Skip to main content

KOPI : KEGIRANGAN DAN IRONI

Bagi kita penggemar kopi, dan terutama yang begitu fanatiknya terhadap kopi, hingga setiap hari tak bisa lepas dari yang namanya kopi. Kegirangan kita dalam mengkonsumsi kopi naik tajam. Kopi adalah identitas, kopi adalah koentji.

Saat ini, ajakan untuk silaturrahmi, bertemu, rapat, hampir selalu diawali dengan “ngopi yuk!”. Ngopi adalah ajakan, panggilan, dan undangan.

Pertumbuhan jumlah barista pun luar biasa. Banyak kaum milenial yang terjun menjadi barista. Barista adalah identitas baru yang heroik.

Jumlah warkop pun semakin bertambah, termasuk di Gorontalo. Dari pagi sampai pagi, hampir semua warkop penuh.

Tapi, dibalik itu semua, perlu kita ketahui bersama jika swjak tahun 2008 hingga tahun 2018, tingkat konsumsi kopi melonjak dua kali lipat, dari 155 ribu ton (2008) ke 314 ribu ton (2018).

Sedangkan jumlah produksi sejak 2008 ke 2018 hanya bertambah 24.445 ton. Bisa disebut produksi kopi dalam negeri stagnan, jalan ditempat. ade terakhir konsumsi kopi dalam negeri berlipat dua, tapi produksi stagnan.

kopi

Parahnya, ekspor kopi turun drastis dari 468.749 ton (2008) menjadi 277.000 ton (2018), ada penurunan jumlah ekspor sebesar 191.749 ton dalam sepuluh tahun.

Tentu ekspor yang turun drastis dan produksi stagnan telah memicu naiknya jumlah impor kopi dari 7582 ton (2008) menjadi 104.000 ton (2018).

Angka-angka diatas adalah ironi negeri agraris seperti Indonesia. Begitu banyak tanah dan lahan yang terhampar. Bahkan ada julukan zamrud khatulistiwa. Tapi itu semua hanya berakhir pada judul.

Inilah ironi jelang hari kemerdekaan, sepertinya kita baru mulai belajar merdeka, bukan merdeka belajar.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *