Skip to main content

COVID-19, MOBILITAS MANUSIA DAN LINGKUNGAN KITA

Hari Lingkungan Internasional jatuh pada tanggal 5 Juni kemarin. Hari Lingkungan Internasional tahun ini bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Di seluruh dunia, indeks kualitas udara dan polusi menurun dengan tajam. Lockdown dan karantina wilayah membuat mobilitas penduduk semakin terbatas. Demikian pula di Gorontalo, indeks kualitas udara dan tingkat polusi juga membaik sejak 8 Mei hingga 4 Juni 2020.

Data dari Air Quality Index memperlihatkan bahwa kualitas udara di Gorontalo per tanggal 8 Mei 2020 berada pada angka 21 dan pada tanggal 4 Juni 2020 menjadi 13. Sedangkan polusi udara (Pm 2.5) dari 5.1 (8 Mei 2020) membaik menjadi 3.1 (4 Juni 2020) (Arbyn Dungga dan Zulkifli Hasan, 2020).

Indeks Kualitas Udara dan Tingkat Polusi
Indeks Kualitas Udara dan Tingkat Polusi

Perbaikan kualitas udara dan penurunan polusi ini akibat mobilitas penduduk yang menurun drastis di ruang publik, dan jumlah penduduk yang berada di rumah naik secara signifikan. Dari data Google Mobility, angka ini terlihat sangat baik.

Data Google Mobility menunjukkan orang tinggal di rumah (stay at home) meningkat dari 15 % ke 21 %. Penurunan orang ke kantor juga menurun siginikan menjadi – 55 %. Hal ini terjadi karena anjuran work from home. Demikian pula untuk ruang publik lain seperti toko, taman dan terminal/stasiun pelabuhan.

Mobilitas Penduduk Gorontalo
Mobilitas Penduduk Gorontalo

Namun, kondisi ini berimbas pada menurunnya pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 ini, Bobby Rantow Payu memprediksi jika pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan mobilitas manusia menurun di ruang publik, khususnya untuk Kota Gorontalo, bisa melorot hingga 2.59 % (Bobby Payu, 2020).

Prediksi 2.59 % disebabkan oleh aktifitas ekonomi dan industri, khususnya di sektor publik, menurun tajam akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Semakin menurun orang berada di ruang publik (kantor, taman, tempat rekreasi, toko) dan semakin tinggi orang berada di rumah, menyebabkan aktifitas ekonomi semakin turun dan terbatas.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Kondisi ini sangat dilematis, di satu sisi pembatasan mobilitas terus dilakukan, namun cenderung menurunkan pertumbuhan ekonomi, tapi membuat kualitas udara semakin baik dan tingkat polusi semakin menurun.

Sebelum pandemi, memang banyak program untuk konservasi lingkungan seperti penghijauan, larangan penebangan pohon, menambah ruang terbuka hijau, green building, adipura hingga sekolah adiwiyata. Program-program tersebut adalah bagian dari agenda memperbaiki kualitas udara dan mengurangi angka polusi. Namun, kedua indeks ini agak sulit dicapai karena mobilitas penduduk semakin tinggi dari waktu ke waktu sebagai upaya untuk meningkatkan aktifitas ekonomi rumah tangga.

Tetapi, kehadiran Covid-19 rupanya “mempercepat” perbaikan kualitas udara dan penurunan tingkat polusi. Banyak negara-negara kini langitnya telah hijau kembali, demikian pula dengan daerah-daerah yang kualitas udara dan tingkat polusinya sangat tinggi seperti Jakarta dan Surabaya.

Kondisi ini tentu menjadikan bumi di-reset kembali seperti pada tahun-tahun yang silam. Kondisi lingkungan ini tentunya tidak bisa hanya sekedar karena mobilitas di ruang publik menurun, namun setelah pandemi aktifitas manusia yang membuat kualitas udara menurun terus terjadi.

Pandemi ini tentu dalam kategori tertentu telah berhasil menentukan kualitas lingkungan, khususnya kualitas udara dan tingkat polusi, namun dalam konteks lingkungan yang luas, masih banyak praktek manusia yang telah merusak seperti penggunaan plastik, penebangan pohon, membuang sampah sembarangan, hingga praktek buruk lainnya.

Memasuki kondisi “new normal” seperti banyak diberitakan oleh media massa, semestinya semua orang bisa menjadikan pandemi sebagai interupsi dari melawan hukum alam. Merusak lingkungan adalah bagian dari melawan hukum alam. Banyak prediksi, jika pada saat new normal dan pasca pandemi, manusia akan lebih bertindak eksploitatif karena pada saat itu, semua negara dan daerah berada di kondisi ekonomi yang minus, bahkan beberapa negara bisa termasuk kategori bangkrut.

Jika melihat pengalaman pada pandemi Flu Spanyol 1918, pasca itu terjadi Depresi Besar yang mengakibatkan hancurnya ekonomi negara-negara, hingga pasca pandemi tersebut semua negara meningkatkan kegiatan produksinya berkali-kali lipat untuk mengejar ketertinggalan. Memang, selain melahirkan kegiatan produksi yang bekali-kali lipat, pandemi Flu Spanyol juga ikut menjadi faktor dari lahirnya Perang Dunia II.

Tentu sejarah ini menjadi pelajaran bagi kita sekalian untuk bisa dihindari agar pada suata saat nanti, tidak akan lagi terjadi pandemi yang lebih mengerikan dibandingkan yang kita rasakan saat ini.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *