Skip to main content

MERENUNGI POLITIK INDONESIA

Prabowo Jokowi

Politik di Indonesia selalu menampilkan wajah yang unik. Ia tak selalu linier dengan perasaan dan logika warganya.

Bagi pendukung Prabowo, langkah PS adalah langkah keliru sejak dia menerima tawaran dari Jokowi untuk masuk ke dalam jajaran kabinet. Bagi pendukung Jokowi, langkahnya dianggap juga sebagai kekeliruan saat mengajak orang-orang yang tidak “berkeringat” dan bahkan menjadi saingannya dalam dua kali kontestasi pilpres.

Namun, fakta politik Indonesia selalu ada yang disebut sebagai political gymnastic. Hal ini memperlihatkan bahwa politik adalah sesuatu yang cair. Politik itu tidak selalu linier dengan cara pandang yang minimal.

Fakta bahwa Jokowi terpilih dan Prabowo kalah dalam pilpres bukan menjadi prinsip lagi saat tarik-menarik kepentingan antar faksi semakin tajam. Apalagi Megawati dan Prabowo adalah ketua umum partai politik yang besar di Indonesia.

Pada saat yang sama, Jokowi adalah presiden yang lemah dari sisi politis. Bahwa ada suara rakyat yang memilihnya lalu dan membawa ia secara elektoral menjadi Presiden, kini bukan lagi alasan untuk dia dianggap tetap “kuat”. Sandaran politisnya hanya berada dalam “keputusan” masing-masing ketua umum partai yang jumlahnya hanya hitungan jari. Merekalah yang menentukan arah politik bangsa hari ini.

Para ketua umum ini menggaransi dukungan politik pada Jokowi sebagai Presiden jika ada kompensasi kursi mentri di kabinet, lembaga negara dan jabatan strategis di BUMN. Tanpa itu, dukungan politik pada Jokowi tak akan bulat seperti pada periode sebelumnya.

Jauh sebelum fakta ini berlangsung, di zaman kerajaan silam, kondisi seperti ini sudah berulang-ulang terjadi. Termasuk juga apa yang telah dialami Soekarno saat berpindah kekuasaan pada Soeharto. Juga perpindahan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie. Dari Gus Dur ke Megawati.

Kita disodori oleh sejarah tikung-menikung politik. Kita juga banyak membaca soal ketangkasan elit kita di banyak tikungan sejarah. Banyak yang tak terkira dan tak terpikirkan. Tetapi, hal-hal yang tak terpikirkan itu, telah terjadi secara berulang-ulang. Banyak korban yang mengenaskan, ada yang terlempar. Ada pula yang bertahan dengan segala kedigdayaannya.

Karena itu, politik Indonesia tidak bisa dibaca lagi dengan modal perasaan yang berhadap-hadapan dengan logika serta fakta politik kontemporer.

Politik Indonesia bukan sekedar angka numerik dan elektabilitas pada pemilu, juga bukan soal angka pertumbuhan dan kemiskinan semata. Politik Indonesia adalah puzzle peradaban yang sedang mencari pola untuk kemudian menyejarah.

Banyak hal yang luar biasa di negeri ini, namun kita memiliki kekurangan pada soal kesabaran. Hal yang jarang kita temui di negeri ini.

Menghadapi kondisi politik terkini tidak bisa dihadapi dengan model asal tumbuh, maju dan cepat berkembang.

Pada suatu titik, ada kalanya kita harus menahan diri, belajar mengelola kesabaran untuk hal-hal yang mengecewakan, sambil terus merawat benih-benih harapan untuk bangsa ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *