Skip to main content

INDONESIA UTARA

indonesia utara

Di sela-sela Asean Mayor Forum di Bangkok, Thailand, banyak perspektif menarik soal kerjasama antar negara dalam kawasan Asia Tenggara.

Forum ini memberikan perspektif mengenai pengembangan kawasan di Asia Tenggara. Walikota dan Bupati serta Gubernur yang hadir dalam forum ini memiliki komitmen untuk memperkuat kawasan ini.

Di sela-sela forum itu, saya juga bertemu Pak Hadi Suprayoga, mantan Dirjen PDT dan kini di Bappenas. Pak Hadi memberikan inspirasi menarik soal bagaimana kawasan utara Indonesia bisa terhubung dengan praktis. Sebab, distribusi logistik mesti ditunjang oleh jalur perhubungan yang terhubung antar satu daerah dan daerah lain dalam kawasan tersebut. Selain itu, juga menghubungkan mobilisasi penduduk antar kawasan.

Apalagi kawasan Indonesia Utara dengan jumlah 6 provinsi berhadapan langsung dengan kawasan Asia-Pasifik yang kini menjadi kawasan strategis dunia.

Jalur yang penting dikembangkan adalah jalur pesisir, sebab jalur transportasi darat membutuhkan maintenance yang tinggi. Padahal sejarah kita adalah sejarah laut juga.

Selama ini, transportasi antar provinsi, kabupaten/kota dalam kawasan masih menggunakan jalur darat. Belum maksimal jalur transportasi pesisir.

Apalagi jarak “lurus” kawasan ini lebih dekat ke Brunei Darussalam, Filipina dan Malaysia, dibanding ke Jawa. Sehingga pengembangan jalur laut juga mesti dimaksimalkan, tidak melulu dalam paradigma “aspal”.

Begitu pula dengan rumah-rumah di seputaran pesisir kawasan ini yang banyak membelakangi laut, dan menghadap jalan.

Kawasan ini menjadi lebih strategis karena keputusan mengenai Ibukota negara kini berada di Kalimanan Timur, yang secara geografis berada dekat dengan kawasan utara Indonesia.

Indonesia Utara adalah perspektif pengembangan kawasan, juga sebagai pendukung dan penyangga Kalimantan Timur sebagai ibukota Republik Indonesia. Tanpa dukungan dan disangga oleh kawasan disekitarnya, “power” ibukota akan kurang menyala.

Selama ini, Indonesia hanya disebut dan “dibagi” menurut waktu, yakni Indonesia Barat, Tengah dan Timur. Pembagian berdasarkan waktu ini juga ikut mempengaruhi paradigma pengembangan ekonomi dan kawasan.

Karena itu, Indonesia Utara adalah tesis dalam pengembangan kawasan dan ekonomi-sosial serta penguatan pertahanan-keamanan bagi negeri ini.

Paradigma “waktu” sudah usang bagi negeri kita, perlu ada keberanian untuk menafsirkan kembali soal batas, kawasan dan perspektif politik, ekonomi, pertahanan-keamanan negeri ini.

Semoga, dengan keputusan pindahnya ibukota, juga akan didukung dengan pengembangan kawasan, khususnya di utara Indonesia.

You may also like

2 thoughts on “INDONESIA UTARA”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *