Skip to main content

LOBSTER, BANSOS DAN ENERGI ANTI KORUPSI

Setelah dua minggu terakhir ini menjadi trending topic di berbagai media sosial, Edhy Prabowo dan Ari Batubara menjadi orang paling terkenal di seluruh belahan Indonesia.

Hampir semua orang mengekspresikan kebencian dan ada pula yang menertawakan. Setiap yang punya gadget ikut dan berusaha menjadi yang pertama membagikan hinaan dan celaan mengenai mereka berdua.

Semua ilmu usil dan membuat kata/gambar dalam bentuk meme yang terlucu dan terhina keluar. Semua mengeluarkan ilmu kreatifnya dengan satu tujuan mempermalukan dan menghina sehina-hinanya mereka berdua. Ini adalah energi dalam melawan korupsi secara massif. Ini adalah akumulasi kekecewaan terhadap korupsi yang telah mengakar selama ini di Indonesia.

Tapi, kita semua mesti cepat sadar, bahwa energi besar bukan hanya untuk mereka saja. Masih banyak perilaku dan pelaku korupsi lain yang perlu dijadikan sebagai bahan refleksi untuk dicarikan cara melawan dan menghindarinya.

Hingga kemarin, Edhy Prabowo dan Ari Batubara telah dijadikan tahanan KPK walaupun masih dalam status tersangka. Maka, perhatian publik yang semuanya tertuju pada mereka berdua mesti segera dibangunkan lagi, bahwa bukan hanya hanya mereka berdua yang menjadi pelaku korupsi di Indonesia. Banyak pelaku korupsi di belahan bumi ini. Apakah yang sudah terungkap atau belum.

Sambil mengawasi, mengawal dan memantau pelaksanaan proses hukum terhadap mereka berdua, dengan segala hormat bahwa tindakan kolektif kita terkait menghina dan mem-bully terhadap keduanya sudah melampaui batas. Bahwa mereka berdua adalah koruptor dan segala tindak tanduknya telah menjadi catatan kelam sejarah bangsa Indonesia. Tapi energi kolektif jangan dihabiskan hanya untuk seorang saja, ada banyak orang yang sedang memanfaatkan momentum “lobster” dan “bansos” ini untuk mengalihkan perhatian dari isu yang lebih besar dan urusan korupsi yang lebih menjalar.

Maka, energi anti korupsi harus dikelola dengan baik, jangan ditumpahkan sekaligus. Deretan kasus korupsi masih banyak yang harus diawasi dan dipelototi. Jika energi perlawanan ini tidak dikelola dengan baik, maka boleh jadi apa yang dikatakan Pierre Bourdieu mengenai habitus akan terjadi. Habitus terhadap korupsi sangatlah bahaya, yakni akan lahir situasi dan kondisi dimana korupsi menjadi sesuatu yang biasa, normal dan wajar. Jika energi perlawanan tidak dikelola dengan baik, maka perlawanan di tahap berikut akan sangat mudah diratakan dengan tanah. Publik yang telah capek akhirnya menyerah dan membiarkan keadaan terjadi begitu saja. Korupsi pun menjadi tampak normal, biasa dan bahkan mungkin sah terjadi.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *