Skip to main content

KEGEMBIRAAN MENYAMBUT RAMADAN DI GORONTALO

Ramadan adalah bulan yang dinantikan oleh segenap umat muslim di seluruh dunia, termasuk bagi masyarakat Gorontalo. Penantian selama setahun adalah penantian panjang yang penuh kerinduan. Kerinduan akan Ramadan pun lalu berwujud pada penyambutan bulan suci dengan pelbagai ritual khusus.

YIMELU

Salah satu ritual khusus yang dilakukan adalah yimelu. Yimelu berasal dari mohihimeluwa atau saling bertegur sapa, bisa juga berarti silaturrahmi. Yimelu adalah tradisi masyarakat Gorontalo jelang Ramadan. Tradisi ini bertujuan untuk mempererat silaturrahmi antar sesama warga, saling meminta maaf.

Secara praktis, biasanya ada acara pembersihan badan dengan harum-haruman dengan menggunakan bahan alami seperti kelapa dan daun-daunan untuk mengharumkan tubuh, termasuk untuk mencuci rambut.

Secara simbolik, yimelu adalah penyucian tubuh yang pada akhirnya untuk mendidik dan merawat tubuh yang untuk penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs) yang bersamaan dengan menghidupkan jiwa (muhyin nuufs) yang telah mati atau tidak terkendali selama 11 bulan sebelumnya.

MALU’O

Bagi kalangan anak-anak, puasa diperkenalkan oleh orang tua dengan menu sahur dan buka puasa yang enak, walaupun kini sudah menjadi praktik yang kolektif saat memasuki Ramadhan. Sebagian besar warga Gorontalo, “monula lo maluo” dengan varian “maluo tilinanga”, “upilitode”, “iloni, dan “pilanggangi”.

“Monula lo maluo” adalah semacam prestasi, identitas dan hasrat terpendam. “Monula lo maluo” adalah perayaan ke-Gorontalo-an yang tidak tiap hari bisa dilakukan. “Monula lo maluo” dan pada akhirnya “mosuruhu waw mobuka lo maluo” menjadi praktik kuliner yang sarat makna sosio-antropologisnya. Jadi, ini bukan soal “monula lo maluo”, tapi soal kegembiraan dalam menyambut Ramadan, peluapan hasrat yang jarang dirayakan. Di beberapa kalangan, ini soal kontestasi. Di Gorontalo, ayam adalah menu istimewa selain daging sapi atau kambing.

Ramadan bagi masyarakat Gorontalo adalah bulan teraktif dan tersibuk di Gorontalo, maka “mo suhuru waw mobuka lo maluo” menjadi ritus istimewa. Ritual etnoreligius yang semarak ini mau tidak mau mengerek harga ayam di Gorontalo menjadi 80-100 ribu rupiah per ekor saat Ramadan. Jika 100 ribu rumah tangga saja mengkonsumsi seekor ayam pada pembukaan Ramadan, ada sekitar 10 milyar rupiah yang berasal dari konsumsi ayam.

Dalam perkembangan yang lebih lanjut, soal ayam ini berlanjut menjadi “uang ayam”. Tradisi “monula lo maluo” dikapitalisasi menjadi uang. Di beberapa instansi, selain ada tunjangan hari raya, ada juga “uang ayam” yang dibagi-bagikan pada staf dan karyawan sebelum dimulai Ramadan. Biasanya, standar “uang ayam” sekitar 100 – 250 ribu. Beberapa orang yang dianggap punya “kelebihan” biasanya menjadi sasaran permintaan “uang ayam”. Nilai yang dihasilkan adalah semangat berbagi antar sesama, berbagi kebahagiaan antara yang memiliki kelebihan kepada saudaranya sesama muslim.

RAMADAN YANG GEGAP GEMPITA

Jadi, Ramadan di Gorontalo benar-benar disambut secara gegap gempita. Mulai dari tradisi Yimelu, “monula lo maluo, hingga “uang ayam”. Rangkaian tradisi ini adalah kombinasi praktik penyucian diri dan praktik syukur yang dihadirkan melalui agenda simbolik yang penuh pelajaran unik. Semua rangkaian itu adalah rasa syukur dan kebahagiaan warga Gorontalo dalam menanti Ramadan yang suci.

Selamat menjalani Ramadan dengan penuh bahagia dan gembira. Semoga pada Ramadan ini kita bisa menyucikan diri dan jiwa (tazkiyat al-nafs) menuju pada penghidupan jiwa kembali (muhyin nuufs).

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *