Skip to main content

IQRA ; MERAWAT HARAPAN, MENGELOLA KEKECEWAAN

Hampir sebulan, Gorontalo Utara telah memiliki pemimpin baru. Indra Yasin – Thoriq Modanggu adalah bayi yang lahir dari rahim kontestasi politik yang memakan waktu cukup panjang. Proses kontestasi politik yang cukup melelahkan itu tak lepas keinginan masing-masing pihak untuk membawa setumpuk harapan menjadi sebuah perubahan.
 
Kelahiran mereka tidak lepas dari konteks kebutuhan akan adanya transformasi pembangunan di lintas sektor. Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Gorontalo Utara yang baru lalu tidak saja melahirkan kebahagiaan, tetapi juga kekecewaan. Banyak orang yang bahagia karena pilihannya bisa menang, sebagian yang lain terlanjur kecewa dengan kekalahan pilihannya. Politik pun didefinisikan menang-kalah. Politik bukan saja menambah akumulasi harapan dan kekecewaan, tetapi juga membuat politik lokal semakin berisik. Di berbagai media sosial seperti Instagram, WhatsApp dan Facebook, hal yang berisik itu sungguh terasa. Saling mengancam, menghina, mencaci, juga memfungsikan kembali fungsi media sosial seperti unfriend, unfollow, dan unshare. Namun, hal yang membanggakan sangat nyata, yakni partisipasi politik warga sangat aktif, walaupun dengan kadar yang bermacam-macam.
 
Dengan demikian, perlu semacam pemaknaan kembali tentang demokrasi kita. Demokrasi selama ini dianggap sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Walaupun logika demikian hinggap di memori kolektif hampir seluruh warga Gorontalo Utara, namun yang seharusnya dipahami, demokrasi hanyalah alat, bukan sebagai tujuan. Demokrasi yang dipahami sekedar mekanisme elektoral dan prosedural, padahal demokrasi hanya pengantar menuju tujuan yang sesungguhnya ; kesejateraan. Karena itu, alat jangan sampai membatasi tujuan.
 
 
Merenungi Sejarah
 
Saya percaya, Indra-Thoriq sama-sama menawarkan harapan, harapan untuk Gorontalo Utara yang lebih baik. Berbagai perspektif harapan yang mereka tawarkan adalah kumpulan energi perubahan yang selayaknya diapresiasi sekaligus diawasi. Mereka berdua adalah manusia biasa, namun mereka berdua mesti melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Karena akan beda berkarya kata di panggung kampanye dengan menjabarkan kata menjadi karya. Mesti ada resep-resep spesial di tengah gurita masalah yang kini melilit Gorontalo Utara. Indra-Thoriq yang lahir secara demokratis mesti mengambil resiko, menaklukkan kelemahan, dan membongkar dinding-dinding kelaziman. Hingga dalam kondisi apapun, setiap dari mereka berdua mesti kuat dan tidak menyerah pada nasib. Sebagai pemimpin baru, mereka mesti mampu mengkaitkan akumulasi harapan, tumpahan kekecewaan dan spirit inovasi dalam model pengambilan yang representatif, tidak sekedar membahagiakan pemilihnya saja.
 
Kita banyak disodori oleh sejarah akan pengalaman tentang pemimpin dan kepemimpinan. Kita bisa menyaksikan bagaimana pemimpin sejati akan sukses jika ia menghayati kepemimpinannya dan menjalankannya secara amanah. Kita juga punya banyak kisah kegagalan seorang pemimpin yang seenaknya dan sewenang-wenang menjalankan kekuasaan. Untuk sejarah kepemimpinan yang sukses, rakyat senantiasa mengingat dan menjadikannya inspirasi kehidupan. Dan untuk sejarah kegagalan, rakyat senantiasa mengutuk dan menjadikan kisah ini sebagai contoh yang buruk bagi anak cucunya. Pilihan itu ada di hati Indra-Thoriq ; dicatat sejarah atau dikecam sejarah!
 
Merayakan Kritik
 
Kita banyak mendengar suara kritis yang ikut beriringan dengan perjalanan menjelang pelantikan Indra-Thoriq. Ada yang mengatakan slogan Ceria akan menjadi Cerai, ada yang merongrong agar keduanya segera “pica kongsi”, bahkan ada yang memfitnah bahwa satu sama lain akan saling mendiakan. Bagi saya, sikap kritis dan mungkin termasuk fitnah yang disuarakan adalah dinamika politik yang perlu diapresiasi agar ada motivasi bagi Indra-Thoriq dalam menjalankan roda pemerintahan. Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang tidak bisa hidup tanpa kritik, tanpa alternatif, dan tunggal. Namun, seringkali pemaknaan tentang sikap kritis selalu disamakan dengan sifat membangkang. Padahal, pada dasarnya sikap kritis tidak lain adalah sikap berbeda pendapat yang muncul dari penilaian yang kritis dari sebuah situasi. Kemungkinan untuk berbeda pendapat dalam sebuah daerah sangat diperlukan, agar hadir kehidupan yang jamak, bukan pada ketaatan yang palsu. Sehingga, barisan tokoh yang diperlukan Gorontalo Utara bukan saja sebagai pengayom partai, pemimpin masyarakat, tetapi juga sebagai leader of the opposition. Maka, demi sebuah elegansi, kritik menjadi sah dan harusnya memperoleh tempat yang layak, bukan menjadi kanal kekecewaan, kekesalan dan keresahan.
 
Bagi seorang Milan Kundera, kritik adalah perjuangan melawan lupa. Kritik merupakan alat untuk mengingatkan. Karenanya, kritik tidak selalu menebar harapan untuk mengubah dan mewujudkan setiap ide, tetapi kritik adalah alat untuk menampilkan kenyataan yang mungkin bisa menjadi wacana alternatif.
 
Kedepan, kiranya perlu menata kembali sistem demokrasi lokal Gorontalo Utara, agar partisipasi rakyat bukan hanya memberikan suara lewat pemilukada, tetapi juga menjadikan day to day critic sebagai alternatif partisipasi pada proses demokratisasi.
 
Dari Dealer ke Leader

Jika Gorontalo Utara ingin selamat untuk jangka panjang, proses politik yang sementara berlangsung butuh kewaspadaan sekaligus kesabaran. Baik itu kesabaran pemimpin, juga warganya. Kesabaran adalah barang yang paling langka di jazirah ini, semua ingin cepat hasil, ingin cepat beroleh bagian, dan ingin cepat stabil-tumbuh-stabil. Bagi saya, politik tidak sekedar angka numerik dari hasil quick count dan real count. Hasil dari politik bukan saja tren naiknya pertumbuhan ekonomi, berkurangnya angka pengangguran dan menurunnya angka kemiskinan. Politik menurut saya adalah latihan kesabaran dalam merawat harapan sekaligus mengelola kekecewaan.
 
Pemimpin setegas apapun, kalau dia terpilih dengan desain demokrasi liberal seperti yang terjadi saat ini, akan ditakdirkan untuk memilih arah perjalanannya, apakah akan membukukan sejarah pengharapan, atau menjadi sejarah kekecewaan. Banyak pemimpin gagal ketika memilih menjadi dealer, yakni pemimpin yang mengelola kekuasaan dengan model transaksional. Namun, tidak sedikit pula yang mengabdikan dirinya menjadi leader dengan pola transformatif, yakni menjadi pemimpin yang mengabdikan kekuasaan untuk kebahagiaan warganya.
 
Memang, dari setiap pemimpin baru yang telah lahir, kita yakin bahwa tidak ada yang sempurna. Semua memiliki keterbatasan dan kelemahan. Banyak diantara pemimpin baru kita yang telah berbuat salah sebelumnya, tetapi seberapa jauh jalan salah yang telah dilalui, masih ada waktu untuk mulai memperbaiki dan mengubah haluan. Makanya, pemimpin adalah mereka yang tidak berpikir biasa, tetapi memungkinkan. Pemimpin yang berhasil menurut saya adalah pemimpin yang sabar dengan segala tekanan dan resiko. Hanya pemimpin-pemimpin baru itu sendiri yang mampu menjawabnya

You may also like

4 thoughts on “IQRA ; MERAWAT HARAPAN, MENGELOLA KEKECEWAAN”

  1. Dengan tidak merubah makna akan lebih apik jika Judul Artikelnya di balik, agar lebih positif dan lebih cocok dgn karakter Ramah ke 2 pemimpin Gorut ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *