Skip to main content

16 TAHUN POHUWATO ; KEMAJUAN DAN TANTANGAN

Pohuwato kini berusia 16 tahun. Usia ini bagi seorang manusia termasuk masa belajar dan transisi. Tetapi bagi sebuah daerah otonom baru, Pohuwato telah menunjukkan signifikansi yang sangat luar biasa. Sejak era Jahya K. Nasib, Zainudin Hasan hingga Syarif Mbuinga hari ini, Pohuwato adalah “remaja” territorial yang tumbuh cepat dan memiliki kehendak untuk maju dan berkembang lebih cepat dibandingkan yang lain.

Sebagai miniatur Indonesia, Pohuwato menjadikan tarikan nafas kesehariannya dengan semboyan bersatu dalam keragaman. Pohuwato yang memiliki keberagaman agama dan etnis yang dibuktikan dengan kehadiran etnis Minahasa, Jawa, Sangihe, Tomini, Nusa Tenggara Barat, Bali, Sunda, Bajo, dan berbagai macam etnis lainnya.

Pohuwato memiliki sumber daya yang signifikan alam, termasuk kayu, ikan, dan berbagai mineral. Dalam menghadapi fragmentasi geografis dan keragaman demografi dan biologi, capaian stabilitas ekonomi yang relatif sejak terbentuk hingga kini di usia 16 tahun, Pohuwato mencapai itu dengan baik.

Namun, masa depan itu terbuka, semua bisa menafsirkan, semua bisa memperkirakan. Masa depan Pohuwato pun seperti itu. Tinggal kemudian bagaimana membangun skenario masa depan agar nanti Pohuwato di era yang akan datang akan bisa dikelola dengan lebih baik.

Masa depan selalu memiliki sejumlah tantangan, untuk konteks Pohuwato tantangan yang kedepan akan dihadapi adalah pola demografi dan perubahan politik, perubahan ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang berkeadilan, erosi sistem nilai, gender, hukum, krisis lingkungan, pertanian dan perikanan, serta kebutuhan akan infrastruktur.

Pohuwato dalam beberapa dekade kedepan akan menghadapi beberapa tantangan antara lain : populasi, perubahan iklim, ketahanan pangan/air/energi, krisis keuangan/bencana alam, dan kesenjangan struktural/kultural. Di sisi lain, tantangan itu diperhadapkan pada global konsensus yang memuat ; penghapusan kemiskinan, pembangunan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif, peran swasta/pemuda/perempuan yang aktif, serta governance, global partnership, dan human develompment.

Tantangan Demografi

Indonesia termasuk Pohuwato sedang memasuki tahapan bonus demografi dalam proses transisi demografi yang sedang dijalankannya. Bonus demografi secara definitif ialah keuntungan ekonomi yang diakibatkan oleh menurunnya kelahiran jangka panjang. Pada transisi demografi, perubahan kondisi penduduk dari pertumbuhan penduduk yang rendah dengan tingkat fertilitas dan mortalitas yang tinggi menuju pertumbuhan penduduk yang rendah dengan tingkat fertilitas dan mortalitas yang rendah.

Secara proporsional jumlah penduduk muda Pohuwato lebih besar dibandingkan dengan daerah lainnya. Ini merupakan potensi untuk mengisi kekurangan angkatan kerja di daerah lain yang sudah mengalami penuaan penduduk (aging population). Pada kondisi ini, Pohuwato akan memasuki fase window of opportunity (jendela kesempatan). Artinya, jika jumlah penduduk produktif yang lebih besar porsinya dan dapat dioptimalkan untuk mengakumulasi pertumbuhan dan perkembangan kesejahteraan secara ekonomi, maka perolehan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa di masa depan melalui saving yang dilakukan.

Fase antara tahun 2025-2035 memang masih sebatas perkiraan demografer, Pohuwato akan termasuk dalam lingkaran bonus tersebut. Tetapi, prasyarat pentingnya adalah bagaimana kualitas penduduk Pohuwato produktif di fase tersebut itu memenuhi syarat bagi pertumbuhan ekonomi yang bermutu? Apakah ada jaminan, pada tahun-tahun itu, kita memiliki skenario untuk untuk mengelola kualitas penduduk yang berbasis pada pendidikan, kesehatan dan ruang produktif bagi masyarakat yang lebih terjamin? Pohuwato harus bisa memfasilitasi kelompok usia produkti pada tahun 2025 dengan pendidikan yang tinggi, sehingga peluang rentang hidup masyarakat bisa dimanfaatkan.

Karenanya, skenario yang harus dibangun antara lain; penduduk usia muda yang akan meledak jumlahnya itu harus mempunyai pekerjaan produktif dan memiliki tabungan. Tabungan tersebut dapat diinvestasikan untuk menciptakan lapangan kerja produktif lainnya. Selain itu, menarik investasi untuk meningkatkan modal manusia agar dapat memanfaatkan momentum jendela peluang yang akan datang. Terakhir, mengkondisikan lingkungan yang memungkinkan perempuan aktif pasar kerja.

Tantangan Perubahan Iklim

Pohuwato adalah daerah yang yang paling kaya secara biologis di Gorontalo. Kekayaan itu terlihat secara visual pada sumber daya alam yang melimpah, kekayaan laut dan cadangan oksigen yang masih terjaga.

Namun, terkait dengan kondisi lingkungan hari ini, 16 tahun terakhir proporsi terumbu karang yang rusak telah terdegradasi dari 10 sampai 50 persen. Di sisi lain, tutupan hutan semakin berkurang, begitu pula untuk hutan bakau yang berada di sepanjang pesisir Pohuwato.

Kondisi ini jika tetap dibiarkan hanya akan membawa Pohuwato ke jurang masa depan tanpa cadangan sumber daya alam yang bisa disisakan bagi anak cucu. Pembangunan ekonomi baik itu kebijakan Pemerintah Pusat hingga daerah telah memposisikan lingkungan sebagai sumber utama untuk meningkatkan basis produksi.

Bertolak dari realitas yang timpang seperti diatas, model green economy menjadi alternatif penting dalam pembangunan ekonomi. Model green economy menjadi praktik yang spektakuler dalam menggerakkan perekonomian yang rendah karbon (low carbon economy).

Tujuan lain dari pada itu adalah untuk menghubungkan saling ketergantungan antara ekonomi dan ekosistem serta dampak negatif akibat aktivitas ekonomi termasuk perubahan iklim dan pamanasan global. Pada tingkat yang lebih riil, mulai tumbuh upaya kultural dari modernisasi ekologi.

Pohuwato sebagai kabupaten yang memiliki potensi ekologis tinggi, menjadi harapan sekaligus pintu darurat ekonomi hijau di masa akan datang. Kebijakan publik kedepan yang dirumuskan semestinya lebih mendekatkan pada aspek ekologis, karena lebih menjamin masa depan Pohuwato.

Tantangan Ketahanan Pangan

Pohuwato memiliki kekayaan yang sangat luar biasa. Level dimensinya berada pada tiga hal; posisi geografis yang strategis, sumber daya alam sebagai faktor produksi, dan heterogenitas etnis serta keindahan alam.

Sebagai jangkar Tomini, Pohuwato mewarnai cukup penting perdagagan dan sirkulasi ekonomi di kawasan tersebut. Dalam rangka itu, penguatan dalam hal pangan dan energi menjadi hal yang sangat pas. Kepemilikan pangan menjadi hal yang sangat penting untuk mencapai Pohuwato yang maju, modern, dan kompetitif pada tahun 2030, karena memiliki dua dimensi penting: pangan sebagai konsumsi dan pangan sebagai input produksi.

Sebagai lumbung pangan Gorontalo, ketersediaan yang mencukupi kebutuhan rakyat harus merata, juga harus bisa memenuhi kebutuhan hidup yang sehat bagi rakyat. Di level konsumsi, diversifikasi menjadi sangat urgen. Hal ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat dan produk pangan mendapat harga yang sesuai.

Pangan memiliki hubungan yang begitu erat dengan pembangunan industri hulu, seperti industri input dan peralatan pertanian, maupun industri hilir beserta pemasaran dan perdagangannya. Dalam hal yang lebih rigid, standardisasi, peningkatan kualitas, kemasan, dan pengolahan akan menjadi komponen penting dalam produksi pangan. Pohuwato memiliki infrastruktur penting dalam hal ini kemungkinan dibangunnya pelabuhan yang besar.

Infrastruktur itu pada saatnya nanti akan menjadi jangkar ekonomi bagi kawasan Tomini dan sekitarnya. Industri pangan ini tentu jika berjalan dengan baik, akan memberi kontribusi pada pendapatan daerah, kebutuhan tenaga kerja, maupun pengurangan angka kemiskinan.

Kondisi diatas membutuhkan prasyarat penting, yang itu mesti diambil alih oleh pemimpin Pohuwato sekarang dan akan datang. Prasyarat pemimpin Pohuwato yang bisa mewujudkan itu yakni memiliki visi yang maju, punya kemampuan untuk mengelola tata pemerintahan yang yang baik, visi yang jelas, memiliki kehandalan dalam eksekusi kebijakan yang cepat dan tepat di lapangan, serta kehandalan efektivitas kepemimpinan dan kelembagaan yang kuat.

Semoga Pohuwato nanti menjadi daerah yang terberkati, dilindungi dan dijaga olehNya, baik di masa sekarang dan masa akan datang.

You may also like

5 thoughts on “16 TAHUN POHUWATO ; KEMAJUAN DAN TANTANGAN”

  1. Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Tantangan internal lainnya terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sumberdaya manusia usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *