Skip to main content

GEMPAL, DI GAGASAN MAUPUN DI TUBUH

Sore tadi, saya membuka grup WhatsApp, pandangan mata saya tertuju pada foto cover buku. Cover buku tersebut mengingatkan saya 12 tahun lalu, tahun 2008.

Kala itu, pada medio 2008, saat saya menjabat sebagai Ketua Umum PB HPMIG, terlibat dalam penyusunan sebuah buku bersama beberapa kolega.

Buku itu diberi sub judul Menembus Mata Hati Gorontalo. Sub judul itu sebuah upaya untuk memotret perjalanan karir seorang lelaki bertubuh gempal. Yang saya ingat dengan terang, sekitar beberapa hari bibir danau Limboto, buku ini dirampungkan. Kala itu, sambutan publik lumayan ramai.

Lelaki bertubuh gempal tersebut memang lelaki yang disiplin, tegas namun ramah. Ia tak sungkan-sungkan melakukan mutasi aparat hingga daerah-daerah pelosok. Dia mau hanya satu : kinerja tinggi.

Majalah Tempo tahun 2008 menerbitkan salah satu edisi khusus Kepala Daerah Terbaik, si lelaki gempal tersebut masuk dalam jajaran tsrsebut. Ia dianggap berprestasi karena banyak hal baru yang ia lakukan.

Di Kick Andy pada awal 2010, lelaki tersebut menjadi tamu spesial. Ia menceritakan soal pemerintahan yang selalu turun ke bawah, ke desa maksudnya. Ia ingin mendekatkan pemerintahan dengan rakyat tanpa batas dan jarak. Ia sadar betul bahwa tak bisa ada “social distancing” dengan rakyat.

Sempat dia ikut pemilihan Gubernur pada tahun 2011 berpasangan dengan Pak Nelson Pomalingo, Rektor Universitas Negeri Gorontalo kala itu. Walaupun tak memenangkan pertarungan, tapi Pilgub 2011 adalah Pilgub yang paling keren, sebab semua kandidat menghadirkan adu gagasan membangun Gorontalo yang begitu luar biasa. Pada ujung pertarungan gagasan itu, lahirlah Pak Rusli dan Pak Idris sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur.

Sebagai “petarung ide”, lelaki itu tak pernah berhenti mempertarungkan gagasannya. Ia lalu ikut Pemilihan Gubernur Sulawesi Utara tahun 2015. Dia dengan Benny Mamoto meraih 31 % suara, beda 20 % dengan Olly Dondokambey – Steven Kandow.

Dua kali terhempas di perjuangan politik membuatnya pensiun. Ia malah masuk partai politik Nasdem yang menjadi pelabuhan politiknya terakhir.

Berpolitik adalah warisan ideologis leluhurnya, Raja Panipi. Memperjuangkan gagasan, agenda dan ide adalah tujuan utama, partai politik dan kursi pemerintahan baginya hanya instrumen sekunder, sebagai alat semata.

Kini, ia telah tiada. Ia meninggalkan banyak hal, salah satunya adalah model tata kelola pemerintahan yang lebih dekat pada rakyat. Walaupun ada kekurangan dan kelemahan, itu tak menjadikan sebagian besar rakyat Gorontalo tidak berduka. Dia dianggap sebagai salah satu tokoh besar Gorontalo.

Selamat jalan Pak David Bobihoe, si lelaki bertubuh gempal. Gempal bukan saja di fisik, tapi juga di gagasan

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *