Skip to main content

CANTIK : CITA-CITA DAN PENDERITAAN

Hampir setiap hari kita menyaksikan ramainya antrian di salon-salon Gorontalo. Klinik kecantikan menjamur di setiap sudut kota. Gerai-gerai busana, butik, dipadati oleh perempuan-perempuan wangi berjari lentik. Rak-rak produk pemutih di Mall, di lapak-lapak online, hingga di pasar-pasar rakyat ludes.

Di Taman Kota, Taruna Remaja, Mall, hingg kampus, setiap hari kit bisa melihat para pesolek muda berseliweran menggunakan ‘cadeko’ dengan kosmetik menor. Tak ketinggalan para pembantu rumah tangga dan pekerja perempuan yang bergaji di bawah satu dollar perhari ikut merayakan ritus kehidupan kontemporer dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian, menggunakan Natura 99 yang sebagian bahannya adalah Mercury dan rebonding di daerah Pabean!

Salon dijadikan seperti katedral, masjid, setiap perempuan berkewajiban untuk ‘beribadah’ secara rutin dalam seminggu bahkan perhari. Cantik bagaikan syariah yang mesti ditaati dan diikuti secara khusyuk. Majalah-majalah wanita seperti: Cosmopolitan, Bazaar, dan Elle hampir sebanding dengan kitab suci yang wajib tadarrus setiap edisi terbit.

Pun tak sedikit perempuan kantoran semakin takut akan ukuran baju yang bertambah melar. Setiap sore, kita menyaksikan perempuan-perempuan bermandikan peluh, meregang otot, dan berpakaian super ketat dengan sepatu karet, ikut meramaikan klub kebugaran tubuh.

Belum lagi dengan “agenda” rutin freeletics yang dirayakan setiap sore dengan berkelompok, ada juga gerombolan pelari perempuan yang tergabung dalam ikatan runners-runners. Juga mulai banyak klub-klub Zumba yang menjadi rutinitas perempuan Gorontalo kekinian. Semua dilaksanakan secara pasrah, ikhlas, dengan berkeringat. Demi sebuah tuntutan dan cita-cita, cantik!

CANTIK ITU CITA-CITA

Cantik adalah inspirasi, dambaan sekaligus cita-cita. Entah sejak kapan kata cantik mulai digunakan untuk mengidentifikasi tubuh perempuan yang ‘ideal’. Kecantikan tubuh bukan hanya fenomena biologis. Kecantikan adalah karya peradaban yang rumit sejarah proses penciptaannya. Kecantikan adalah bagian dari tubuh yang menjadi bagian dari atribut sosial dan identitas. Kecantikan, ketidakcantikan, tinggi badan, berat badan, warna kulit, rambut telah menjadi identitas dalam hidup.

Tubuh tidak lagi semata-mata bongkahan daging dan kiloan tulang. Tubuh memiliki muatan simbolis dan kultural. Mulut, bibir, mata, dan lainnya, memberi kesan tak hanya sekedar melengkapi struktur tubuh biologis tapi di balik itu bermain dalam ide dan citra.

Pengembaraan konseptual atas atas tubuh telah bergeser. Perempuan memberlakukan tubuh (nya) secara spesifik, bagai berhala. Bagi seorang Foucault, tubuh merupakan kompleksitas yang ‘rumit’. Tubuh tak sekedar jasad, tapi juga representasi kekuasaan. Foucault meyakini bahwa fenomena tubuh yang sosial bukan lagi pengaruh konsensus, melainkan perwujudan kuasa. Sehingga, kepemilikan atas tubuh oleh pemiliknya tidak lagi bersifat permanen, tetapi dinamis. Selalu ada perasaan ‘kurang’, senantiasa berproses hingga akhirnya terjadi eksploitasi atas tubuh.

Kecantikan yang merupakan sebuah konsep dinamis atas tubuh senantiasa ditafsirkan secara kompleks. Zaman yang selalu berubah, juga ikut ‘meminta’ tubuh ikut menyesuaikan. Berubah atau kolot adalah pilihan serius yang dialami perempuan secara kolektif.

Akhirnya, kecantikan adalah pula ilusi. Sesuatu yang tak tergapai, tak terpikirkan, dengan jarak yang ‘jauh’.

MEMAKNAI TUBUH

Semua manusia bertubuh. Punya daging, tulang, bibir, mata, perut, rambut, dada, paha, puting, otak, jantung, kelamin. Ini adalah bagian organ biologis yang dimiliki secara merata oleh seluruh manusia.
Kecantikan telah merambah lebih jauh ke arah bentuk dan penampilan tubuh: perut langsing, kulit yang kencang, pinggul dan pantat yang ‘berbentuk’, wajah yang kinclong, rambut yang terurai halus, wangi badan yang semerbak, nafas yang mendesah, hingga pilihan kata yang meluncur dari mulut, dan sebagainya.

Menurut Synnot, kecantikan direpresentasikan oleh pola dan bentuk di atas secara publik. Kecantikan telah menjadi publik karena adanya panopticon (mengikuti Foucault) dari publik ‘yang lain’. Mata publik tidak lagi menjadi bagian dari organ biologis, tetapi sebagai pengawas bagi tubuh. Mata adalah pula penjara bagi tubuh yang lain. Perempuan merasa diawasi oleh ‘mata’ publik.

Pengawasan inilah yang menyebabkan banyak penyakit psikologis timbul. Penyimpangan psikologis yang diidap oleh kebanyakan perempuan, misalnya, anoreksia, histeria dan agrophobia. Inilah penderitaan yang terus dikejar dan bahkan “membahagiakan” tersebut.

Anoreksi adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Pencitraan diri pada penderita Anoreksia dipengaruhi oleh bias kognitif (pola penyimpangan dalam menilai suatu situasi), dan mempengaruhi cara seseorang dalam berpikir serta mengevaluasi tubuh dan makanannya.

Sedangkan histeria adalah kondisi psikologis seorang perempuan yang panik, gelisah, stress, dan bahkan muntah-muntah jika tak mengkonsumsi sesuatu. Banyak perempuan yang panik dan depresi jika tidak bisa membeli sebuah tas tangan Hermes. Hermes adalah tas tangan yang berharga paling murah sekitar 30 juta rupiah, untuk limited edition biasanya berkisar di harga 200-an juta rupiah. Bahkan diatas itu. Nunun Nurbaeti adalah simbol ratu Hermes Indonesia karena merupakan member dari Hermes International. Nunun dengan segala harta bendanya kekayaannya mampu membeli ratusan tas Hermes.

Di Gorontalo bagaimana? Beberapa kelompok sosialita mulai menggemari beberapa produk eksklusif seperti tas, kosmetik, pakaian dan farmasi yang nilai setiap jenis melebihi nilai UMP Gorontalo.
Penyakit tipe ketiga adalah agrophobia. Yakni kondisi psikologis seseorang yang cemas dan takut akan sensasinya sendiri. Takut jika berada di banyak orang, ia merasa tidak pede, tidak cantik, dan sebagainya. Ia tidak merasa percaya diri terlihat di publik jika tidak merias wajah terlebih dahulu. Maka, bercermin adalah ritus keseharian yang dilakukan sebelum tampil di publik. Cermin adalah pula panopticon bagi dirinya sendiri. Foucault mengatakan bahwa cermin adalah instrumen pasar yang ‘ditempatkan’ di rumah setiap obyek yang hendak ‘dikuasai’.

Di level selanjutnya, menjadi putih adalah bagian dari ritus kecantikan. Putih adalah doktrin yang senantiasa didengung-dengungkan melalui media. Pada bangsa-bangsa yang mengalami penjajahan dalam jangka waktu yang cukup lama, putih adalah semacam keinginan. Maka, di Gorontalo, yang sebagian besar warganya berkulit sawo matang, menjadi putih adalah obsesi tersendiri.

Penjajahan yang cukup lama oleh Belanda selama berabad-abad meninggalkan memori kolektif tentang putih. Bahwa putih adalah superior, global, beradab, maju, berpengetahuan, dan tentunya cantik. Penjajahan model demikian cukup sukses, dan memakan waktu cukup lama karena warga dijajah lewat kesadaran.

Tak dinyana, mentalitas itu kemudian bersambung ketika Belanda meninggalkan Gorontalo dan menjadikan Minahasa sebagai anak emasnya. Minahasa yang berperawakan putih pun kemudian menjadi inspirasi bagi sebagian kalangan. Sehingga sebelum terbentuknya Provinsi, banyak warga Gorontalo yang malu mengakui identitas ke-Gorontalo-an yang dia miliki. Menjadi “Minahasa” adalah bagian dari obsesi perempuan Gorontalo, sehingga dalam berbahasa pun, pengaruh Minahasa cukup kuat.

Dengan demikian, kecantikan adalah wacana yang diproduksi senantiasa, dan terus menerus. Menjadi cantik adalah mimpi terus dikejar dalam jangka waktu tak terhingga oleh pasar, tanpa disadari oleh perempuan-perempuan yang mengalami dan berkeinginan cantik itu sendiri. Jika keiginan untuk menjadi cantik dihentikan oleh individu-individu tersebut, maka, pasar dengan segala perangkat pengawas dan jaringan kontrol senantiasa memberi peringatan, bahkan pengalienasian terhadap individu yang tidak ingin merayakan kecantikan tersebut.

Perempuan-perempuan ini pun dipaksa untuk mengikuti selera pasar secara pasrah dan ikhlas. Pengawasan dan kontrol atas kecantikan perempuanlah yang menjadikan kondisi psikis perempuan-perempuan tersebut bisa dikategorikan sakit atau sehat. Ia didapuk menjadi sehat jika bisa ikut mendalami dan mengikuti kuasa pasar tersebut, dan akan dikategorikan sakit jika ia abai terhadap perintah pasar tersebut. Foucault mengkategorikan tubuh yang patuh sebagai tubuh yang normal, dan yang tidak patuh adalah sebaliknya.

KAMU CANTIK, JIKA KAMU MENGKONSUMSI

Adagium Descartes aku berfikir maka aku ada (cogito ergo sum) sepertinya penting untuk dikontekstualisasi kembali. Cantik sepertinya tidak bisa diselesaikan dengan mengingat saja, atau bercita-cita. Cantik perlu dikerjakan, cantik harus dilakukan.

Untuk itulah, tubuh mesti patuh pada tata tertib yang telah diatur dan disusun. Seluruh unsur dalam sebuah tubuh harus mengikuti pola ini. Menurut Mike Featherstone, tubuh terdiri dari tubuh dalam dan tubuh luar. Tubuh bagian dalam “dipaksa” mengkonsumsi obat-obatan atau produk farmasi yang dapat memungkinkan perempuan menjadi cantik. Pada wilayah ini, pasar farmasi menjadi pialang dalam memainkan kuasanya.
Bagian tubuh bagian luar akan dipaksa mengkonsumsi fesyen, kosmetik, perhiasan dan produk-produk yang dapat menunjang seseorang bisa dikatakan cantik. Di areal ini, pasar fashion, kosmetik, dan produk-produk seperti tas, baju, hingga kawat gigi akan menjadi vital fungsinya.

Dalam kategori luar dan dalam tadi, semua mengarah ke penyempurnaan secara estetik dalam kacamata pasar. Estetika disusun, diatur dan ditertibkan oleh pasar. Dalam konsumsi, citra telah dikonstruksi sedemikian rupa agar menjadi sebuah tatanan baru yang menjadi standar sikap dan pikir dari perempuan. Mengikuti citra menjadikan si pengikut akan dikategorikan cantik.

Masyarakat konsumer adalah tahapan yang sedang dialami masyarakat saat ini, seperti kata Foucault. Dalam perspektif Featherstone, ada tiga konsep budaya consumer: pertama, masyarakat konsumer yang didasari atas represi produksi komoditas kapitalis yang ikut membuat pertambahan budaya material yang berupa barang konsumsi dan wahana belanja untuk konsumsi. Dalam konsep kedua, budaya konsumer berbasis pada wacana sosiologis, yakni mengenai terpuaskannya perempuan yang ia dapatkan dari barang yang dikonsumsinya. Dalam konteks ini, jalinan interaktif sesama konsumen dapat terjalin lebih akrab. Pada taraf yang ketiga, hasrat diberikan rangsangan secara terus menerus tanpa henti agar tidak berhenti mengkonsumsi. Sehingga para pekerja yang berada di sektor industri fesyen, mode, advertising, berfungsi memberikan pelayanan serta memproduksi, memasarkan dan menyebarkan barang-barang simbolik atau bisa dikatakan medium kebudayaan baru seperti perspektif Pierre Bourdieu.

Namun, perlu diketahui, bahwa perkembangan pengetahuan akan menyebabkan dinamika produksi yang senantiasa berubah setiap saat berdasarkan hasrat pasar, yang kemudian oleh media dimanipulir secara lebih luas.
Budaya konsumen menggambarkan tubuh sebagai tubuh yang mengkonsumsi setiap komoditas yang ditawarkan oleh industri dalam waktu yang bersamaan bersamaan, dan pada saat yang sama pula, tubuh menjadi komoditas yang dapat perdagangkan.

Dalam konteks tersebut, Bourdieu berpendapat: “body capital” ialah perangkat fisik yang bisa berfungsi menjadi modal yang dapat ditukar untuk keuntungan. Sehingga, penampilan yang cantik dan senantiasa muda adalah alat tukar simbolik agar bisa mendapatkan keuntungan baik itu status maupun kelas di mana dia berada.

TUBUH PEREMPUAN SEBAGAI MEDAN PERTARUNGAN GAGASAN

Pada level dan kondisi bagaimanapun, pasar menghegemoni kesadaran, selalu ada ruang untuk bertahan dan kemudian menyerang jika perlu. Betapapun klaim pasar telah mampu merasuk pada setiap jengkal kesadaran perempuan, namun, selalu ada celah untuk melakukan penyeimbangan. Umberto Eco mengatakan bahwa representasi selalu bersifat undercoded. Bahwa pasar telah merepresentasi kesadaran kolektif adalah satu sisi, namun di sisi lain, representasi berhubungan secara keseluruhan pribadi seseorang dengan pengalaman, relasi sosial, nilai, atau status yang diklaim secara eksplisit atau implisit oleh yang mengkonsumsi.

Ruang perlawanan masih tersisa dan terbukti telah terlaksana. Kepemilikan kapital kemudian tidak membatasi
perayaan budaya konsumtif. Selalu ada celah untuk bisa menyesuaikan. Pada pengalaman empirik, banyak perempuan yang mengalami perlambatan ekonomi, justru lebih mudah menyesuaikan dengan “gaya” dan “pola” yang sama dengan yang dijalani oleh mereka yang memiliki akumulasi nilai lebih.

Sebagai contoh: konsumsi pemutih wajah (Natura 99) sangat laku keras di pasar tradsional. Harga dua puluh ribu rupiah dan “laku keras” merepresentasikan bahwa celah pasar yang menginginkan kolektivisme dalam individual bisa diterobos ,walaupun dengan resiko yang besar.
Contoh praktis lain, adalah membanjirnya garmen produksi Cina yang masuk secara ilegal ke Gorontalo. Hal ini, menandakan bahwa pangsa pasar akan fesyen dengan level rakyat juga ikut bergerak signifikan. Walaupun harus diterobos melalui pintu-pintu ilegal. Tetapi, yang dirasakan oleh warga subaltern adalah kesempatan untuk melakukan komodifikasi dengan penyesuaian di pelbagai level.

Karena itu akan pas melihat kembali pergumulan wacana kecantikan yang telah menghegemoni, dan di sisi lain, ada upaya untuk melakukan reposisi terhadap habitus ala Bourdieu. Kondisi wacana yang tidak equal ini lalu melahirkan semacam posisi ambivalen antar warga, sehingga formulasi agenda adalah bagaimana menempatkan kesadaran yang terbebaskan sebagai ‘sense of habitus’. Bagaimanapun, perempuan mesti terbebaskan dari kekangan pada dirinya yang hingg membuat kondisinta tidak lagi otonom dalam mengkonsumsi apa yang harus dia konsumsi.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *