Skip to main content

COVID-19 DI GORONTALO : POLA PENYEBARAN DAN SKENARIO MITIGASI

Mitigasi Covid 19 Gorontalo

Penemuan obat dan vaksin Covid-19 masih jauh, mungkin perlu waktu setahun atau lebih. Lalu apa yang harus dilakukan? Maka kita harus bisa membaca dan memahami penyebaran Covid-19.

Ibarat perang (tanpa ada opsi perdamaian), sebagai spesies unik, kita harus memperlakukan Covid-19 berada di posisi yang sedang menyerang, tanpa jeda, tanpa opsi damai.

Sebagai musuh (Covid-19), tentu kita harus bisa bertahan dari serangan itu, agar kita tidak punah, sebagaimana siasat spesies kita selama berabad-abad melawan serangan dari luar seperti wabah, cuaca dan sesama kita.

Salah satu cara bertahan adalah memahami cara Covid-19 menyebar, dari pola tersebut maka kita bisa menemukan pola bertahan dan menyerang balik jika memungkinkan.

Di Gorontalo, penyebaran Covid-19 mengikuti kultur kekerabatan (Ngala’a). Sebagai daerah yang memiliki pola kekerabatan kuat dengan basis agama Islam yang kental, kebudayaan Gorontalo berisi tradisi yang sangat banyak. Dalam tradisi yang banyak tersebut, baik dari kelahiran, pernikahan hingga kematian, semuanya memiliki tingkat interaksi yang sangat tinggi.

Dalam memahami interaksi sosial Gorontalo, selalu ada kontak fisik (pupu’du’a, teteyapuwa, kukubinga, tata’apa, o’o’ode, tetedu’a, tetepawa, dan banyak interaksi fisik lainnya), demikian pula dalam ritual adat pernikahan, kelahiran dan kematian.

Dari interaksi tersebut bisa kita simak jika interaksi tersebut yang menjadi jalan dari Covid-19 bisa menyebar. Apalagi dalam kambungu yang kekentalan kekerabatannya sangat kuat.

Kambungu bukan saja ruang administratif (desa/kelurahan), tetapi juga ruang kultural. Di kambungu-kambungu tersebut, interaksi lebih tinggi lagi. Interaksi terjadi di pentarasi, dego-dego, bengkel, waro, bele panggola, dan banyak titik koordinat kultural sebagai tempat yang “disepakati” menjadi tempat berkumpul dan berbagi cerita, termasuk gosip.

Berkumpulnya orang-orang dalam lingkungan kambungu selain untuk melepas penat, juga tempat berbagi informasi dan termasuk karlota.

Karlota (gosip) bisa saja bukan soal menceritakan aib orang lain, tapi juga soal informasi-informasi yang masih agak gelap dan belum bisa dikonfirmasi kebenarannya. Tempat-tempat tersebut menjadi RUANG kultural bertemunya warga kambungu.

Dalam pola karlota Gorontalo, semakin banyak isu yang masih “gelap” akan membuat orang-orang untuk mendatangi lokasi-lokasi kultural tersebut untuk melakukan verifikasi kebenaran isu, menyamakan persepsi dan melakukan cross check sehinga isu yang gelap tadi bisa menjadi lebih terang.

Makanya, dalam “kegiatan” karlota, selalu ada pertanyaan umum yang sering ditanyakan ; “Ey, delo ngoni tawu kasana kalau…”. Padahal, ada juga yang tidak tahu soal isu tersebut. Tujuan bertanya tersebut untuk melakukan verifikasi, dan ada juga yang ingin menjadi “tokoh” awal yang mengetahui informasi tersebut.

Dari kegiatan “kultural” tersebut, maka kontak dan INTERAKSI akan terjadi, kontak inilah yang bisa ditengarai menjadi akar penyebaran Covid-19. Apalagi misalnya banyak warga kambungu-kambungu di Gorontalo yang memiliki LITERASI yang terbatas terkait Covid-19. Sehingga protokol kesehatan seperti jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan sering diabaikan.

Dalam budaya Gorontalo yang paternalistik, selalu ada tokoh dalam kambungu yang disegani dan diikuti, biasanya pada tokoh tersebut melekat simbol kultural seperti Baate, Sara’a Da’a, Ayahanda, Dokuteri, Mandili, Guru. Ada juga yang menjadi tokoh karena akses ekonomi yang dimiliki seperti Ta’o Harata, O Huta Dadata, dan banyak ragam tokoh lainnya.

Deretan AKTOR tersebut jika memahami literasi Covid-19, bisa saja menjadi sumber informasi yang dikuti pemahamannya oleh masyarakat. Namun jika disebuah kambungu tidak ada aktor lokal seperti diatas atau memiliki aktor namun literasi terbatas, maka kambungu tersebut menjadi wilayah yang memiliki RESIKO tinggi dalam penyebaran Covid-19.

Sehingga, kata kunci memahami penyebaran Covid-19 di Gorontalo adalah pemetaan ruang, literasi, interaksi dan aktor.

Dari empat kata kunci tersebut, maka bisa dipetakan ada berapa banyak wilayah beresiko yang memiliki variabel ruang kultural seperti kambungu dengan kepadatan penduduk tinggi, literasi terbatas, interaksi tinggi dan minim aktor dengan literasi tentang Covid-19.

Pemetaan tersebut bisa menjadi dasar dalam mengendalikan serangan Covid-19, termasuk mulai membangun benteng-benteng pertahanan, dan bagaimana siasat kultural kita dalam melakukan serangan balik.

Jejaring Kontak Berdasarkan Kluster
Jejaring Kontak Berdasarkan Kluster

Hingga hari ini, bisa kita lihat dari kluster-kluster yang terbentuk, lebih banyak terjadi di kambungu seperti diatas dibandingkan dengan ruang-ruang geografis yang memiliki kepadatan tinggi namun interaksi sosial rendah dengan literasi tinggi. Makanya, banyak kasus yang terjadi di wilayah-wilayah perumahan yang terputus karena tidak ada interaksi dan kontak.

Tentu, pemahaman mendasar terkait penyebaran Covid-19 akan melahirkan sikap yang lebih waspada, karena ini bukan bencana alam yang terlihat oleh mata. Ini bencana non alam yang tidak semua orang memiliki pengalaman dalam penanganan. Karena itu, pemahaman sosio-antropologis akan menjadi landasan dalam merumuskan skenario mitigasi berbasis kultural.

Mitigasi berbasis kultural penting untuk diajukan sebagai skenario transisi sebelum obat dan vaksin resmi dirilis dan dikonsumsi.

Perkiraan Rt Gorontalo
Perkiraan Rt Gorontalo

Skenario ini penting untuk dirumuskan karena Covid-19 tidak mau diajak berdamai, maka wacana “berdamai” dengan Covid-19 menjadi tidak pas, apalagi skema damai tersebut diterjemahkan melalui kebijakan new normal. Kebijakan new normal di Indonesia adalah sesuatu yang beresiko jika kita padankan dengan standar pelonggaran menurut WHO. Bagi WHO, syarat pelonggaran antara lain Rt < 1 selama dua minggu, rasio tes yang tinggi, tracing dan tracking yang diperluas, karantina di fasilitas kesehatan yang memadai, dan banyak standar lainnya.Syarat tersebut yang belum terpenuhi jika kita melihat gambaran epidemiologi, nilai Rt Gorontalo dan tingkat mobilitas yang semakin tinggi di ruang publik.[caption id="attachment_625" align="alignnone" width="574"]Mobilitas Penduduk Gorontalo Mobilitas Penduduk Gorontalo [/caption]

Kebijakan new normal mau tidak mau harus diikuti oleh protokol yang kuat, integratif dan komprehensif. Jika kita melihat protokol yang beredar sekarang (walaupun kebijakan New Normal belum ada regulasi), masih sebatas mengatur ruang publik seperti kantor, pasar, toko, terminal dan fasilitas umum, namun tidak sampai mengatur hal-hal detail pada ruang kultural dan ritual lokal yang menjadi aktifitas harian masyarakat.

Tentu, perumusan kebijakan new normal yang kini sedang dipersiapkan, selain harus bisa memenuhi standar WHO terkait pelonggaran, juga harus memasukkan variabel-variabel diatas sesuai dengan pendekatan sosio-antropologis dalam memahami Covid-19, khususnya di Gorontalo.

Referensi :

1. http://covid-19.ung.ac.id/download/evaluasi-psbb-gorontalo-tahap-iii/
2. http://covid-19.ung.ac.id/2020/06/13/crisis-center-ung-rt-gorontalo-1-62-psbb-dinilai-belum-optimal/

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *