Skip to main content

Gus Dur, Kecacatan Fisik dan Gorontalo Kita

Terbilang dua kali saya bersua dengan Gus Dur, perdananya ketika ia masih menjabat sebagai Presiden RI yang kala itu memberikan khotbah Jum`at di Masjid Gede Kauman Kompleks Keraton Yogyakarta. Kala itu Gus Dur menegaskan tentang pentingnya soliditas umat dan bangsa ini, yang tempo itu sedang terjerumus pada konflik-konflik lokal. Bagi Gus Dur, semangat pluralisme yang ada telah terkikis oleh perubahan sosial yang begitu cepat. Neo liberalisme yang semakin merajalela tak sanggup ditahan apalagi dikelola. Namun, di satu sisi Gus Dur yakin tentang modal sosial bangsa ini yang tangguh bertarung melawan zaman.

Perjumpaan saya yang kedua dengan Gus Dur ketika mengikuti ceramah di Ciganjur Jakarta. Pesantren yang diasuh Gus Dur ini menjadi sentrum perkembangan wacana Islam alternatif dan pokok-pokok kebangsaan. Setelah itu saya lebih banyak mengenal Gus Dur dari teks-teks yang pernah ia tulis dan pemikirannya yang ditulis orang lain. Selain itu, saya banyak menyimak pandangan beberapa dosen saya semasa di Yogyakarta tentang pemikiran Gus Dur.

Ketika menyaksikan detik-detik wafatnya Gus Dur melalui layar kaca, dan menyimak dengan takjub prosesi pemakaman di Tebuireng barulah saya sadar bahwa bangsa ini telah kehilangan seorang raksasa intelektual. Intelektualitas yang dimiliki Gus Dur telah menembus ruang dan waktu. Gus Dur telah berhasil menghujamkan pokok-pokok pembaharuan dalam Islam dan Indonesia kita. Nasionalisme yang sesungguhnya telah ia tunjukkan, bahwa nasionalisme bukan dalam petikan ras, tetapi kemerdekaan dan kebebasan pada harkat kemanusiaan.

Kekuatan Gus Dur yang sebenarnya bukan berada pada fisik, tetapi pada akal dan nurani yang telah terbebaskan. Kecacatan fisiknya tidak menjadi penghalang untuk mendesakkan agenda perubahan mendasar di bidang kemanusiaan dan peradaban. Keterbatasan fisik yang dimilikinya bahkan telah mampu ia taklukkan dengan daya eksplorasi politik yang luar biasa. Belum lagi jika kita ulas pemikiran teologi Gus Dur yang telah menjadi inspirasi tidak saja bagi kalangan Nahdlatul Ulama (NU), tetapi sebagian besar pemikir keagamaan.

Bagi saya, Gus Dur telah berhasil mengawinkan tiga simpul yakni simpul intelektual, politik, dan spiritual. Pada ketiga simpul itu, Gus Dur berhasil mencapai puncaknya. Di sisi intelektual, pemikiran Gus Dur telah berhasil menjadi salah satu kompas inteletual bangsa ini. Di ranah politik, aktifitasnya telah berhasil mengantarkannya pada pucuk pimpinan bangsa ini, Presiden. Dan di wilayah spiritual dan keagamaan, Gus Dur berhasil menjadi pemimpin lembaga keagamaan terbesar di Indonesia, NU. Artinya, cacat fisik tidak menjadi penghalang baginya untuk melakukan eksplorasi kemanusiaan.

Di ranah lokal, yakni Gorontalo, kenangan tentang Gus Dur sangat luar biasa. Gus Dur yang saat itu menjabat Presiden telah meresmikan UU Pembentukan Provinsi Gorontalo pada tahun 2000. Pintu inilah yang menjadikan bangsa Gorontalo bisa menjadi dirinya sendiri. Kemerdekaan lokal ini bisa kita rasakan hingga hari ini. Indeks Pembangunan Manusia yang semakin naik persentasinya adalah salah satu dari sekian banyak konsekuensi dari lahirnya sebuah teritori baru; Provinsi Gorontalo.

Walaupun pada saat kunjungan kerjanya, Gus Dur sempat disambut dengan cara yang tidak selayaknya, namun Gorontalo tetap lekat dalam ingatannya. Bahkan sebagai penanda ke-Gorontalo-an, Gus Dur kerap menggunakan upiya karanji (kopiah keranjang khas Gorontalo yang terbuat dari anyaman rotan).

Sepeninggalnya Gus Dur, semakin banyak pelajaran penting terkuak untuk bangsa kita. Banyak kenangan yang telah ditorehkan Gus Dur baik dalam pemikiran keagamaan dan kemanusiaan serta eksplorasi politik. Gus Dur telah mampu melampaui zaman. Ia telah berhasil mendorong paradigma alternatif inteletual, politik dan keagamaan untuk mendapat tempat yang layak. Gus Dur dengan segala kecacatannya telah memberikan sumbangsih berharga bagi fondasi peradaban kita. Tetapi, dari sekian banyak hal yang telah Gus Dur patok, masih banyak pula pandangan yang remeh tentang sikap Gus Dur yang selama ini masih menggelayut manja dalam benak kita. Kecacatan fisik yang kita perolok-olok selama ini telah menutup pintu “belajar” kita pada apa yang luar biasa di dalam diri Gus Dur.

Bangsa kita luput bahwa sebenarnya lebih baik cacat fisik daripada cacat mental. Problem dasar bangsa kita adalah persoalan mentalitas kebudayaan dan pola pikir yang terlalu bedebah. Bangsa kita lebih senang berlama-lama di depan cermin untuk mengatur penampilannya agar lebih mentereng di depan publik. Bangsa kita terlalu senang pada lifestyle yang mencerminkan derajat modernitas. Bangsa kita terlampau asyik dengan kompetisi di ranah praktik konsumsi untuk merayakan diferensiasi identitas yang tampak. Kita tak pernah sadar bahwa perbuatan itu telah menjauhkan kita dari harkat kemanusiaan ita yang semestinya.

Kecacatan Gus Dur telah membuka batok kepala kita bahwa kesempurnaan fisik tidak menjamin kesempurnaan mental kita. Eksplorasi politik yang telah ia tunjukkan dengan senantiasa berada di ruang “berlainan” dengan penguasa adalah contoh terbaik bagaimana kekuasaan diperlakukan. Dan pemikiran keagamaan yang ia suguhkan telah berhasil meraih simpati bahkan pengikut dalam skala massif untuk senantiasa merayakan kemajemukan dan kebangsaan.

Dalam konteks Gorontalo, kepergian Gus Dur semestinya kita jadikan sebagai momentum reflektif bersama untuk mengingat dan merenungi tingkah kita dalam berkemanusiaan. Politik lokal Gorontalo yang selama ini saling memangsa dan menaruh kebengisan sebagai elan vital mesti kita robah dan transfromasi. Politik yang seharusnya dikemukakan adalah politik pengabdian dan kemanusiaan.

Gus Dur bisa wafat, tetapi harapan untuk terus menumbuhkan semangat kemajemukan dan penghargaan pada manusiaan tetap mesti kita rawat dalam benak kita masing-masing.

PS : Catatan ini dibuat dalam rangka peringatan Haul Gus Dur ke 10.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *