Skip to main content

DESEMBER DAN KESENANGAN SEMU

Apa dan dimana batas “senang”?. Apakah senang itu harus ditafsirkan ketika mendapat jabatan, harta, merayakan momentum tertentu atau hal-hal materiil lainnya? Ataukah senang bagi manusia adalah sesuatu tanpa batas?

Sejauh dan selama kita hidup, senang selalu ada batas. Hanya dengan ada batas, “sesuatu” menjadi lebih seimbang. Sebab, jika senang tidak dibatasi, maka akan memasuki atau mengambil porsi senang orang lain.

Kadar “senang” untuk setiap orang memang berbeda, namun setiap manusia selalu butuh senang, kesenangan, disenangkan, menyenangkan, disenangi. Itu garis manusiawi secara lahiriah. Senang membuat dunia ini lebih semarak dan lebih tentram.

Di hari-hari belakangan ini, kecemasan akan kehilangan kesenangan semakin naik frekuensinya. Bukan saja cemas, tapi merasa terancam terenggut dari perasaan yang selalu senang. Situasi dan kondisi yang tidak seimbang membuat alam dengan sendirinya akan menetralkan kondisinya. Bagi yang berlebih senangnya, akan coba ditarik ke kutub yang kurang senangnya, sudah menjadi hukum alam untuk selalu menjaga keseimbangannya.

Hukum alam bekerja untuk menjaga batas tidak dilampaui. Hukum alam mengitari kita untuk senantiasa patuh pada aturan keseimbangan. Jika melawan atau melampaui batas, keseimbangan pasti berkurang atau mungkin hilang.

Maka, pada beberapa kalangan terbatas, kesenangan itu diukur sekaligus dibatasi. Bahwa senang harus ada batasnya, senang tidak boleh berlebihan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, senang haruslah dikekang, diikat dan bahkan harus dipendam.

Dalam kaidah teologis, puasa adalah salah satu cara untuk mengekang senang. Pilihan kata “kekang” untuk senang diibaratkan seperti liarnya kuda yang harus dibatasi dengan kekang. Puasa bukan saja dilakukan dalam waktu tertentu, tapi sepanjang masa dan keadaan dengan praktik dan kadar yang sesuai. Puasa juga bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, lebih daripada itu.

Puasa kesenangan adalah bagian dari metode untuk menyeimbangkan diri, menetralkan kondisi, dan mengembalikan ke titik normal. Puasa kesenangan bisa saja terwujud dalam mengurangi kesenangan berkuasa, kesenangan memimpin, kesenangan berharta, kesenangan menjabat, kesenangan dihormati, kesenangan dipuji, kesenangan dilayani dan ragam kesenangan sementara lainnya.

Kesenangan diatas adalah ragam dari banyaknya tipe kesenangan. Puasa kesenangan bukan untuk menghilangkan, tapi mengurangi, menahan, mengekang dan mengerem, semata-mata agar tidak berlebihan. Puasa kesenangan ini agar diri bisa lebih tahu diri jika bukan pada kondisi yang menyenangkan namun masih bisa tetap “senang”. Sehingga, kesenangan ini hanya menjadi semacam “kondisi” yang bisa hinggap maupun lewat.

Desember banyak disebut orang sebagai bulan kesenangan. Ada libur yang panjang, ada pesta yang gelimang, ada makanan yang tumpah ruah, ada pesta kembang api, ada pesta diskon, dan banyak kesenangan lainnya. Orang secara lahiriah ingin menjadikan Desember sebagai bulan penutup yang menyenangkan, yang penuh kesenangan.

Di setiap kesenangan selalu ada perlombaan keinginan, dan di setiap keinginan selalu ada penderitaan. Desember adalah salah satu bulan yang dipenuhi keinginan manusia. Ketika keinginan berlebihan, pada titik itu ada penderitaan, karena tidak lagi mengikuti kaidah alam.

Maka, memaknai Desember, yang juga bulan kesenangan, semestinya menjadi titik koreksi dan pengingat soal adanya batas. Bahwa tahun pasti berakhir, bulan pasti berlalu, hari pasti berganti. Itulah maknanya batas. Apalagi hanya soal kondisi ; senang.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *