Skip to main content

BEAUTYGRAPHY

Dalam diskusi tentang perempuan, isu-isu tentang keperempuanan, kecantikan, feminisme, lifestyle, fashion, hingga soal reproduksi adalah topik yang banyak dibicarakan.

Namun, jarang dan mungkin belum ada yang mendalami sisi lain soal isu perempuan yang berdasarkan lokasi, posisi, geografi.

Mungkin dalam perspektif maskulin, diskusi soal isu “lokasi” dan ruang tentang perempuan adalah hal menarik.

Saya mencoba menamainya “beautygraphy”. Saya coba googling soal kata “beautygraphy”, rata-rata isinya tentang produk kecantikan. Bukan membahas kecantikan berdasarkan geografi.

Beautygraphy dalam hemat saya (jika dikembangkan) adalah ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan, dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik perempuan dan gaya hidup berdasarkan ruang/lokasi tersebut.

Beautygraphy mencoba memetakan kecantikan perempuan berdasarkan peta, ruang dan lokasi geografis. Serta menjawab kenapa hanya daerah tertentu yang memiliki perempuan dengan kecantikan yang khas. Sekaligus mencoba mencari jawaban kenapa daerah lain tidak memiliki jumlah perempuan yang cantik dalam skala massif/umum.

Beautygraphy tidak hanya menjawab apa, dan di mana perempuan cantik di daerah tertentu, tapi juga mengapa di situ, dan tidak di tempat lainnya, kadang diartikan dengan “lokasi pada ruang.” Beautygraphy akan mempelajari hal ini, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia. Juga mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi itu.

Ada daerah tertentu yang memang memiliki jumlah perempuan cantik lebih banyak diatas daerah yang lain, baik karena alam maupun karena turunan/silsilah. Namun, ada juga daerah yang alam tidak mendukung, dari silsilah juga tidak, namun banyak memiliki perempuan yang cantik karena ada perubahan sosial yang terjadi di daerah itu. Perubahan sosial misalnya terjadi karena ada “keinginan kolektif” perempuan di daerah itu untuk menjadi cantik, misalnya memilih memutihkan diri dengan produk pemutih instan/kimia maupun yang organik.

Memang diskusi ini terasa “rasis”, namun ini adalah fakta sosial yang sedang terjadi dalam diskusi maskulin, maupun juga feminim.

Penting pula untuk mendalami ini agar bisa melihat sejauhmana serbuan produk-produk kecantikan, khususnya pemutih instan dan kimia, juga kosmetik lain yang bisa merusak tubuh.

Diskusi ini jelang Hari Ibu di 22 Desember nanti. Semoga bisa dikembangkan nanti.. 😊

NB : Saya pinjam foto om Riden Baruadi.. Perempuan Gorontalo yang pakai bada’a (bedak).

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *