yang bermacam-macam.

You may also like

One thought on “MERENUNGKAN KEMBALI COVID-19”

  1. Semua dipaksa berhenti.
    Ramadan yang biasanya jadi ajang kontestasi pasar dan industri kini kembali ke fitrahnya. Semua berjalan lebih khusyuk dari rumah masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *