Skip to main content

HATERS ITU SUNATULLAH!

haters

Siapakah manusia yang tidak memiliki haters? Sepertinya tidak ada. Haters itu adalah bagian dari kehidupan manusia. Setiap periode, zaman, abad, era, dekade, selalu ada yang memerankan sebagai haters dalam kehidupan kita.

Kita pun bisa saja menjadi haters bagi yang lain tanpa kita sadari maupun kita rencanakan. Membenci atau tidak menyukai yang lain, dalam artian negatif, adalah perilaku yang telah termaktub dalam semua kitab, setiap sejarah, setiap kejadian dan setiap masa.

Dari zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAAW, selalu ada haters bagi para Nabi tersebut. Baik yang tidak menyukai dakwah maupun aktifitas kehidupan para Nabi. Namun, ketentuan itu diterima dengan suka cita oleh para Nabi. Dalam beberapa kejadian, Allah langsung membalas pada masa itu, dalam kejadian yang lain seperti pada masa Nabi Muhammad mereka lebih banyak dimaafkan dan didoakan.

Di antara banyaknya haters para Nabi, lebih banyak jumlah lovers. Para lovers mengalami dan menjalani takdir mereka dalam hal menjadi lovers. Begitu pula dengan hatters, mereka ditentukan (takdir) menjadi begitu untuk sebagai ujian perjalanan para Nabi.

Di era saat ini, seringkali haters tidak berhadapan dengan tokoh atau sosok yang mereka tidak kehendaki, namun berhadapan dengan fans/lovers tokoh tersebut. Hal ini terlihat sangat jelas pada momentum Pilpres kemarin, tampak pembelahan antara dua kutub : cebong vs kampret. Begitu pula pada momentum politik lainnya hingga pada kontestasi antar hatters vs fans artis tertentu. Contohnya antara Team Luna vs Team Syahrini yang sengit lalu. Masing-masing merasa sebagai lovers dan pihak di sebelah adalah haters.

Karena itu, jika bisa disederhanakan, definisi mengenai haters adalah kumpulan manusia yang memiliki kecenderungan untuk membenarkan pandangan mereka sendiri tanpa ada konfirmasi, cross check, penelusuran dan dalam bahasa yang lain : tabayyun. Mereka menjustifikasi keadaan dibanding dengan sabar melakukan upaya memperbaiki diri dan keadaan.

Hari ini, haters tidak bisa dikategorikan lagi sesuai dengan latar belakang sosial, pendidikan dan ekonomi. Haters jika ia sebuah wabah, memiliki kecenderungan untuk bisa menjangkiti semua kalangan tanpa membedakan latar belakang.

Atta Halilintar, seorang Youtubers dengan jumlah subscribe lebih dari 20 juta, menganggap haters itu adalah fans yang tertunda. Baginya, hanya waktu yang membuat seseorang menentukan dirinya menjadi lovers. Selama haters masih dirundung kebencian sebagai cara pandang, maka selama itu dia tak akan mungkin menjadi lovers.

Bagi Syekh Mutawalli Asy-Syarawi, haters itu menjadi motivator bagi manusia untuk berbuat lebih baik dan benar. Menurut Syekh Mutawalli, jika seseorang tidak menemukan orang yang mendengkinya, maka ia adalah manusia yang gagal. Artinya, jika seseorang hanya berkurung dalam kamar dan tanpa interaksi sosial, maka dipastikan dia tak memiliki pendengki. Beda dengan orang yang memiliki jumlah interaksi yang tinggi, dipastikan ada orang yang mendengki dan membenci, sebab setiap gerak kehidupan selalu melahirkan kondisi biner : benar vs salah dan benci vs cinta. Hanya dengan hadirnya haters maka setiap orang dapat selalu mengoreksi dirinya secara terus menerus, mengurangi dan meminimalisir setiap kesalahan.

Karena itu, haters adalah ketentuan yang telah digariskan dalam hidup setiap orang. Suka tidak suka, mau tidak mau, hadirnya haters menjadi cambuk untuk mengoreksi diri agar lebih baik kedepan. Pertanyaannya, apakah dengan menjadi haters lalu kita bahagia? Apakah siap menjadi haters secara terus menerus, tanpa henti, tanpa istirahat? Tak adakah jalan lain untuk memperbaiki dunia ini selain dengan menjadi haters?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *