Skip to main content

BUPATI INSYA ALLAH

Suatu sore yang mendung saya dihubungi Bang Rustam Akili, senior di KAHMI Gorontalo, ia menjelaskan secara singkat tentang pentingnya untuk mengembangkan Syarikat Islam di Gorontalo. RA, begitu ia sering disapa, ingin ada musyawarah untuk memilih Ketua Umum yang baru. Saya segera menyatakan sikap untuk siap membantu menyelenggarakan musyawarah. Beberapa nama sempat digadang-gadang, selain Pak Adhan Dambea, ada juga nama Pak Indra Yasin. Keduanya dianggap sebagai representasi Syarikat Islam secara “ideologis”.

Di Gorontalo, beberapa kampung memang sangat kental Syarikat Islamnya, Luwoo salah satunya, kebetulan saya dan Pak Adhan satu kampung. Kampung Pak Indra di Atinggola sana adalah basis penting Syarikat Islam.

Setelah melalui komunikasi yang panjang, terpilihlah Pak Indra menjadi Ketua Umum Syarikat Islam. Segeralah dikebut persiapan pelantikan yang kemudian dihadiri oleh Pak Hamdan Zoelva, Ketua Lajnah Tanfidzifyah Syarikat Islam Pusat. Saya didapuk sebagai Wakil Ketua II, ada Rektor UG sebagai Wakil Ketua I, Pak Helmi Adam sebagai Sekretaris dan Pak Thariq Modanggu sebagai Wakil Ketua IV. Pak Rustam duduk di dewan Pembina. Dari Syarikat Islam itulah saya memulai perkenalan intens dengan Pak Indra Yasin.

Selama aktif di kepengurusan, tak pernah sekalipun Pak Indra mengeluarkan nada tinggi (marah), selalu dengan lembut, selembut senyumannya. Beberapa kali kami rapat di rumahnya di bilangan Jalan Dua Susun. Sosoknya yang ramah membuat kami sebagai tamu nyaman berada di rumahnya. Rumahnya begitu asri dengan keluarga yang bersahaja.

Intensitas ini berlanjut jelang memasuki Pilkada Gorut tahun 2018. Kala itu, Pak Indra sebagai incumbent sedang diinginkan banyak politisi untuk didampingi dalam Pilkada. Tetapi, sebagai orang Gorontalo yang begitu memegang teguh nilai-nilai adat yang kuat, Pak Indra tidak sembarangan memilih pendampingnya. Baginya, yang utama adalah soal akhlak dan tatakrama dari pendampingnya. Pak Indra menempatkan kemampuan “menambah jumlah suara” dan “menambah jumlah dana” dalam berkontestasi pada prioritas kesekian, bukan utama.

Hingga pada suatu siang, jelang tanggal 17 September 2017, Bang Thariq Modanggu berkunjung ke rumah. Bang Thariq menyatakan kalau banyak yang mendesaknya untuk maju “lagi” di Pilkada Gorut. Namun, dirinya sendiri sebenarnya sudah enggan untuk ikut lagi. Banyak yang ia pikirkan sebelum maju. Sebagai seorang yang sering diajak diskusi terkait apapun, saya menyampaikan kalau aspirasi warga harus dihargai, persoalan maju dan tidak itu soal dinamika nanti yang berkembang, sambil melihat berbagai peluang. Saat itu, Bang Thariq masih menjabat sebagai Tim Kerja Walikota Gorontalo bersama-sama saya.

“Co, bagini uti, bukan kita tidak mau menghargai aspirasi rakyat, bo ngana tau sandiri kan kalo Pilkada itu harus keluar uang banyak. Sedangkan ngana tau sandiri kalo kita ini masih PNS, sama dengan ngana, serba terbatas. Kalo soal nyali dan keinginan membangun daerah, sejak dulu waktu berjuang memekarkan Gorut, ngana tau sandiri bagimana kitorang pe semangat”, demikian pernyataan Bang Thariq kala itu.

“Begini Bang, saya tahu ini pilihan sulit, tapi bagaimanapun dinamika politik Gorut masih berproses, hargai dulu itu. Siapa tahu akan ada peluang dan jalan yang kita nda lihat dengan mata kepala sendiri”, tutur saya.

Sebab, Bang Thariq memang merencanakan pada 17 Desember saat ulang tahunnya, ia akan menyampaikan surat terbuka untuk tidak lagi ikut hajatan Pilkada Gorut 2018. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk menunda menulis surat terbuka itu. Dia memutuskan untuk menyimak situasi kedepan sambil melihat peluang yang ada.

Dan, tidak lama kemudian, saya kembali dikontak Bang Thariq, ia menjelaskan kalau dia dihubungi Tojim Boki, salah satu orang kepercayaan Pak Indra yang juga masuk di Tim Kerja Bupati Gorut. Katanya, Tojim sempat memaparkan beberapa skenario untuk memasangkan Pak Indra dan Pak Thariq. Ia ingin agar ada diskusi intens dengan timnya Pak Indra. Bang Thariq dianggap Pak Indra sebagai kandidat pendamping yang sesuai dengan persyaratan utama yang ia patok.

Beberapa waktu kemudian, terjadilah pertemuan intens di Manado antara Bang Thariq, Tojim dan saya serta beberapa orang kepercayaan Pak Indra, hingga mendapatkan kesepakatan untuk bersama-sama maju di Pilkada 2018.

Persiapan administrasi pun dikebut, dukungan partai dikonsolidasi hingga terjadilah deklarasi IQRA (Indra – Thariq).

Singkat cerita, proses “berdarah-darah” menuju Pilkada pun berbuah manis. IQRA menang.

Beberapa hari kemudian, tidak mau ketinggalan momentum, IQRA sepakat membentuk tim sinkronisasi. Tujuannya sederhana, ingin menyelaraskan visi dan misi IQRA dengan rencana pembangunan yang sementara berjalan.

Pekerjaan sinkronisasi pun berlangsung sekitar dua bulan, banyak diskusi dengan OPD-OPD di Pemda Gorut. Kala itu, Pak Indra lebih menekankan pada kolaborasi antar periode, kerjasama antar semua stakeholder. Ia menanamkan kepada tim sinkronisasi agar saat penyusunan RPJMD, semua harus terlibat dan semua harus bahagia. Walaupun menggunakan skala prioritas, tapi ia berharap bahwa periodenya yang terakhir bisa menyelesaikan janji-janji politiknya.

Pak Indra menekankan kalau dia akan berada pada ranah eksekusi karena kewenanangannya sebagai Bupati dan Bang Thariq sebagai perencana sekaligus pengawas pembangunan.

Selama hampir lebih dari tiga tahun memimpin di periode kedua, banyak dinamika yang menerpa pasangan ini, apakah itu soal hubungan keduanya dengan Sekda, kepindahannya ke beberapa partai dan hingga keinginannya untuk ke DPR RI pada Pemilu 2024.

Terkait Sekda, memang sangat dilematis, tapi Pak Indra telah mengambil keputusan netral yang kemudian itu menentramkan hubungan eksekutif dan legislatif yang selama ini agak tegang. Ia menempatkan konstruksi kolaborasi dan kerukunan dalam membangun Gorut diatas segalanya.

Demikian pula dengan perpindahan dirinya ke beberapa partai. Bagi sebagian kalangan, langkah itu tidak sesuai kode etik, tapi bagi Pak Indra ikhtiar itu semata-mata sebagai langkah pragmatis dirinya untuk bisa menyesuaikan dengan kondisi politik terkini yang selalu dinamis. Dengan menempatkan kepentingan Gorut diatas segalanya, ia menganggap bahwa jalan politik tidak bisa dikekang dalam satu warna, karena jangan sampai dengan bertahan pada satu warna, akan banyak kepentingan pemerintahan daerah yang terseok-seok.

Dari kesekian orang yang pernah berhubungan dengannya, Pak Indra selalu dikenal dengan ucapan Insya Allah. Pernah suatu ketika waktu kami dari UNG, yakni Pak Rektor Eduart Wolok bersama-sama Staf Ahli Bappenas Velix Wanggai makan malam mendiskusikan soal peluang Gorut sebagai daerah penyangga dari Ibukota Negara yang di Kalimantan. Saya mencatat lebih dari sepuluh kali ia mengucapkan Insya Allah.

Bagi sebagian kalangan, kalimat itu bisa diartikan “bo php poli itu”, tapi bagi banyak orang yang pernah berinteraksi dengannya, Insya Allah yang ia ucapkan adalah ekspresi keterbatasan ia sebagai makhluk, walaupun dia memiliki segenggam kekuasaan untuk merealisasikan aspirasi warga. Ia tahu sekaligus sadar bahwa ada Penguasa sesungguhnya diatas sana, sedangkan ia hanyalah seorang pelaksana yang memiliki keterbatasan, dan pada tutur katalah keterbatasan itu ia batasi dengan sendirinya.

Pada subuh yang dingin tadi, sosok Bupati Insya Allah itu berpulang. Ia meninggalkan banyak kenangan yang indah, sebagaimana Pulanga yang melekat pada dirinya Tauwa lo Madala (Pemimpin Negeri yang Indah) sejak tahun 2017 silam.

Dia meninggalkan jejak yang santun dan berwibawa, sebagaimana apa yang telah ia jalankan selama ini, melayani dengan senyum, membantu sepenuh hati, sekuat tenaga, dengan penuh ikhlas.

Hingga, oleh Lembaga Adat Gorontalo, sebelum ia dikebumikan, ia disebut “Taa ilopaduma to ayuwa” (Putra terbaik Indonesia kelahiran Gorontalo yang telah mengabdikan dirinya dibidang pemerintahan dengan santun dan berwibawa).

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *