Skip to main content

INGATAN

Dalam diam, setiap orang selalu berupaya mengingat, yang pasti masa lalu.

Hikmah pandemi ini adalah viralnya tes ingatan “kapan pertama kali kenal dan bertemu”. Semua orang berupaya mengingat masa lalu dan hubungannya dengan orang lain. Baik dalam suka maupun duka.

Setiap orang dipaksa untuk mengupas kerak-kerak masa lalu, membongkar hal lampau yang sudah berlumut.

Mengingat adalah salah satu upaya manusia yang sering terabaikan. Mengingat adalah aktifitas purba yang jika tidak dikendalikan dengan baik bisa berujung buruk, bahkan bisa mengundang perang.

Proses mengingat itu tidak tunggal, atau hanya melalui kesadaran individual, ada kontribusi lingkungan dalam mewarnai proses itu.

Pertanyaan paling penting dari mengingat adalah mengapa dan kenapa lupa? Setiap ingatan selalu berhubungan dengan lupa. Lupa bisa jadi membahayakan jika itu bersifat kolektif. Lupa bisa saja dialami manusia, tapi jika melupakan adalah sesuatu yang kolektif itu bisa saja adalah upaya pemutusan memori kolektif, penyangkalan pada sesuatu yang harus dikubur.

Karena itu, mengingat harus beriringan dengan keadilan, perlu adanya keadilan pada ingatan. Bisa saja pengaruh kekuasaan yang terlalu over, sebuah rezim berupaya menutupi fakta-fakta agar tak jadi ingatan kolektif. Rezim hanya membuka dan mengembangkan ingatan yang positif terkait proses kekuasaan yang sedang dijalankan.

Begitu pun pada hal yang viral saat ini, kita semua pasti khawatir dan panik jika yang diingat rekan kita terkait masa lalu adalah aib atau sesuatu yang memalukan. Walaupun masa lalu itu faktual, namun banyak orang yang tidak bersedia masa lalunya diungkap dan digerogoti. Pada tahap ini, kita adalah makhluk yang tak mampu berlaku adil, termasuk pada ingatan orang lain terhadap kita. Ada selalu penyangkalan jika itu negatif.

Saat ini, menutup ingatan di era digital saat ini terlalu sulit. Bisa jadi kita menutup itu, tapi ada media yang beragam untuk merekam itu. Media bisa jadi monumen pengingat di masa akan datang tentang kita hari ini.

Jika dulu manusia hanya mengandalkan otak untuk mengingat, lalu mulai menggunakan bantuan alam, hingga saat ini ada media untuk menyimpan ingatan.

Pengembangan teknologi penyimpanan kita sudah begitu canggih yang dimulai dari yang terkecil byte, kilobyte, megabyte, gigabyte, terabyte, petabyte, dan exabyte yang terbesar. Kecepatan mengakses memori pun semakin tinggi.

Selama ini bisa kita temukan di Facebook atau Instagram ada postingan “simpan disini dulu ah”, itu pertanda bahwa memori sudah tidak sanggup untuk menyimpan. Harus dibantu media sosial untuk menyimpan.

Pandemi yang sementara berlangsung pun adalah data dan fakta yang sangat besar, perlu banyak memori untuk menyimpannya. Hingga suatu saat, memori ini bukan sekeda ingatan, tapi juga pengetahuan yang bisa jadi alat analisis terhadap kemungkinan-kemungkinan pandemi yang serupa di masa akan datang.

Pandemi yang pernah terjadi pada kurun waktu tahun 1300-1400 adalah pengalaman kolektif hingga melahirkan banyak inovasi kala itu. Demikian pula pandemi Flu Spanyol awal tahun 19 an. Ketersediaan ingatan yang terbatas pada setiap peristiwa bisa membuat kita kekurangan alat analisis di masa akan datang.

Oleh sebab itu, jangan memperlakukan ingatan dengan sembarangan. Bisa jadi ingatan yang dianggap sederhana dan receh pada masa kini, adalah pengetahuan besar di masa akan datang untuk memecahkan persoalan.

(Pernah mengambil mata kuliah “Politik Ingatan dan Kekerasan Kolektif” di Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *