Skip to main content

KLAIM, FAKSI DAN PICA KONGSI

Pelantikan tiga pasang Kepala Daerah telah usai. Mereka mulai hari bekerja di instansi masing-masing.

Pak Nelson dan Pak Dadang telah memulai apel kerja di Pemda Kabupaten Gorontalo, Pak Saiful dan Bu Suharsi bahkan sudah menghadiri acara-acara masyarakat seperti Musyawarah IKA KMPIP. Pak Hamim dan Bu Merlan hari ini akan menjalani proses “Molo’opu”.

KLAIM

Bahwa mereka terpilih, lalu dilantik dan mulai menjalankan agenda pemerintahan adalah semacam ritual normatif yang harus dilalui. Mereke berenam akan berhadapan dengan dokumen perencanaan teknokratik yang harus mereka olah agar bisa disesuaikan dengan visi misi pada kampanye lalu.

Tetapi, ada pula sisi lain dari proses pemerintahan yang selama ini menjadi rahasia umum. Apa itu? Mereka akan diperhadapkan pada klaim-klaim.

Klaim-klaim yang dimaksud seperti apa? Misalnya ada bagian dari tim sukses yang klaim telah keluarkan sejumlah uang padahal tidak tercatat di bendahara tim pemenangan. Ada juga yang klaim karena dukungan kelompoknya, ada yang klaim karena doa dari dukun yang ia panggil, dan banyak lagi klaim-klaim pasca Pilkada.

FAKSI

Setelah itu mulailah masa “baku-baku iris” antar faksi dalam satu tim. Saling gunting hingga saling menggergaji menjadi hal yang “lumrah” dilakukan oleh faksi-faksi tersebut. Tujuannya agar faksi tertentu saja yang dominan dalam mengatur kekuasaan. Apalagi, bukan rahasia umum lagi kalau keenam orang ini didudukung bukan satu partai politik saja.

Dalam semua tim pemenangan yang memenangkan pertarungan hari ini, pasti akan ada faksi-faksi yang akan dominan, ada pula faksi yang terlempar walaupun sudah berdarah-darah di medan perang. Pertarungan pasca Pilkada adalah pertarungan di internal.

Di antara faksi-faksi tersebut, nanti akan ada pula faksi Bupati dan faksi Wakil Bupati. Jika friksi dua faksi ini semakin meruncing, maka hasilnya pasti “pica kongsi”.

PICA KONGSI

Di banyak daerah di Indonesia, apa yang dinamakan dengan “retak” dan “pica kongsi” antar kepala daerah dan pelbagai penyebutan lainnya, adalah bagian dari dinamika politik lokal. Hampir 90 % kepala/wakil kepala daerah mengalami itu. Dalam Pemilukada tahun 2010 yang lalu tercatat dari 164 calon incumbent yang maju, hanya sebesar 9,19 persen (15 pasangan) yang masih tetap maju berpasangan, sementara sebesar 90,85 persen (149) pasangan, maju sendiri-sendiri atau berpisah dengan pasa­ngan sebelum­nya. Pilkada pada tahun 2015, 2017, 2018 hingga kemungkinan hasil pilkada 2020 pun tidak lepas dari dinamika “pica kongsi”.

Tapi itu menjadi dinamika politik lokal Indonesia yang masih tertatih-tatih pasca Orde Baru. Usia demokrasi secara “kaffah” di Indonesia baru sekitar 15 tahun. Setiap daerah baru melaksanakan dua dan tiga kali Pilkada. Bisa saja, untuk beberapa daerah, dua atau tiga kali Pilkada belum mumpuni untuk menjadi medium pembelajaran politik dan demokrasi.

Konteks politik Indonesia memang kompleks, butuh kesabaran tingkat tinggi. Kesabaran ini memang menjadi barang langka di Indonesia. Tapi, untuk ukuran demokrasi prosedural dan mungkin “sedikit” substantif, kita sudah “agak maju” dibanding negara-negara pasca otoriter lainnya.

PERTANYAAN REFLEKTIF

Poin penting dari pelajaran “pica kongsi” adalah ; (1) Apakah tingginya dinamika itu diiringi oleh agenda yang bersifat solutif atas keadaan yang semakin kompleks? (2) Apakah ada semacam ikhtiar untuk mengelola dinamika itu untuk menjadi lebih produktif bagi tata kelola pemerintahan? (3) Bagaimana peta jalan resolusi atas dinamika atau yang agak ekstrim disebut konflik itu? (4) Bagaimana partai politik secara kelembagaan bisa mengelola ini? (5) Apakah ada rumus dalam kearifan lokal sebagai “beyond solution” untuk mengatasi/mengelola ini? (6) Mungkin, tingginya frekuensi pica kongsi ini adalah karena pembagian kewenangan yang hampir tidak “setara” dalam konteks regulasi walaupun dalam pemenangan Pilkada sebelumnya berada dalam posisi “setara”.

Pertanyaan ini menjadi relevan untuk diajukan mengingat tensi dan intensitas dinamika politik lokal di Indonesia yang cukup kompleks.Walaupun, perlu diakui bahwa begitu banyak yang mengecewakan dalam politik Indonesia kita hari ini, tapi juga begitu banyak hal yang bisa dikerjakan untuk memperbaikinya.

BEBERAPA UPAYA

Karena itu, perlu ada agenda teknis-operasional-regulatif terkait antisipasi lahirnya “pica kongsi” pasca Pilkada 2020 dan sebelumnya, yakni ; Pertama, soal pembagian kewenangan dalam UU Pemerintah Daerah mestinya dijabarkan secara teknis dan operasional dalam regulasi berapa Peraturan Pemerintah, Peraturan Mentri, hingga Peraturan Daerah.

Kedua, liberalirasi politik di Indonesia telah memberikan “standar” yang semakin meningkat dalam hal pembiayaan pemenangan Pilkada sehingga mengakibatkan pihak yang memenangkan Pilkada terbebani “beban finasial” yang tinggi. Beban ini yang mesti dipikul bersama Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara rente. Namun, beban tinggi ini tidak disertai “pembagian” kewenangan secara setara. Karena itu, perlu ada langkah regulatif dalam konteks pembiayaan pilkada, yang tidak membebani peserta Pilkada. Pada konteks itu, peserta Pilkada tidak mesti memiliki kekuatan finansial tinggi, namun cukup dengan modal sosial tinggi sudah bisa menjadi peserta Pilkada.

Ketiga, pengaturan syarat pencalonan yang harus legalisasi “putusan partai di pusat” sudah mesti didesentralisasi ke level daerah, agar pembiayaan juga tidak “hirarkis”.

Persoalan dan problem sosial-ekonomi di tingkat lokal yang semakin tinggi dan ditambah dengan dinamika politik yang hampir “kacau” mesti mendorong tiga hal “minimal” diatas untuk memperbaiki kualitas dari dinamika politik lokal yang cenderung liberal. Jika tidak dan terbiarkan kondisi ini berlarut-larut, maka kualitas demokrasi lokal bukan semakin baik, malah akan jauh dari demokrasi yang menyejaterahkan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *