Skip to main content

LALU APA YANG MASIH TERSISA DARI KITA?

Bersatu saja belum tentu bisa melawan pandemi beserta segala resiko turunannya, apalagi bercerai-berai. Kita di ambang resesi yang parah, termasuk dalam situasi sosial yang gawat. Tapi, di setiap strip sejarah, kita selalu bisa dan harus melawan, agar spesies kita tak punah.

Lalu, apa momentum yang masih tersisa yang bisa menyatukan kita? 17 Agustus? 23 Januari? 20 Mei? Ataukah 28 Oktober yang baru kita peringati?

Masihkah hari-hari bersejarah itu memadai untuk dijadikan alasan untuk bersatu? Masihkah terasa khidmat hari-hari spesial itu?

Sepertinya hari-hari itu hanya habis pada ucapan, upacara dan bertebarannya gambar-gambar yang sekedar menggugurkan kewajiban, agar terlihat “menghormati” hari-hari itu.Lalu apakah momentum yang masih tersedia? Apakah 28 Oktober itu masih relevan dijadikan sebagai momentum untuk “melompat”?

Konon, 28 Oktober 1928 adalah muara suara kaum muda di kala itu. Lebih dari 94 kali “suara-suara” itu diperingati, diteriakkan, sembari tangan terkepal, dengan dada membusung.

Lalu, adakah yang berubah? Bahwa ada yang berubah itu bukan karena 28 Oktobernya, situasi memang berubah dengan segenap tantangannya, yang mau tak mau setiap yang ada di jazirah ini harus berubah.

Demikian pula setelah tanggal yang bergelora itu, lahirlah banyak organisasi kaum muda, dengan cita-cita memperjuangkan masa depan kaum muda.

Lalu setelah itu apa? Pada 2015, 1 dari 10 remaja dan pemuda hidup di bawah garis kemiskinan, dimana tiga kali lipatnya berada di posisi yang rentan. Di perkotaan, prevalensi pemuda dan remaja yang kekurangan kalori sangat tinggi.

Apa lagi yang ironis lainnya? Ada 77 % perempuan muda yang melahirkan di fasilitas kesehatan yang timpang. Angka kekerasan dalam rumah tangga pun banyak dialami perempuan muda itu. Kondisi ini terjadi di bagian timur Indonesia, tempat Jong Celebes dan jong-jong lainnya dengan gagah mengepalkan tangan di 94 tahun lalu.

Belum lagi dengan fakta miris tentang profil pembelajaran siswa di Indonesia yang cenderung stagnan selama satu setengah dekade terakhir setelah reformasi (2000 – 2014).

Di tengah mirisnya situasi, akses rumah tangga yang dihuni kaum muda terhadap air bersih dan sanitasi adalah ketimpangan serius yang sedang dihadapi. Hanya sekitar 37 % rumah tangga dengan ART pemuda dan remaja yang tinggal di rumah layak huni dan terjangkau. Sisanya dimana, meringkuk di rumah kusam dan sudut-sudut kawasan yang pengap.

Di tanggal yang disebut bersejarah ini, proporsi kaum muda yang bekerja di sektor pertanian turun signifikan dari 39 % (2005) menjadi 25 % (2015). Parahnya, tak ada perubahan yang signifikan pada proporsi pemuda yang bekerja di sektor manufaktur (stagnan di angka 17 %).

Lalu apa yang masih tersisa dari kita? Kasus kejahatan yang dialami remaja dan pemuda lebih tinggi di daerah perkotaan. Narkoba, pencurian, dan banyak jenis kejahatan lainnya yang sedang mengintai kaum muda kita, yang 94 tahun lalu disebut sebagai generasi penerus bangsa.

Inilah ironi pemuda dan remaja kita di peringatan 94 Tahun Sumpah Pemuda, yang parahnya, kini pemuda dan remaja menjadi muara sumpah serapah. Lalu, apa yang masih tersisa dari kita? Apakah menyerah pada nasib?

Tentu tidak. Pada 94 tahun Sumpah Pemuda yang semakin tak relevan menjadi momentum bersatu, bersemangat ini, dan hampir gagal ini, kita diperhadapkan pada momentum yang begitu mulia.

Kita tentu harus terus mencari apa yang masih tersisa, momentum yang bisa membangkitkan kecintaan kita pada tanah yang hampir longsor ini.

Pada 1451 tahun lalu, lahir seorang bayi mulia, dadanya terbersihkan. Kelahirannya telah diramalkan dalam semua kitab. Begitu banyak tokoh lintas agama yang menantikan kehadirannya.

Ia lalu tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Dia adalah yang terpercaya. Padanya yang masih berusia 35 tahun, dipercayakan sebagai penengah kisruh dalam meletakkan Hajar Aswad.

Ia dikenal memiliki empat patok kepribadian ; Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah. Keempat sifat ini telah lekat padanya. Hingga dari semua kalangan pun menaruh harapan padanya.

Hingga dia dianugerahi gelar Al-Amin, gelar yang mulia di tengah kegersangan harapan kala itu. Kehadirannya adalah oase tempat manusia merebahkan harapan.

Nabiyyu ar Rahmah aw al Marhmah adalah salah satu gelar mulianya, bukan karena disematkan pengikutnya, tapi karena memang praktik hidupnya yang menjadi cermin bagi semua kalangan. Ia adalah keteduhan, ia adalah rindang pohon yang menentramkan jiwa.

Pemuda itu adalah Khātam an-Nabiyyīn, penutup dari semua Nabi. Dialah yang disebut oleh Michael Hart sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh di muka bumi ini.

Ia lahir pada 12 Rabiul Awal dari rahim seorang perempuan mulia, Sayyidah Aminah, dan dari seorang ayahanda yang gagah Sayyid Abdullah bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim.

Kelahirannya adalah anugerah, karunia yang tiada tara. Karena hanya melalui jalannya, keselamatan dapat terberi, satu-satunya jalan menujuNya.

Momentum kelahirannya adalah momentum yang masih tersisa untuk kita. Memperingati kelahiranya sekaligus perjalanan hidupnya, khususnya kiprahnya di kala muda adalah inspirasi bagi semua kaum muda hari ini.

Memperingati hari kelahirannya pada Rabiul Awwal adalah upaya untuk memperkenalkannya kepada setiap generasi. Kenal adalah pintu untuk mencintai. Sehingga dengan mengenalnya maka setiap orang bisa mencintainya.

Tak ada kecintaan tanpa didahului oleh perkenalan, tak ada kecintaan yang hadir tanpa memahami terlebih dahulu.

Dia adalah sosok inspiratif sepanjang masa, yang pada detik-detik terakhir dari mulutnya hanya mengucapkan tiga kali : ummati, ummati, ummati (Umatku, umatku, umatku).

Dialah yang patut kita layangkan shalawat ; “Allaahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaamaan taamman alaa sayyidinaa Muhammadinil ladzii tanhallu bihiluqodu watanfariju bihilkurobu watuqdhoo bihilhawaaiju watunaalu bihir roghooibu wahusnul khowaatimi wayustasqaal ghomaamu biwajhihilkariimi waalaa aalihii washohbihii fii kulli lamhatin wanafasin biadadi kulli maluumin laka.”

Shalawat diatas berasal dari sebuah penegasan dalam Al-Ahzab ayat 56 yang pada Al-Qur’an terjemahan Bahasa Gorontalo disebut ; “Tutuulio-tutu Allah wau malaikati-lio hiposalawatiya du’ola to Nabi, wu taito ta palasaya posalawati wau posalamumola ode olio wolo salamu wolimomoto”.

Semoga harapan yang masih tersisa ini, di puing-puing peradaban yang kalut ini, mendapatkan terang, khususnya Syafaat darinya.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *