Skip to main content

191 TAHUN JAWA TONDANO

Seandainya Pangeran Diponegoro menang dalam Perang Jawa (1825-1830), mungkin tidak ada yang namanya komunitas Jawa Tondano. Hikmah dari kekalahan di Perang Jawa memang menyedihkan tapi adalah keberkahan jika kita bisa menyaksikan saudara-saudara kita dari Jawa Tondano yang kini menjadi bagian erat dari persaudaraan kita hari ini.

PASCA PERANG JAWA

Pasca kekalahan di Perang Jawa, Belanda mulai mengasingkan pejuang Perang Jawa seperti Kyai Modjo dan para pengikutnya. Rombongan 48 orang pengikut Kyai Modjo tiba di Karesidenan Manado pada tanggal 20 Oktober 1829, lalu tiba di Tondano sekitar bulan Februari – April 1830. Rombongan berikut adalah Kyai Modjo dan sisa pengikutnya yang tiba 1 Mei 1830.

Adapun Pangeran Diponegoro tiba di Manado tanggal 12 Juni 1830, beberapa bulan setelah Kyai Modjo tiba di Tondano.

Kyai Modjo dan veteran Perang Jawa tiba di daerah mayoritas Kristen. Siasat Belanda adalah untuk memperkecil gerak Kyai Modjo dan veteran Perang Jawa ini. Namun, upaya Belanda sia-sia, pendekatan Kyai Modjo dengan akhlak Islam seperti yang diajarkan Nabi Kyai tidak membuat warga Kristen Minahasa menjadi sinis, namun lebih menerima dengan tangan terbuka.

KOMBINASI AKHLAK, ILMU DAN PERNIKAHAN

Kyai Modjo memperkenalkan pola pendekatan ekonomi model pertanian Jawa yang dianggap baru di kalangan Minahasa. Jadi, sederhananya; pendekatan akhlak dan budi pekerti serta pendekatan ekonomi adalah titik kunci kesuksesan veteran Perang Jawa dalam bersosialisasi dengan masyarakat Kristen Minahasa.

Gayung bersambut, beberapa warga pengasingan bisa diterima oleh warga lokal dan bahkan terikat pernikahan. Disini dimulainya generasi pertama Jawa Tondano lahir.

Pendekatan sosio-antropologis Kyai Modjo cukup ampuh ; akhlak tinggi (+) pertanian (+) pernikahan. Hasilnya positif ; Jawa Tondano menyebar ke hampir seluruh penjuru Indonesia Timur. Bahkan masuk ke Gorontalo di awal tahun 19 an.

Kombinasi akhlak (+) ekonomi (+) pernikahan rupanya adalah pendekatan yang ampuh dalam dakwah Islam sejak dulu, sejak zaman Nabi. Islam diperkenalkan dan kini menjadi agama besar di seluruh dunia berkat kombinasi model ini, bukan pendekatan yang sifatnya radikal.

KALAH UNTUK MENANG

Bulan Mei tahun 2021 ini adalah peringatan ke 191 terbentuknya komunitas Jawa Tondano. Momentum ini penting untuk tonggak peringatan atas pembauran dan penyebaran Islam di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa hikmah kekalahan Perang Jawa sepertinya “berbuah manis” pada lahirnya suku bangsa baru Indonesia yang lebih produktif, teladan dan mandiri. Tanpa “kekalahan” lalu, tak ada “kemenangan” hari ini.

Semoga momentum peringatan terbentuknya Komunitas Jawa Tondano ke 191 dapat memberikan inspirasi baru bagi dakwah, pembauran, dan integrasi di bumi Indonesia

*foto dokumen KITLV

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *