Skip to main content

CORONA; SEBUAH REFLEKSI

corona

Corona selain memberi dampak buruk bagi semua hal (sosial, politik dan ekonomi), namun memberi hikmah bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Sejak setelah Corona ditemukan di Wuhan, sejak itu pula banyak ilmuwan di seluruh dunia bekerja serius untuk Wuhan. Hampir semua ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu bekerja untuk memberikan kontribusi terhadap pandemi Corona.

Dari berbagai pusat studi di berbagai Universitas terlihat saling berkejaran dengan waktu untuk mempublikasikan pemikiran dalam bentuk paper, artikel di jurnal hingga opini di media massa.

Dari banyak hal itu, ada beberapa contoh yang menurut saya menarik. Salah satunya adalah paper “Pneumonia of Unknown Etiology in Wuhan, China: Potential for International Spread Via Commercial Air Travel” yang ditulis oleh Isaac I. Bogoch, dkk. Mereka bekerja dalam tim yang terpisah secara geografis. Hasil riset “cepat” mereka memberikan arahan dalam meminimalisir dampak pandemi Corona dan melakukan pemodelan mengenai kemungkinan penyebaran Corona berdasarkan data jumlah penerbangan.

Riset lain yang cukup menarik adalah :Novel coronavirus 2019-nCoV: early estimation of epidemiological parameters and epidemic predictions” yang ditulis oleh dan membuat merah “kuping” Kementrian Kesehatan RI adalah Jonathan M. Read dkk. Mereka memprediksi pula mengenai pola penyebaran Corona di berbagai negara.

Yang paling anyar dan lumayan mengagetkan adalah riset dari tim Harvard T.H. Chan School of Public Health yang berjudul “Using predicted imports of 2019-nCoV cases to determine locations that may not be identifying all imported cases”. Riset cepat De Salazar PM dkk ini lumayan membuat “merah” telinga Kemenkes RI karena dalam papernya ada semacam ketidakyakinan terhadap posisi Indonesia yang hingga kini belum ditemukan adanya penyebaran virus Corona. Padahal, dari pemodelan yang mereka lakukan, potensi resiko Indonesia termasuk dalam 10 besar negara yang tertinggi bisa terkena dampak pandemi Corona.

Dari banyak semua hasil riset “cepat” itu, termasuk upaya penemuan anti virus dan hal-hal penting lainnya, Corona telah memberi hikmah bagi pengembangan ilmu pengetahuan di seluruh dunia.

Memang, ilmu itu lebih cepat “ditemukan” dan “keluar” pada saat darurat, manusia pada dasarnya baru akan serius jika dalam kondisi yang terjepit. Ilmu dalam hal ini seperti kebaikan dan kebenaran, hanya akan muncul jika ada kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan dipraktikkan. Corona adalah akumulasi dari banyak praktek kehidupan yang tidak sesuai dengan “track”.

Hal lain yang lahir adalah semangat kolaborasi antar ilmuwan di seluruh dunia, walaupun berbeda geografi, namun semangat untuk berkolaborasi dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan tidak menyurutkan mereka.

Dalam konteks itu, terlihat sangat penting bagaimana setiap Universitas yang didalamnya terdapat pusat-pusat studi bekerja cepat tanpa harus menunggu “skim penelitian”, call of paper, pengumuman hibah riset, persetujuan pimpinan, harus membuat proposal riset yang didalamnya menuntut administrasi pelaporan yang ribet dan model birokrasi riset yang ribet seperti di Indonesia.

Semangat kolaborasi riset antar ilmuwan ini menjadi menarik ketika Corona tidak dilihat dari satu perspektif, namun dari banyak perspektif. Dari tiga paper diatas terlihat bahwa kompleksitas ilmu dicoba untuk diramu dalam satu riset, misalnya keterlibatan ilmuwan dari bidang matematik dan komputasi, dari bidang kedokteran dan banyak latar, sehingga bisa melahirkan rekomendasi riset yang tidak saja menjelaskan, namun juga memprediksi sehingga bisa memberi alternatif pilihan kebijakan bagi otoritas terkait dalam pengambilan keputusan cepat dan mendesak.

Hal ini menjadi pelajaran penting bagi atmosfer pendidikan tinggi di Indonesia yang selama ini masih berjibaku dengan administrasi dan birokrasi yang kaku, sehingga bisa jadi dalam masa darurat (force majeur) untuk konteks Indonesia, akan lambat dalam memberikan kontribusi penting bagi pengambilan kebijakan.

Karena itu, menjadikan kasus Corona tidak bisa dilihat dari satu perspektif semata, misalnya soal azab saja, tapi juga bagian dari refleksi untuk seluruh kalangan, khususnya kalangan perguruan tinggi di Indonesia.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *