Skip to main content

GORONTALO DARURAT KEPAHLAWANAN

Apakah ada harga patriotisme yang dipraktikkan Nani, Kusno, Pendang, Sagaf Alhasni pada 79 tahun silam?. Tak ada bandingan. Harga patriotisme mereka melebihi apapun yang ada di dunia ini.

Mereka yang menyatu dalam Komite 12 untuk kemerdekaan 23 Januari 1942 adalah iringan keberagaman Indonesia. Ada Gorontalo, Jawa, Arab, Cina, Minahasa dan banyak etnis lainnya. Ada Islam, Budha, Kristen dan Konghucu.

Patriotisme 23 Januari 1942 adalah kumpulan energi kebaikan untuk republik. Tak membedakan ras, agama apalagi golongan.

Namun, harga patriotisme harus dibayar Nani, Kusno dan Pendang dengan jeruji besi. Nani dihukum 15 tahun penjara, Kusno 7 tahun, Pendang 9 tahun. Ketiganya mendekam di penjara kolonial untuk waktu yang lama. Disiksa oleh kebengisan kolonial.

Perlu diingat, bahwa 23 Januari 1942 itu bukan pesta pora dan gegap gempita saja. Ada air mata, ada darah, ada jeruji besi, ada siksaan, ada pengasingan, ada pukulan bedil.

23 Januari 1942 bagaikan berlian tak terkira nilainya. Kita hanya menikmati apa yang telah dicapai dengan melalui tulisan, film, upacara, patung dan perayaan pendek hingga untaian kata melalui flyer yang ditambahi foto-foto diri sebagai pemanis gambar.

Kita hanya memperlakukan 23 Januari 1942 seperti seonggok barang, sekedar lewat, hanya story Instagram yang berusia 60 detik. 23 Januari 1942 bagi kita hanyalah momentum harian, setelah itu berlalu bersama angin. Tak ada secuil keteladanan yang kita maknai, serap dan jiwai.

Wajar jika kita hanya bermandikan peluh kebencian antar sesama, saling meniadakan, menggergaji antar kita. Sebab tak ada satupun nilai kepahlawanan yang kita hirup hingga masuk pada sulbi.

Pahlawan Imajinatif

Pada kedaruratan itu, yang tersisa pada anak-anak dan juga kaum muda kita adalah penyakit amnesia kepahlawanan. Banyak di antara mereka yang mulai sulit mengenal, menyukai apalagi menghayati semangat kepahlawanan yang lalu. Mereka berada dalam memori kekinian yang dipenuhi idola baru dengan bungkus yang lebih aduhai. Bagi mereka, tokoh-tokoh pahlawan adalah barisan hero produksi Marvel seperti Iron Man, Kapten Amerika, Thor, Spider-Man, X-Men, Hulk, Fantastic Four, dan banyak tokoh komik lainnya. Bahkan, beberapa tokoh imajinatif Marvel itu dikelompokkan sebagai Super Hero Avengers. Nama-nama terbaru yakni ; Black Panther sebagai Raja Wakanda, Vision, Nebula dan banyak tokoh lainnya dalam Infinity Wars. Barisan “pahlawan super” ini berhadap-hadapan dengan Thanos, tokoh yang dikenal sebagai penghancur peradaban bumi. Sosok Thanos bahkan diakui oleh Presiden Jokowi dalam salah satu pidatonya.

Anak-anak muda yang tidak terwariskan oleh sejarah kepahlawanan yang benar-benar dari bangsa kita sendiri, malahan dijejali oleh semangat kepahlawanan imajinatif. Mereka lebih bangga menceritakan kisah kepahlawanan versi Marvel dan DC Comics. Selain dari tokoh Marvel diatas, DC Comics juga melahirkan tokoh superhero seperti Superman, Batman, Wonder Woman, Flash, Green Lantern dan the Justice League of America dan lainnya.

Pahlawan “Salon Politik”

Bagi yang berusia diatas 30 an, memori kepahlawanan pun mulai terkelupas. Memori mereka dijejali oleh gerombolan manusia baru yang tidak memiliki jejak kepahlawanan, dan bahkan lebih banyak jejak kebejatan, namun kini menjadi idola baru dan bahkan diagung-agungkan. Modal rupiah untuk membeli “space” di media dan membiayai “salon” politik telah berhasil membuat banyak warga kita ikut mengidap amnesia kepahlawanan yang hakiki. Banyak diantara warga kita yang lebih menyenangi kisah turun ke got dan marah-marah di hadapan kamera dibanding mengingat serta menghayati memori pahlawan masa lalu yang tewas digantung, ditebas, diasingkan, dan dipenjara. Media berhasil mengupas dan menggantikan pahlawan yang berdarah-darah itu dengan alumnus salon “media” dan “politik”.

Adalah sebuah kepastian jika kita akan kehilangan arah, bahkan mengarah pada amnesia kepahlawanan yang kolektif. Pengorbanan dan kecintaan pada jazirah ini akan kehilangan ruh. Jika ini berlangsung lama dan menjadi kolektif, maka bisa dipastikan jazirah ini di masa depan akan tekuk lutut pada sejarah-sejarah yang instan, dan berlogika pendek (ekonomi-politik).

Pahlawan ; Bukan “Aku”, Tapi “Kita”

Saat ini, lebih banyak yang mengagumi pahlawan hasil kreasi “salon politik” dibanding pahlawan yang sebenarnya. Sebab, pahlawan hasil kreasi “salon” adalah “pahlawan” yang minta dihargai jika bekerja, dan itu harus merujuk pada dirinya. Padahal, tindakan kepahlawanan adalah berkerja untuk sesama tanpa minta dihargai. Di dalam tindak kepahlawanan “tak ada aku”, “yang ada adalah kita”.

Mereka yang ditakdirkan menjadi Pahlawan adalah yang telah melakukan pengorbanan atas nama cinta, baik itu ke tanah air dan Tuhannya. Tidak ada lagi “aku” dalam diri mereka. Mereka telah membuktikan pengorbanan itu baik dengan air mata, harta dan darah. Kita hanyalah penikmat hasil pengorbanan mereka. Semoga kita dapat diberikan kesempatan untuk bersyukur atas pengorbanan mereka, dan hingga akhirnya kita minimal bisa berkorban seperti mereka.

Al Fatihah untuk seluruh Pahlawan yang tercatat dan tidak tercatat. Semoga kita bisa meneladani itu semua. Keteladanan dari Nani dan kawan-kawan pejuang 1942.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *