Skip to main content

GORONTALO ; PROVINSI TERPANAS DAN BANJIRPOLITAN


Laporan BMKG pad Maret 2022 menyebutkan jika Gorontalo adalah provinsi terpanas di Indonesia. Hanya beda 0.2 dengan Sentani, Papua.

Pada tahun 2017, jumlah luas kawasan hutan sebesar 764.881 hektar, pada tahun 2016 sekitar 786.726 hektar. 4 tahun sebelumnya, di tahun 2013, luas hutan masih sekitar 824.668 hektar.

Artinya, selama 2013 – 2017, ada sekitar 59.787 hektar luas kawasan hutan yang berkurang. Angka itu sama dengan DELAPAN kali luas wilayah Kota Gorontalo.

Padahal, pada tahun 2010 saja, luas hutan sudah berkurang 21 ribu hektar karena alih status kawasan taman nasional Bogani Nani Wartabone dibawah penguasaan kontrak karya dari PT. Gorontalo Minerals.

PANAS DAN PANAS SKALI

Jadi, kenaikan suhu hingga Gorontalo menduduki peringkat pertama Provinsi Terpanas di Indonesia adalah akibat dari deforestasi yang sangat tinggi. Sehingga, dalam banyak diskusi warga, hanya dua musim di Gorontalo ; panas deng panas skali.

Kenaikan suhu ini juga berakibat pada konsumsi pendingin ruangan (AC) yang tinggi. Dulu, AC bagian dari status sosial, tapi akibat naiknya suhu cuaca dari tahun ke tahun, AC menjadi kebutuhan utama. Hingga industri mesin pendingin diperkirakan naik 7% pada tahun 2019. Total nilai pasar mesin pendingin udara sebesar 10 triliun.

Kebutuhan AC ini bergerak naik semenjak bangunan-bangunan mulai didesain pendek dengan sistem ventilasi yang terbatas. Padahal, jika melihat kearifan lokal dalam membangun rumah, termasuk di Gorontalo, banyak rumah yang dibangun dengan atap tinggi dan banyak ventilasi. Leluhur Gorontalo paham bahwa dengan suhu yang agak tinggi karena berada di dekat garis khatulistiwa, maka mereka membangun rumah dengan desain itu karena yakin bahwa ruangan bisa dingin dengan sirkulasi angin yang maksimal. Ini berbeda dengan pemahaman desain bangunan hari ini, utamanya kantor-kantor yang dibangun tanpa jendela, sebab mengandalkan AC semata sebagai pendingin ruangan.

Penggunaan pendingin udara yang berlebihan tentu berdampak pula pada menurunnya kesehatan masyarakat. Kurangnya sirkulasi udara segar karena menggunakan AC membuat potensi penyebaran kuman, bakteri, dan virus menjadi lebih tinggi. Hal ini berdampak pula terhadap sistem kekebalan tubuh yang mengalami penurunan karena kondisi udara sekitar yang terbilang lembap. Penggunaan AC yang terus meningkat ikut menaikkan tingkat konsumsi listrik.

Selain penggunaan AC yg terus meningkat, salah satu “dampak kecil” dari panasnya Gorontalo, sebagian besar supply sayur mayur untuk Gorontalo dalam beberapa tahun terakhir sudah bukan lagi dipasok dari kampung-kampung di Gorontalo, tapi sebagian besar dari Sulawesi Utara. Sayuran dari Gorontalo yang bisa dihitung “swasembada” hanyalah kangkung. Tapi, jika jenis sayur mayur lain, lebih banyak dipasok dari Provinsi lain, termasuk buah-buahan.

BANJIRPOLITAN

Dari tingkat deforestasi yang seperti data diatas, sejak tahun 2000 hingga 2017 banjir di Gorontalo memang mengalami kenaikan. Hal tersebut berbanding lurus dengan peningkatan pengurangan lahan hutan alam, hingga pengurangan kawasan hutan menjadi faktor pendukung terjadinya banjir di Gorontalo. Bahkan, jika masuk musim penghujan, banyak yang menyebut Gorontalo sebagai Banjirpolitan.

Hal tersebut terlihat dari data BNPB yang menyebutkan banjir di Gorontalo setiap periode mengalami peningkatan, selama kurang lebih 10 tahun yakni pada tahun 2000 hingga 2009 saja tercatat ada 32 kejadian banjir.

Pada tahun 2009 hingga 2017, kejadian banjir meningkat hampir tiga kali lipat dari periode tahun 2000 hingga 2019. Total ada 113 kali
kejadian banjir pada kurun waktu 2009 – 2017.

Kalau dihitung rata-rata per tahun, pada periode 2000 – 2009, ada sekitar 3 kali kejadian banjir per tahun. Tapi, pada 2009 – 2017, terjadi sekitar 14 kali banjir setiap tahun.

Dampak ini tentu sangat menyengsarakan, baik dalam cuaca panas maupun hujan. Data kemunduran selama 10 tahun terakhir adalah akibat dari lalainya Pemerintah dalam memproteksi, merawat dan melestarikan lingkungan termasuk menjaga hutan. Sebab, kendali regulasi termasuk perizinan pengelolaan kawasan hutan, berada di tangan pemerintah.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir saja seperti ini, bagaimana 20 – 30 tahun akan datang. Hal ini akan berdampak kerugian multi aspek.

BPPD Provinsi Gorontalo pada tahun kejadian banjir di Juni 2020, mencatat ada kerugian sekitar 38 Milyar. Bisa kita bayangkan, jika intensitas banjir yg terjadi sekitar 14 kali per tahun, dengan merujuk pada kejadian banjir selama periode 2009 – 2017, berarti triliunan rupiah kerugian yang ditanggung bersama akibat kejadian banjir.

Hal ini sangat timpang dengan pendapatan asli daerah Gorontalo, baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota yang jika diakumulasikan tidak sampai 1 triliun rupiah.

Itu baru dari banjir saja, belum lagi dampak lainnya dari kesalahan pengelolaan lingkungan (hutan).

Efek berlipat dari data-data diatas cukup merugikan kita dalam jangka panjang jika kita tidak bisa dikelola dengan baik sejak hari ini.

Perlu adanya komitmen bersama, upaya dan ikhtiar bersama dalam menjaga alam kita, sebab jika hari ini kita mewariskan kerusakan, maka suatu saat nanti anak cucu kita pasti akan mengutuk kita yang ada pada periode saat ini.
..

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *