Skip to main content

HAJI

Salah seorang yang bergelar Haji dan terkenal di Gorontalo adalah Haji Bu’ulu. Haji Bu’ulu ini terkenal alim, saleh, menjadi tempat orang untuk belajar agama. Haji Bu’ulu juga memiliki beberapa Guru diantaranya di Banjar (Kalimantan Selatan), di Mekah dan di beberapa daerah lainnya.

Dulu di Gorontalo sempat ada kisah “heboh” mengenai Haji Bu’ulu. Konon, ia digelari Haji Bu’ulu karena pada saat musim Haji di bulan Zulhijah, ia naik Haji mengendarai rusa, dari Gorontalo menuju Mekah pada masa itu.

Adapun mengenai penyematan gelar “Haji” yang lebih banyak digunakan di Indonesia dan Malaysia, hal ini dipicu dari kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda dalam mengontrol setiap “alumnus” Mekkah dalam aktifitas sosial-politik-ekonomi. Itu tak lain disebabkan kekhawatiran Hindia Belanda kepada mereka yang telah berhaji dan menetap di Tanah Arab selama kurang lebih 3 bulan lamanya untuk belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka. Dan sekembalinya dari Tanah Arab, muncul ide-ide baru untuk menentang penjajahan pemerintah Hindia Belanda, utamanya pembaharuan pemikiran. Karena itu, penyematan gelar Haji di Indonesia tidak lain adalah untuk mengontrol dan menertibkan alumnus Mekkah.

Saat ini, orang Gorontalo yang berniat naik Haji harus menunggu beberapa tahun. Per tahun 2017, kuota haji untuk Gorontalo hanya 981 orang. Itu belum terhitung dengan daftar tunggu 8.567 calon jamaah haji yang sudah mendaftar. Artinya, daftar tunggu mencapai 11 tahun. Gorontalo termasuk daftar tunggu terpendek di Indonesia, sama dengan Maluku, dan Sulawesi Utara.

Di daerah lain, daftar tunggu lebih lama lagi. Warga Aceh harus menunggu seperempat abad atau 24 tahun. Kalimantan Selatan 29 tahun. Dan di Sulawesi Selatan hampir setengah abad, yakni 39 tahun.

Soal Haji juga menjadi topik menarik dalam Pilpres 2019 kemarin. Jokowi kemarin melobby Raja Salman untuk menambah kuota Haji Indonesia sebesar 10 ribu kuota dari kuota per tahun yang mencapai 220 ribu calon jamaah haji dengan total 4 juta orang jamaah haji yang masuk daftar tunggu. Itu artinya, daftar tunggu tinggal 3.990.000 jamaah haji.

Sedangkan Prabowo, pada masa kampanye lalu menggagas Bank Tabungan Haji sebagai alternatif dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang dibentuk Jokowi tahun 2018.

Berbicara soal Haji, saya teringat film Le Grand Voyage, sebuah film yang luar biasa dan mampu menguras emosi soal perjalanan haji. Saya memberi poin 8/10 untuk film ini.

Dalam film Le Grand Voyage, haji bukan saja tuntutan bagi umat Islam, tapi juga adalah kebahagiaan. Haji adalah perjalanan ruh.

Bagi seorang Mohamed Majd (ayah Reda dalam film Le Grand Voyage), haji adalah perjalanan agung seorang manusia muslim, bukan sebagai pelengkap semata. Pun sama halnya dengan prinsip Haji Bu’ulu yang terkenal itu. Haji adalah perjalanan ketakwaan, bukan perjalanan politik, apalagi tamasya.

Karena itu, menggugah kesadaran soal haji khususnya bagi umat Islam di Indonesia menjadi sangat penting. Dalam konteks makro, kebijakan pengelolaan dana haji selama ini seperti pengelolaan urusan dagang, yang dihitung adalah soal untung dan rugi dalam hal pengelolaan. Bukan soal bagaimana orang bisa berhaji secara murah, nyaman, dan tidak perlu masuk daftar tunggu hingga seperempat bahkan setengah abad.

Pun begitu juga dengan puluhan juta alumnus Mekah yang telah bergelar Haji, dan yang kini sedang berada di Arafah untuk melakukan wukuf. Bahwa saat ini keteladanan di Indonesia sangat minim. Kita mencarinya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Keteladanan alumnus Mekah menjadi urgen untuk disemai dan disebarluaskan.

Sebagai penutup, kata-kata Mohamed Majd dalam perjalanan darat menuju Mekah di film Le Grand Voyage menjadi penting untuk kita ambil hikmahnya ; “Saat air laut naik ke langit, rasa asinnya hilang dan murni kembali. Air laut menguap naik ke awan. Saat menguap, ia menjadi tawar”.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *