Skip to main content

BUCINPOLITAN

Setelah Agropolitan, Bentorpolitan, Koprolpolitan, apakah definisi yang pas untuk kota ini?

Sesaat kita bisa menyaksikan hampir semua warung, resto, cafe dan ruang-ruang publik mulai memperdengarkan lagu-lagu romantis yang didendangkan oleh Felix.

Pun ketika kita bisa menyimak ratusan story WhatsApp harian yang sampai “kecil-kecil” hanya untuk membagikan lagu-lagu romantis.

Belum lagi dengan ratusan quote dari Fiersa Besari, Boy Chandra dan penyair-penyair lainnya. Deretan potongan sajak dari berbagai penyair pun menghiasi timeline media sosial.

Tiktok pun dihiasi gelak tawa dan goyangan badan yang sebenarnya adalah ekspresi kegalauan tanpa batas. Terbahak-bahak hanya bagian dari menutupi kegalauan jangka panjang.

Jika pada beberapa tahun silam, ekspresi kegalauan biasanya ditorehkan pada dinding-dinding kamar mandi di ruang-ruang publik seperti kantor, sekolah dan terminal. Kini fantasi tekstual itu dibubukan pada dinding-dinding media sosial yang bisa diedit, disembunyikan, dan ditujukan pada orang tertentu seperti close friend di Instagram dan specific friend di WhatsApp story.

Pada musim penghujan, ribuan orang sekejap menjadi penyair dadakan. Walau kata demi kata tak bersambungan, pokoknya hajar, yang penting yang dituju sudah “seen”. Dan, kebahagiaan pun sebatas pada dia telah seen atau belum.

Mungkin hanya di daerah ini yang hari romantisnya bisa dua kali seminggu ; malam kamis dan malam minggu. Saking tidak cukupnya malam minggu untuk merayakan kegirangan akan rindu yang harus dituntaskan.

Sejak lama, ada juga tradisi malam minggu yang kini mulai redup yakni membawakan pisang dan kacang pada kekasihnya. Kini, tradisi romantis itu tinggal berada di kampung-kampung yang jauh dari kota, itupun hanya berlaku pada sekelompok desil satu yang masih tersisa.

Di daerah urban dengan segala gengsi dan egonya, percintaan dirayakan di cafe-cafe yang bertebaran di seputaran kota. Tempat-tempat spesial pun disiapkan, ada yang namanya Titik Temu, Story Cafe dan banyak identitas romantis yang dilabelkan pada lokus-lokus itu untuk semakin menambah kegirangan romantisme kaum urban.

Pada skala yang lain, krim-krim pemutih pun semakin bebas diperjualbelikan. Ada yang melalui online shop, ada juga yang dijual di pasar hingga pinggir jalan. Semua ditujukan untuk tampil cantik, sebab di daerah ini cantik itu ya harus putih.

Setelah pemutihan secara kolektif, ritual pun dilanjutkan dengan mencari template filter di Instagram untuk menghaluskan atau menambah rona di pipi. Semuanya tujuannya satu, biar dibilang cantik. Kalau sudah cantik, tentu akan banyak yang penasaran.

Khusus bagi kaum pria, yang di upgrade adalah fashion. Kaos harus bermerek, sepatu pun bermerek, parfum harus yang bisa menjangkau hidung di radius 10 meter bujur sangkar. Handphone pun harus tipenya yang tinggi, merek-merek Cina jarang dipakai karena dianggap tidak sesuai dengan tren. Semakin canggih handphone, semakin tidak mungkin diselipkan dalam tas atau kantong celanan, harus dipegang terus. Agar bisa disaksikan sekeliling.

Perilaku seperti diatas tak hanya berlaku bagi usia-usia yang lahir diatas tahun 90 an, bagi kelahiran tahun sebelumnya pun hal itu berlaku. Semua demi penampilan terbaik di ruang publik. Biar kalah nasi, asal jangan kalah aksi, demikian “firman” yang telah berlaku dari zaman ke zaman di daerah ini.

Pada ujungnya, walaupun semua itu adalah penderitaan, tapi mengejar imajinasi adalah kebahagiaan tak terkira, walaupun itu semu.

Daerah ini pun semakin tenggelam pada perilaku-perilaku semu, tapi itu juga berlaku karena zaman memang sedang berubah. Zaman ini pun menegaskan daerah ini layak dilabeli BUCINPOLITAN.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *