Skip to main content

BENCI

Hingga hari ini, ribuan ribu kepala telah ditebas, ribuan perempuan diperkosa, rumah-rumah dibakar, dan jutaan kaum Rohingya lainnya terusir.

Rohingya adalah jazirah perayaan kebencian terbesar abad ini. Kebencian adalah Hari Raya tersendiri bagi etnis minoritas di Myanmar.

Uighur merana, Papua kini bergolak, Jalur Gaza sejak lama panas, Pattani Thailand berkecamuk. Narasi kebencian atas nama identitas baik agama, ras dan budaya disebarkan, digoreng dan diolesi bahan bakar.

Kebencian tidak saja terjadi di daerah-daerah itu, tapi menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kebencian adalah sarapan pagi yang kita tonton dengan “normal” di televisi. Seakan kebencian bukan hal yang luar biasa, ia seakan adalah keadaan biasa dalam kehidupan manusia. Seperti sarapan.

NALAR KEBENCIAN

Kebencian itu merusak, menghancurkan, menjauhkan. Tidak ada setetes kebencian yang mendekatkan, mengeratkan, menghangatkan. Kebencian ibarat virus yang mematikan tubuh sehat.

Semakin kebencian diperluas bahkan dimobilisisasi, kebaikan semakin nihil. Bisa jadi kebaikan hanya dalam kata dan mimik wajah, tapi benci dalam nurani.

Akar kebencian berasal dari logika merasa diri, merasa paling benar, paling suci. Bagi yang memiliki stok kebencian yang banyak, ia juga memilik setumpuk anggapan bahwa dirinya manusia yang suci. Padahal kesucian itu anugerah, bukan anggapan. Kebenaran itu tetesan, bukan klaim!

Semakin kebencian digelorakan, semakin ikatan-ikatan akan longgar dan bahkan rusak. Lalu apa ujung dari kebencian? Peniadaan yang lain. Para pengusung kebencian merasa bahwa dirinyalah yang berhak atas dunia ini. Dia menganggap dunia ini adalah akhir bagi dirinya, bukan tempat dirinya berproses.
Dalam situasi yang penuh kebencian seperti sekarang ini, akal sehat apalagi nurani tidak akan bekerja secara baik. Akal sehat dan nurani pasti mati. Produksi kebaikan terhenti. Kesombongan dan “merasa suci” yang dirayakan.

Atau sepertinya perlu disedikan untuk para pembenci itu semacam pesta, atau “Hari Raya Kebencian” agar ada kesempatan dan ruang untuk mereka merayakan sesuatu yang mereka anggap “normal”. Sekaligus menjadi celah bagi kita untuk mengidentifikasi, menjauhi dan melokalisir mereka.

MELABRAK KEBENCIAN

Lalu apa yang mesti dilakukan dalam situasi yang dirasuki kebencian? Pelaku dan praktisi kebencian mesti memeriksa dirinya secara mendalam, apakah ia layak menjadi pembenci yang suci? Atau dalam dirinya memang penuh kebaikan sehingga ia harus membenci. Tidak ada kebaikan dalam kebencian.

Minimal, dalam situasi penuh kebencian ini, kita menjauhi para pembenci itu, memikirkan kembali ikatan-ikatan yang telah ada. Kita mesti melawan secara aktif kebencian yang disebarkan, agar spesies kita tidak punah karena kebencian.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *