Skip to main content

Jauh Di Mata, Dekat Di Jempol

Alhamdulillah, berkah pertolongan Allah SWT, saya mendapat kabar yang haru membiru, tante saya (Siya Kaluku), adik dari almarhum Ibu saya, berhasil ditemui oleh dua sahabat om Mikson Yapanto dan Steven Polapa (admin Gorontalo Unite). Keduanya adalah wakil Gorontalo yang menjadi relawan untuk penanganan bencana Gempa Palu-Gorontalo.

 

Dari keduanya, saya beroleh kabar bahwa Tante saya dalam keadaan sehat, termasuk beberapa sepupu. Rumah yang pernah saya tinggali di Palu dulu juga masih dalam keadaan utuh. Dalam kondisi yang sama, teman yang dulunya satu sekolah Ferry Anwar, yang lebih dari 20 tahun tidak pernah ketemu, berhasil ditemui.

Media sosial, utamanya Facebook dan WhatsApp, dan Instagram telah memberikan kontribusi penting dalam urusan kelancaran komunikasi antar warga pasca gempa Palu. Banyak informasi yang kita bisa terima dan bagikan terkait pembagian bantuan, pencarian korban, pemetaan lokasi gempa dan sebagainya.

Dari gempa Palu-Donggala kita bisa melihat betapa pentingnya media sosial. Bahwa dengan medsos, sesuatu yang jauh di mata, bisa dekat di jempol. Medsos bisa memperpendek jarak, meringkas waktu dan menghubungkan silaturrahmi. Tentu ada juga efek negatif medsos, utamanya mengenai bertebarannya hoax (kabar bohong) mengenai kejadian atau kasus tertentu.

Daniel P. Aldrich, seorang Professor Political Science, di Public Policy and Urban Affairs and Director, Security and Resilience Program, Northeastern University, Danaƫ Metaxa, seorang kandidat doktor ilmu komputer di Stanford University, dan Paige Maas, yang juga saintis data di Facebook, menulis dalam laporan riset yang dipublikasikan oleh The Conversation bahwa pergerakan banyak orang yang mengalami bencana dengan menggunakan data geolokasi berbasis Facebook dan WhatsApp, sedikitnya telah banyak memberikan manfaat serta pengambilan keputusan utamanya dalam menentukan mitigasi bencana.

Dalam laporan risetnya, mereka juga menjelaskan bahwa individu yang memiliki lebih banyak koneksi, termasuk keluarga dekat dan teman dekat, lebih memungkinkan untuk mengungsi dari daerah yang rentan sebelum bencana terjadi. Dari berbagai kasus bencana di Amerika, informasi dari media sosial banyak memberikan alternatif pilihan untuk warga dalam rangka melakukan evakuasi dini, sehingga korban jiwa bisa diminimalisir.

Pelajaran gempa Palu-Donggala memberikan banyak poin, utamanya bagaimana pengelolaan informasi khususnya early warning system dan post disaster. Palu dan Donggala yang pasca gempa mengalami putus listrik dan saluran telekomunikasi adalah pelajaran bagi kita sekalian, bahwa unit vital publik seperti PLN, Telkom dan penyedia sarana telekomunikasi sudah mesti merancang model infrastruktur yang lebih kuat pada gempa dan bencana lainnya. Begitu juga dengan pentingnya mengatur kembali penempatan data center yang menjadi basis pengelolaan informasi dan data untuk pengambilan kebijakan. Banyak fasilitas listrik dan telekomunikasi serta data center di daerah-daerah yang dibangun secara asal-asalan.

Hingga dari kasus itu, bisa kita lihat bagaimana kondisi Palu-Donggala di lima hari pasca bencana, bahwa distribusi bantuan masih belum tersalurkan dengan merata. Faktor “penjarahan” bantuan adalah faktor absennya pengelolaan informasi dan komunikasi yang terpadu, integral, serta terstruktur, hingga kemudian jalur-jalur penyaluran bantuan tidak bisa dijaga dan ditertibkan dengan baik.

Selain itu, dalam beberapa grup WhatsApp yang saya ikuti, frekuensi membagi informasi ke tiap grup sangatlah tinggi, ini dikarenakan semangat berbagi yang terkonversi secara digital. Semangat berbagi informasi adalah karakter khas masyarakat kita yang senang bercakap, berbicara dan diskusi, medsos lalu hadir dan memfasilitasi hal tersebut. Namun, semangat berbagi ini kerap tidak diikuti oleh basis literasi yang kuat sehingga informasi yang dibagikan seringkali berulang-ulang dan banyak pula yang tidak terverifikasi dengan baik, hingga mengandung unsur hoax.

Pelajaran dari gempa Palu-Donggala sangatlah penting, utamanya bagi kita yang berada dalam kawasan sesar aktif, seperti sesar Gorontalo dan banyak sesar lainnya di Indonesia. Bahwa kita berada di negara dengan jumlah sesar yang tinggi dan aktif adalah benar, namun kewaspadaan dini terkait bencana termasuk gempa adalah sesuatu yang mau tidak mau mestindirencanakan dengan baik. Jepang adalah salah satu negara rawan gempa yang bisa kita pelajari model mitigasi bencananya, mereka belajar dengan baik bagaimana hidup “berdamai” dengan gempa selama ratusan tahun. Semoga kita bisa banyak mengambil hikmah atas pelajaran ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *