Skip to main content

Karawo dan Jalinan Cinta

Budayawan Gorontalo alm. Farhah Daulima menyatakan bahwa di abad ke 5 H, ada rombongan keturunan dari Bani Ba’alawi dari Hadramaut datang ke Gorontalo. Salah seorang dari rombongan tersebut bernama Alawiyah memperkenalkan cara menenun dan menyulam kain. Karawo adalah akronim dari Alawiyah/Alawo/Ayita yang berarti jalinan yang lembut.

Menurut sosiolog Universitas Negeri Gorontalo, Alim Niode, tradisi mokarawo adalah tradisi perjuangan perempuan Gorontalo. Sebab, tradisi ini termasuk yang dicoba oleh Belanda untuk dihilangkan, termasuk adat dan tradisi lainnya. Tradisi ini sudah ada sebelum tahun 1600-an, jauh sebelum Belanda berkuasa di wilayah ini tahun 1889. Belanda melihat bahwa kekuatan masyarakat Gorontalo adalah ada pada tradisi dan budayanya. Maka untuk mengukuhkan kekuasanya, Belanda ingin menghapus tradisi ini, dan mengganti dengan budaya Barat yang mereka bawa.

Namun, tradisi ini tetap bertahan dan disembunyikan oleh kaum perempuan Gorontalo karena mokarawo dilakukan secara sembunyi-sembunyi di dalam rumah.

Makna spiritual Karawo adalah pengungkapan jalinan cinta pada Sang Pencipta. Alawo/Alawiyah/Karawo adalah ungkapan simbolik mengenai pentingnya bagi manusia untuk tetap mencari jalinan/sambungan/sanad kepada Baginda Nabi Muhammad SAAW hingga ke Allah SWT.

Peringatan atas lahirnya Karawo adalah momentum reflektif bagi kita manusia agar berada di “jalan yang lurus” dalam mengikuti Nabi, baik akhlak dan syiar. Akhlak yang lembut, selembut jalinan benang diatas kain yang mewujud menjadi Karawo.

Selamat merayakan Festival Alawiyah/Alawo/Karawo, semoga cinta kita kepada Sang Pencipta terus tumbuh dan terjalin.

Foto milik Agus Lahinta

You may also like

One thought on “Karawo dan Jalinan Cinta”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *