Skip to main content

Reuni 212 dan Ancamannya

Aksi Bela Islam 212 yang menghadirkan jutaan massa umat Islam yang berkumpul dan bersatu dalam satu agenda dianggap banyak kalangan sebagai pemicu kebangkitan Islam Indonesia secara kolektif di era pasca Orde Baru.

Aksi Bela Islam yang dilaksanakan pada tahun lalu, tepatnya tanggal 2 Desember 2017 adalah rekor terbanyak manusia berkumpul pada sepanjang sejarah Nusantara ini didiami umat manusia. Dalam sejarah dunia, rekor terbanyak manusia berkumpul di seluruh dunia juga dipicu dan didorong oleh spirit agama seperti Kumb Mela di India (50 juta jiwa), Peringatan Wafatnya Sayyidina Husein RA ( 30 – 40 juta jiwa), peringatan Sayyidina Muza Al Kazhim (20 juta jiwa).

Aksi Bela Islam 212 dipicu oleh pernyataan Ahok yang kala itu menjabat sebagai GUbernur DKI Jakarta. Ahok “keseleo lidah” dalam mengomentari Al Maidah 51. Pernyataan inilah yang telah berhasil menyatukan banyak kalangan, aliran dan organisasi Islam di Indonesia yang selama ini begitu sulit mencari “titik temu”.

Sebelumnya, aksi bela Islam 212 dimulai oleh gerakan 411. Gerakan ini dimotori oleh GNPF MUI yang dikomandani oleh Habieb Rizieq Syihab, Ustad Bahtiar Nasir, Ustad Zaitun Rasmin dan banyak tokoh agama lainnya hingga membuat peta politik nasional goncang. Muaranya adalah usaha penjungkalan Ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta. Hasilnya, Ahok terbanting. Anies Baswedan pun lahir sebagai pemimpin baru Jakarta.

Aksi Bela Islam 212 setahun silam telah memberi warna baru dan wajah baru dalam perspektif politik dan nasional dan daerah hingga memicu perubahan sosial secara signifikan di tingkat lokal.

Pasca setahun setelah aksi 212, kini sementara disiapkan Reuni Aksi Bela Islam 212 yang rencananya akan dilaksanakan pada 2 Desember 2018. Rencana ini telah memberi ketidaknyamanan pada rezim Jokowi karena menganggap bahwa upaya reuni ini tidak lain sebagai tahapan konsolidasi umat Islam menjelang Pemilihan Presiden pada April 2019 nanti.

Harus diakui bersama bahwa jalinan gerakan 411, 212 hingga reuni 212 ini telah melahirkan barisan tokoh baru dan menjadi populer di mata umat Islam, sebagai contoh Habib Rizieq Syihab, Sayyid Bahar bin Smith, Ustad Abdus Somad, Ustad Bahtiar Nasir, Ustad Zaitun Rasmin. Deretan tokoh Islam ini awalnya terkenal hanya di kalangan tertentu saja, namun karena “berkat” berseberangan dengan Ahok lalu kemudian berseberangan dengan Jokowi, tokoh-tokoh ini ikut masyhur.

Fenomena gerakan Islam ini bisa dilihat dari perspektif yang lain, bahwa selain bisa menjadi instrumen kritik terhadap pemerintahan, gerakan ini ikut membidani lahirnya tokoh Islam yang dianggap heroik oleh sebagian besar umat Islam. Berbeda dengan periode sebelumnya, tokoh agama yang cukup populer dan dikenal umat Islam adalah Ustad Maulana, Mama Dedeh, Ustad Solmed dan ustad “seleb” lainnya, namun tidak mampu menggerakkan umat dalam militansi yang kuat.

Dalam survey yang dirilis oleh Lembaga Survey Indonesia milik Denny JA, popularitas tokoh Islam diatas kini memiliki pengaruh elektoral. Survey yang dilakukan pada tanggal 10 – 19 Oktober 2018 lalu menyebutkan bahwa sebear 51.7 % pemilih menyatakan sangat mendengarkan himbauan tokoh agama. Daftar tokoh agama yang dimaksud antara lain Ustad Abdus Somad misalnya disukai oleh 82,5 %, didengar 59.3 % dan diikuti oleh sebesar 30,2 %. Ustad Arifin Ilham akan diikuti 25.5 % pemilih, Ustad Yusuf Mansur 24 %, Aa Gym 23,5 % dan Habib Rizieq Syihab walaupun lebih banyak berada di Saudi Arabia namun tetap diikuti 17 % pemilih. Hasil survey ini menggambarkan bahwa tokoh agama kini menjadi faktor penting dalam Pemilihan Presiden di April 2019 nanti. Dari deretan tokoh tersebut, hampir sebagian yang tidak berafiliasi dengan Jokowi.

Hal ini cukup linier dengan hasil survey yang dirilis oleh Indikator. Indikator Politik Indonesia yang dikomandani Burhanudin Muhtadi mencatat tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mengalami penurunan berdasarkan hasil survei Februari hingga September 2018. Pada Februari 2018, elektabilitas Jokowi mencapai 61,8%. Sebulan kemudian, angkanya turun menjadi 60,6%. Elektabilitas Jokowi kembali melemah pada Juli 2018 sebesar 59,9% dan turun lagi menjadi 57% pada survei September lalu.

Yang teranyar adalah rilis survey dari Median yang diawaki Rico Marbun. Median menyebutkan bahwa beda hasil survey Jokowi dan Prabowo tinggal 12 %. Joko Widodo-Ma’ruf Amin mencapai 47,7%, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 35,5%. Jarak elektabilitas antara Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kemungkinan besar akan semakin tipis jika Reuni 212 akan melahirkan dentuman yang luar biasa dan bisa menghasilkan soliditas umat Islam yang lebih kuat.

Kini, kita akan menanti seperti apa yang akan terjadi pasca Reuni Aksi Bela Islam 212 dan bagaimana pengelolaan isu keumatan ini akankah bisa mengkonsolidasi pemilih Muslim sebagai bagian dari potensi elektoral saja, ataukah nanti ada agenda yang lebih strategis untuk umat Islam kedepan, seperti agenda ekonomi, sosial dan kepemudaan lainnya. Kita nantikan!

You may also like

2 thoughts on “Reuni 212 dan Ancamannya”

  1. Objectivenya dari tulisan ini, bagus. membuka mata, bahwa step strategi politik sampai Pemilu 2019 jelas klimaks dan indikasi hasil manuvernya melihat dari LS (netral). terus bermanuver sampai survey menyatakan ketimpangan dalam hasil. tapi sayang LS jarang yang netral ups.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *