Skip to main content

MENYERANG “SERANGAN FAJAR”

Serangan fajar dalam artian bagi-bagi uang jelang Pilkada sebenarnya bukan lagi untuk membeli suara, atau mengubah pilihan.

Tak ada yang diserang. Sebab tak ada yang merasa diserang. Sebagian besar orang menginginkan ada tanda mata, semacam penutup rangkaian pesta pora demokrasi.

Kultur Gorontalo cukup permisif dengan “tayade” (bagi-bagi hasil, bisa jadi diartikan uang), ada pula depita (saling antar, apakah itu uang atau pangan).

Pada masa Orde Baru, masyarakat pun mulai dibiasakan dengan yang dinamakan “uang duduk”. Bahkan banyak yang punya paham “pongola wanu diyaa uang duduk liyo” (buat apa kalau tidak ada uang duduk). Artinya, dalam setiap kegiatan kalo bisa ada uang duduk atau uang pengganti transpor dalam bahasa laporan keuangan.

Padat karya sebagai bagian dari model program pasca Orde Baru menjadi bagian yang menihilkan kultur gotong royong dalam tradisi masyarakat. Makanya partisipasi masyarakat mulai menipis kecuali harus diiming-imingi uang terlebih dahulu. Pada momen politik, akan terlihat jarang jika ada kandidat yang dibiayai masyarakat. Kalau sebaliknya, malah menjadi wajib.

Jadi, serangan fajar tidak bisa lagi dianggap praktek jual beli suara. Tapi bagian dari mengokohkan dukungan. Kalaupun ada yang “diserang”, paling uangnya diambil namun pilihannya tetap.

Dalam beberapa survey politik jelang Pilkada, sebagian besar orang sudah menentukan pilihannya pada masa kampanye, mungkin yang belum menentukan pilihan dibawah 10 %. Itupun angka tersebut tidak bisa dibeli begitu saja suaranya.

Angka swing voters yang menentukan pilihan saat di TPS lebih banyak karena asupan informasi yang terbatas terkait calon atau bisa jadi karena berasal dari kelas menengah yang begitu rasional dalam memutuskan. Jika disimulasikan dalam Pilkada yang kandidatnya lebih dari dua, maka akan sulit membeli suara kelompok ini.

Jadi, sebenarnya masyarakat itu sebagian besar sudah ada pilihan, mencoba “menyerang di waktu fajar” adalah hal sia-sia. Sebab, bagi mereka yang menginginkan “diserang” sebenarnya hanya ingin mengokohkan saja pilihannya, dan kemungkinan untuk berubah memang sangat kecil. Kecilnya kemungkinan berubah itu bisa jadi karena merasa sudah terpantau sejak lama, tidak enak dengan tetangga yang sama-sama sudah didekati sejak lama, atau bisa jadi kedekatan dengan kandidat atau timnya. Bisa jadi karena memang melihat program yang disampaikan berulang-ulang.

Karena itu, logika “serangan fajar” itu adalah logika percuma jika dioperasikan. Wacana itu lebih karena “hepopoheya lo tim sukses” (ditakut-takuti oleh tim sukses). Misal ada tim sukses yang mengatakan “di desa ini so goyang Pak, kalau tidak mo sorang, mo kalah torang”. Padahal, tanpa diserang pun memang kalah, atau memang daerah tersebut sudah kuat basisnya.

Atau ada tim sukses yang mengatakan “bahaya pak, dorang so ambor deng saratus ribu di kampung itu, kalau tidak mo tindis mo kalah torang”. Padahal kandidat lain pun tidak sebesar itu atau bahkan tidak ada yang dikasih.

Dalam distribusi pun lebih gawat, tak mungkin ada yang bisa mendistribusikan secara terpola dan teratur semua uang secara merata. Ini momentum lima tahunan, bagi elit-elit yang sudah “ban itam” dalam politik lokal, hanya momen ini untuk “momancari akang”. Jadi sudah pasti distribusinya tidak akan mengucur sampai kebawah, kalaupun ada paling sudah dipotong separuh.

Bagi kandidat yang malam ini sudah panik karena ditakut-takuti atau karena sudah khawatir akan kalah, sebenarnya sudah bisa menghitung secara matematis apakah dia berpeluang atau tidak. Dari semenjak pendaftaran, kampanye hingga malam ini, pasti sudah ada tanda-tanda dukungan yang diraih dari setiap desa ataupun TPS. Bisa juga terlihat dari jumlah tokoh yang dari tiap desa dan dusun yang mendukung.

Tentunya, bagi yang sudah melihat tanda-tanda kekalahan baiknya tidak lagi memaksakan kehendaknya dalam beberapa jam kedepan.

Memang pernah beberapa kali ada beda tipis hasil Pilkada, tapi itu sebenarnya bukan karena banyaknya uang yang dihamburkan saat jelang fajar Pilkada, tapi karena ada faktor-faktor teknis dalam perumusan strategi yang hampir berimbang, demikian pula dengan kualitas calon dan dukungan tim sukses.

Karena itu, logika “serangan fajar” tidak lagi relevan untuk masa kini, apalagi jika kita melihat sesuatu yang lebih penting yakni terkait kualitas demokrasi.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *